Teddy Indra Wijaya Sindir Masa Jabatan Dino Patti Djalal Usai Dikritik

Teddy Indra Wijaya Sindir Masa Jabatan Dino Patti Djalal Usai Dikritik

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memberikan tanggapan terkait kritik yang dilayangkan oleh pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal. Kritik tersebut awalnya ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai frekuensi perjalanan ke luar negeri.

Seperti diberitakan oleh Medcom, respons dari Teddy Indra Wijaya menjadi sorotan publik. Hal ini dikarenakan ia membuka penjelasannya dengan menyindir masa dinas Dino Patti Djalal saat menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri.

Dino Patti Djalal sebelumnya menyampaikan kritik melalui akun Instagram resmi miliknya, @dinopattidjalal. Ia menyoroti intensitas kunjungan internasional Presiden Prabowo Subianto yang dinilai terlalu tinggi sejak resmi menjabat.

Menurut kalkulasi Dino Patti Djalal, satu dari setiap enam hari kerja Presiden Prabowo Subianto dihabiskan di luar negeri. Ia memandang pola perjalanan tersebut tidak lazim dan mengimbau agar frekuensinya segera dikurangi demi mendengarkan aspirasi publik.

"Kami mengimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini," kata Dino dikutip, Selasa, 2 Juni 2026.

Teddy Indra Wijaya kemudian merilis video berdurasi 6 menit 54 detik untuk meluruskan persoalan tersebut. Di awal rekaman, ia langsung menyinggung rekam jejak karier Dino Patti Djalal di kementerian luar negeri.

"Karena saya dimention oleh Pak Dubes Dino, saya mau meluruskan beberapa hal. Sebelumnya terima kasih atas masukan yang telah diberikan. Sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat pernah menjadi wakil menteri luar negeri walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan," kata Teddy.

Berdasarkan data dari situs diaspora.id, Dino Patti Djalal merupakan salah satu figur diplomasi yang memiliki pengaruh besar di Indonesia. Tokoh yang lahir di Beograd, Yugoslavia pada 10 September 1965 ini merupakan putra dari seorang diplomat senior.

Pendidikan tinggi Dino Patti Djalal ditempuh di beberapa universitas luar negeri. Ia mengantongi gelar sarjana dari Carleton University di Kanada, gelar magister dari Simon Fraser University, serta gelar Doktor dari London School of Economics di Inggris.

Karier di Departemen Luar Negeri dimulainya sejak tahun 1987. Nama Dino Patti Djalal mulai dikenal luas oleh publik ketika ia ditunjuk menjadi juru bicara pemerintah saat pelaksanaan Referendum Timor Timur pada tahun 1999.

Ia kemudian dipercaya menjadi Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bidang Urusan Internasional sekaligus juru bicara presiden. Dino Patti Djalal juga sempat mengemban tugas sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat pada periode 2010 hingga 2013.

Atas kontribusi dan dedikasinya dalam dunia diplomasi, ia menerima penghargaan Bintang Jasa Utama dan Bintang Mahaputra Adipradana. Jabatan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia diembannya mulai 14 Juli 2014 hingga 20 Oktober 2014 untuk menggantikan Wardana.

Selepas dari birokrasi, Dino Patti Djalal mendirikan FPCI yang bergerak sebagai komunitas kebijakan luar negeri. Ia juga aktif menginisiasi program Supermentor, Kongres Dunia Diaspora, gerakan kemanusiaan 1000 Abrahamic Circles, serta menulis 11 judul buku.

Artikel terkait

Rekomendasi