Evaluasi terhadap fasilitas dan pelayanan bagi jemaah haji lanjut usia (lansia) yang dinilai masih kurang ramah terus digulirkan demi kenyamanan beribadah. Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR Rieke Diah Pitaloka mendorong peningkatan mutu layanan tersebut pada Kamis (21/5/2026), sebagaimana dilansir dari Nasional.
Sejumlah temuan di lapangan menunjukkan keterbatasan aksesibilitas bagi jemaah lansia, mulai dari aspek akomodasi hingga penanganan medis. Berdasarkan pemantauan Timwas Haji DPR, ketersediaan alat bantu penunjang dan infrastruktur ramah lansia di pemondokan masih minim.
"Satu, fasilitas lansia di hotel. Kursi roda, pegangan di kamar mandi, dan akses pintu yang ramah lansia masih terbatas. Beberapa hotel belum memiliki ramp yang memadai," ujar Rieke Diah Pitaloka, Anggota Timwas Haji DPR.
Selain infrastruktur penginapan, sorotan juga diarahkan pada efisiensi waktu pelayanan di fasilitas kesehatan darurat. Penumpukan antrean pasien di lokasi tersebut memerlukan respons cepat berupa penambahan personel medis pada masa-masa krusial.
"Antrean pemeriksaan masih panjang, terutama pada jam sibuk. Jumlah tenaga medis perlu ditambah saat puncak kedatangan," ujar Rieke Diah Pitaloka, Anggota Timwas Haji DPR.
Masalah lain yang diidentifikasi adalah hambatan birokrasi penanganan medis ketika jemaah membutuhkan perawatan lanjutan di fasilitas kesehatan setempat. Akselerasi administrasi dinilai sangat krusial mengingat kondisi darurat sering dihadapi jemaah lansia, ditambah dengan perlunya pemerataan sosialisasi pencegahan penyakit.
"Empat, edukasi kesehatan kepada lansia. Sosialisasi pencegahan dehidrasi dan kelelahan masih belum merata, terutama bagi jemaah dengan keterbatasan bahasa," ujar Rieke Diah Pitaloka, Anggota Timwas Haji DPR.
Di samping catatan kritis tersebut, apresiasi tetap diberikan terhadap beberapa aspek operasional yang menunjukkan performa positif pada musim haji kali ini. Salah satu pencapaian yang disoroti adalah penyediaan pemondokan berkualitas tinggi bagi jemaah reguler di area strategis serta efisiensi dokumen keimigrasian di bandara.
"Sebelumnya hanya untuk jemaah khusus. Ini lompatan signifikan," ujar Rieke Diah Pitaloka, Anggota Timwas Haji DPR.
Kelancaran juga terlihat pada skema pergerakan jemaah untuk mengurai massa di titik krusial serta ketepatan waktu armada transportasi yang didukung kesiapsiagaan para petugas di lapangan.
"Tiga, program Murur dan Tanazul. Kebijakan ini efektif mengurangi kepadatan di Muzdalifah dan melindungi jemaah lansia serta risiko tinggi," ujar Rieke Diah Pitaloka, Anggota Timwas Haji DPR.
"Empat, transportasi. Bus antarkota, bus shalawat 24 jam, dan bus masyair beroperasi sesuai jadwal dengan petugas yang sigap.," ujar Rieke Diah Pitaloka, Anggota Timwas Haji DPR.