Tembok bagian belakang SDN 08 Tebet Barat, Jakarta Selatan, ambruk pada Senin (4/5/2026) sekitar pukul 22.00 WIB setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras. Peristiwa ini menambah daftar panjang kerusakan infrastruktur sekolah di ibu kota, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Material tembok yang runtuh dilaporkan menimpa kabel listrik, menutup akses jalan warga, serta menyumbat saluran air di sekitar lokasi. Petugas gabungan mulai melakukan evakuasi dengan mengangkut puing-puing ke dalam karung pada Selasa pagi guna memulihkan fungsi jalan dan drainase.
“Tembok roboh akibat curah hujan tinggi,” kata Kepala Satpol PP Jakarta Selatan Nanto Dwi Subekti.
Hasil penilaian awal di lapangan menunjukkan bahwa faktor usia bangunan menjadi penyebab utama lemahnya struktur pembatas sekolah tersebut. Kepala Satgas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Selatan Kendar mengungkapkan bahwa pondasi tembok telah mengalami pengikisan.
“Dari hasil assessment tembok tersebut usia bangunan sudah tua dan lapuk serta bagian bawah tembok terkikis air,” jelas Kendar.
Kerusakan ini berdampak langsung pada lima petak bangunan sekolah yang selama ini digunakan untuk operasional kantin. Kejadian serupa sebelumnya juga menimpa SMP Negeri 182 Jakarta di Kalibata pada Minggu (15/2/2026) pagi akibat ketidakstabilan struktur tanah.
“Penyebab tembok roboh karena struktur tanah tidak stabil atau tanah urukan,” kata Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Aji.
Kapolsek Pancoran Kompol Mansur menyebutkan bahwa kondisi pagar di SMPN 182 tersebut sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan sebelum akhirnya benar-benar ambruk sepanjang 65 meter.
“Memang awalnya pagar tersebut sudah miring, dan sudah diberikan surat pemberitahuan dari lingkungan,” kata Mansur.
Rentetan peristiwa ini mengingatkan publik pada tragedi di MTsN 19 Jakarta, Pondok Labu, yang terjadi pada Kamis (6/10/2022). Saat itu, luapan air yang tak tertahan mengakibatkan tembok roboh dan merenggut nyawa tiga orang siswa.
“Jadi posisi ini sangat rendah, jadi semua air mengalir ke tempat rendah,” kata Wali Kota Jakarta Selatan saat itu, Munjirin.
Edison, seorang guru di sekolah tersebut, memberikan kesaksian mengenai detik-detik runtuhnya tembok pembatas yang terjadi di tengah guyuran hujan lebat sore hari.
“Roboh tembok ada dua. Pertama tembok pembatas sekolah dengan permukiman warga, terus menimpa tembok panggung,” ujar Edison.
Ia menambahkan bahwa para siswa yang menjadi korban saat itu sedang berada di area terbuka dekat lokasi kejadian.
“Mereka lagi pada di balik tembok panggung itu. Semua korban yang tertimpa itu laki-laki. Tiga meninggal dunia,” kata dia.
Isnawa Aji menilai tekanan dari luapan air gorong-gorong menjadi faktor pemicu utama ambruknya tembok di MTsN 19 tersebut.
“Kejadian bermula saat hujan deras menyebabkan air gorong-gorong meluap dan menggenangi area sekolah MTsN 19,” ujarnya.
Menteri Agama periode tersebut, Yaqut Cholil Qoumas, menyatakan bahwa langkah renovasi total merupakan keharusan mengingat risiko geografis lokasi sekolah yang berada di area cekungan.
“Saya kira iya (direnovasi total), tidak ada pilihan ya, posisi (sekolah) seperti ini,” ujar Yaqut.
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji mengkritik keras kualitas infrastruktur pendidikan yang dinilai tidak kunjung membaik meski anggaran tersedia melimpah.
"tentu saja Ini bukan kejadian pertama, dan yang memuakkan adalah mengapa ini terus terulang. Jakarta ini pusat kekuasaan, pusat anggaran, tapi mengapa kualitas infrastruktur sekolah belum menjamin keamanan bagi anak-anak," kata Ubaid.
Pihaknya menegaskan bahwa faktor cuaca tidak boleh dijadikan dalih tunggal atas kegagalan konstruksi bangunan sekolah yang seharusnya melindungi para siswa.
"Hujan deras itu fenomena alam yang rutin terjadi di jakarta, tentu tidak bisa dijadikan alasan pembenar bagi tembok yang roboh. Jika tembok sekolah roboh hanya karena hujan, berarti ada yang salah dengan kualitas konstruksi, atau patut diduga ada pemeliharaan dan pengawasan yang korup," tutup Ubaid.