Fenomena alam El Nino kuat yang sedang berkembang di Samudra Pasifik diprediksi berpotensi mengubah pola curah hujan monsun global secara drastis mulai awal Juni 2026. Perubahan sirkulasi udara akibat memanasnya suhu permukaan laut ini mengancam ketahanan pangan serta berisiko memicu bencana kekeringan, kebakaran, hingga banjir ekstrem di berbagai belahan dunia.
Siklus cuaca yang berulang setiap dua hingga tujuh tahun ini menggeser aliran kelembapan atmosfer bumi. Dampak pemanasan laut tersebut meluas ke luar Pasifik dan diperkirakan para ilmuwan dapat mencetak rekor tahun terpanas di tingkat global.
Sistem prakiraan modern saat ini membantu dunia bersiap lebih awal, meskipun pemotongan anggaran bantuan kemih dan perkembangan politik mempersulit respons beberapa negara rentan. Berdasarkan data historis yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 2023, kerugian ekonomi global akibat El Nino 1982-1983 mencapai 4,1 triliun dolar AS, sedangkan peristiwa 1997-1998 menelan biaya hingga 5,7 triliun dolar AS.
Kepala cabang prediksi operasional di Pusat Prediksi Iklim NOAA, Jon Gottschalck menjelaskan bahwa kondisi alam sebelum musim monsun sangat memengaruhi kekuatan dampaknya.
"What happened in the winter and into the spring is actually just as important—if not more important—than the monsoon season itself," kata Jon Gottschalck, chief of the operational prediction branch at the National Oceanic and Atmospheric Administration’s Climate Prediction Center.
Kondisi kering tanpa salju di wilayah Barat Daya Amerika Serikat justru mempercepat pemanasan daratan yang berpotensi memicu sirkulasi monsun yang sangat kuat di wilayah tersebut.
"Since it was so dry and there’s no snow, the land is likely going to be heating up quicker, more intensely," ujar Jon Gottschalck.
Pemanasan yang diperkirakan terjadi di seluruh wilayah cekungan Pasifik ini akan berdampak langsung pada sistem monsun di India, Indonesia, hingga Afrika Barat.
"Right now it looks like it’s going to be basin-wide event," tutur Jon Gottschalck.
Ketidakpastian cuaca akibat monsun yang tidak menentu ini meningkatkan risiko besar bagi pengelolaan sumber daya air dan sektor pertanian dunia.
"If you have rainfall that you can expect to continue over the whole season, all your options remain open," kata Jon Gottschalck.
Ketidakpastian ini berpotensi merusak tanaman di akhir musim atau menunda masa tanam akibat banjir besar di awal musim.
"When there’s a more erratic monsoon, it really increases a tremendous uncertainty in the water resource and agricultural management," jelas Jon Gottschalck.
Kerusakan panen global terbesar dalam sejarah modern tercatat pernah terjadi pada tahun 1983 akibat melemahnya monsun yang terkait dengan El Nino.
"It’s going to be a very rough period," ujar Jon Gottschalck.
Dampak negatif yang signifikan diperkirakan akan melanda banyak wilayah monsun tropis di seluruh penjuru bumi.
"Right now it looks like there will be considerable negative impacts in many of the tropical monsoon regions across the globe," kata Jon Gottschalck.
Asisten profesor dari City College of New York, Spencer A. Hill menyatakan bahwa interaksi antara El Nino dan monsun merupakan perebutan kendali atas penumpukan kelembapan di langit.
"way too much rainfall could be devastating," kata Spencer A. Hill, seorang asisten profesor dari City College of New York.
Menurut penelitian Spencer A. Hill, meskipun total curah hujan di India menurun saat El Nino, peristiwa hujan ekstrem justru mengalami peningkatan yang berisiko menyebabkan tanah longsor dan banjir bandang.
Peneliti dari Sekolah Iklim Universitas Columbia, Andrew Kruczkiewicz menambahkan bahwa peningkatan akurasi prediksi membantu organisasi kemanusiaan seperti Palang Merah dan Bulan Sabit Merah dalam menyalurkan bantuan pangan lebih awal ke wilayah rawan.