Trump Desak Tiongkok Tekan Iran Buka Selat Hormuz

Trump Desak Tiongkok Tekan Iran Buka Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing pada 14 hingga 15 Mei 2026 guna mendesak Tiongkok menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz. Pertemuan tingkat tinggi ini dilakukan di tengah buntunya negosiasi damai antara Washington dan Teheran yang memicu lonjakan harga energi global.

Para analis menilai Beijing kemungkinan besar akan meminta konsesi terkait kebijakan Amerika Serikat terhadap Taiwan sebagai imbalan atas bantuan diplomatik di Timur Tengah. Dilansir dari The New York Times, posisi Tiongkok sebagai importir utama minyak Iran membuat Beijing memiliki kepentingan ekonomi sekaligus posisi tawar strategis dalam konflik ini.

Christopher Heurlin, profesor madya bidang pemerintahan dan studi Asia di Bowdoin College, memberikan pandangannya mengenai fokus utama dalam pertemuan bilateral tersebut.

"Masalah Iran sebenarnya bukanlah isu sentral bagi kedua pihak dalam KTT ini," kata Christopher Heurlin, profesor madya bidang pemerintahan dan studi Asia di Bowdoin College.

Heurlin menjelaskan bahwa fokus Beijing akan tetap pada isu kedaulatan wilayah, sementara Trump memiliki agenda ekonomi domestik lainnya.

"Dalam hal Iran, Tiongkok telah memposisikan diri sebagai pihak yang mungkin dapat membantu dalam hal ini," kata Heurlin.

Pihak Tiongkok sebelumnya telah berkomunikasi dengan perwakilan Teheran namun dinilai masih menahan langkah diplomatik mereka.

"Mereka baru-baru ini menjamu menteri luar negeri Iran, tetapi tampaknya mereka menahan diri untuk tidak memberikan tekanan apa pun kepada Iran untuk mengakhiri konflik, hanya menunggu kunjungan ini," ujar Heurlin.

Kondisi Trump di dalam negeri saat ini sedang tertekan akibat inflasi dan merosotnya popularitas, yang diperparah oleh kegagalan inisiatif militer di selat tersebut awal bulan ini. Iderjeet Parmar dari City St George’s, Universitas London, menyebut Trump berada dalam posisi sulit.

"Jangan pernah mengganggu musuhmu ketika dia sedang melakukan kesalahan," tulis majalah The Economist dalam sampul depannya bulan lalu.

Pakar politik internasional melihat adanya ketergantungan yang saling tumpang tindih antara kebutuhan energi Tiongkok dan kepentingan politik Amerika Serikat.

"Jadi Trump pergi ke sana dalam situasi yang agak sulit," kata Parmar.

Tiongkok membutuhkan stabilitas jalur pasokan minyak, namun stabilitas itu kini menjadi alat negosiasi yang kuat.

"Dia membutuhkan dukungan Tiongkok untuk membuka Selat Hormuz. Tiongkok membutuhkan Selat Hormuz untuk dibuka karena alasan mereka sendiri – minyak dan energi dari Iran dan sebagainya. Pada saat yang sama, mereka dapat menggunakan ini sebagai pengaruh terkait Taiwan," imbuh Parmar.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent secara terbuka mendesak Tiongkok untuk berhenti mendukung ekonomi Iran dan mulai melakukan intervensi diplomatik.

"Serangan dari Iran telah menutup selat tersebut. Kita sedang membukanya kembali. Jadi saya mendesak Tiongkok untuk bergabung dengan kami dalam mendukung operasi internasional ini," kata Bessent.

Pemerintah AS menuduh Tiongkok mendanai kegiatan yang mengganggu stabilitas kawasan melalui pembelian minyak besar-besaran.

"Mari lihat mereka meningkatkan diplomasi dan meminta Iran untuk membuka selat tersebut," katanya.

William Yang, analis senior International Crisis Group, mencatat adanya perbedaan mendasar dalam metode yang digunakan oleh kedua kekuatan ekonomi dunia tersebut.

"Washington memahami bahwa mereka mungkin membutuhkan bantuan Beijing untuk mendorong Iran kembali ke meja perundingan, tetapi mereka juga menyadari implikasi dari mencari dukungan langsung dari Beijing untuk mengakhiri blokade, karena kemungkinan besar akan memberi Tiongkok keunggulan dalam hubungan bilateral," kata Yang.

Menurutnya, Trump tetap berusaha menggunakan ancaman militer sebagai alat tekan utama terhadap Teheran.

"Akibatnya, Trump telah berupaya mendorong Iran untuk menerima syarat-syarat yang diajukan AS melalui paksaan, mengancam akan melanjutkan pengeboman jika Teheran tidak menyetujui persyaratannya," ujar Yang.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok menekankan pentingnya solusi politik dan penghormatan terhadap kedaulatan Iran dalam menangani krisis ini.

"Tiongkok percaya bahwa gencatan senjata komprehensif sangat mendesak, bahwa melanjutkan permusuhan bahkan kurang dapat diterima, dan bahwa mematuhi negosiasi sangat penting," kata Kementerian Luar Negeri Beijing.

Pihak Beijing menegaskan dukungannya terhadap posisi Iran dalam menjaga keamanan nasionalnya sembari tetap meminta pemulihan jalur navigasi internasional.

"Tiongkok mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasionalnya, dan menghargai kesediaan Iran untuk mencari solusi politik melalui jalur diplomatik," imbuh pernyataan itu.

Artikel terkait

Rekomendasi