Sebanyak 663.000 anak usia sekolah di Indonesia terdeteksi mengalami peningkatan tekanan darah berdasarkan temuan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Data tersebut dihimpun Kementerian Kesehatan sejak 1 Januari hingga 3 Mei 2026 melalui skrining terhadap 4,8 juta anak di 48.000 sekolah seluruh Indonesia.
Dilansir dari Nasional, Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI Muhammad Qodari memaparkan rincian temuan tersebut dalam konferensi pers di Jakarta Pusat pada Rabu, 6 Mei 2026. Selain masalah tekanan darah, laporan kesehatan ini mencatat angka gigi berlubang yang cukup tinggi di kalangan pelajar.
"Hasilnya sebanyak 41 persen atau 1,1 juta anak mengalami gigi berlubang. Sebanyak 22,1 persen atau 663.000 anak mengalami peningkatan tekanan darah," kata Qodari dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).
Merespons temuan tersebut, Qodari menilai kondisi hipertensi pada kelompok usia anak merupakan situasi yang tidak biasa dalam lingkup kesehatan masyarakat. Ia memberikan perhatian khusus terhadap pergeseran tren penyakit ini.
"Waduh, anak-anak sudah mulai darah tinggi ya? Fenomena baru ini, anak-anak sudah darah tinggi," sebutnya.
Qodari menegaskan bahwa data krusial ini hanya bisa didapatkan melalui pelaksanaan program pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh di lingkungan pendidikan. Tanpa adanya CKG, masalah kesehatan serius pada anak ini kemungkinan besar tidak akan terdeteksi sejak dini.
"Saya pribadi terus terang terkejut juga, sekarang darah tinggi itu sudah melanda anak sekolah. Ini kalau enggak buka CKG, enggak tahu," tuturnya.
Menindaklanjuti temuan lapangan tersebut, pemerintah berencana melakukan tinjauan teknis untuk menemukan faktor utama pemicu hipertensi pada anak. Hal ini dinilai mendesak untuk mencegah dampak buruk pada organ vital lainnya.
"Artinya sudah harus ada suatu analisis yang lebih mendalam, kok anak-anak kita sudah mulai darah tinggi. Tekanan darah tinggi ini kalau terus berlanjut berujung pada gangguan jantung," imbuh dia.
Data tersebut juga mencatat sebanyak 8,6 persen atau sekitar 239.000 anak memiliki tumpukan kotoran telinga yang mengganggu fungsi pendengaran. Qodari menekankan pentingnya sistem skrining rutin di sekolah untuk memetakan tantangan kesehatan utama siswa.
"Temuan-temuan ini mencerminkan tiga masalah kesehatan terbesar yang ditemukan pada anak usia sekolah. Data tersebut menjadi bukti nyata betapa pentingnya skrining sistematik di lingkungan sekolah," ucapnya.
Keberhasilan program ini menurut Qodari tidak hanya diukur dari statistik semata, melainkan dari manfaat jangka panjang bagi perkembangan fisik anak. Pencegahan yang terlambat dikhawatirkan dapat menghambat kemampuan belajar para siswa.
"Deteksi dini memungkinkan penanganan lebih cepat untuk berbagai masalah kesehatan. Masalah kesehatan mulai dari gigi berlubang, gangguan pendengaran, hingga tekanan darah tinggi sebelum berdampak pada proses belajar dan tumbuh kembang," imbuhnya.