Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi kritis pada Senin (11/5/2026) setelah Teheran mengajukan proposal balasan untuk mengakhiri permusuhan. Trump menolak tawaran tersebut dan menyebutnya sebagai penghambat kemajuan diplomasi sebelum pertemuannya dengan pemimpin Tiongkok Xi Jinping.
Harga minyak dilaporkan terus merangkak naik menyusul penolakan Trump terhadap persyaratan terbaru Iran yang memicu kekhawatiran eskalasi konflik lebih lanjut. Penutupan Selat Hormuz yang terus berlanjut menjadi perhatian utama karena jalur logistik energi vital tersebut masih belum beroperasi secara normal.
Ketegangan ini semakin diperumit oleh laporan dari Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa Uni Emirat Arab melakukan serangan militer ke kilang minyak di Pulau Lavan, Iran, pada awal April. Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS menawarkan imbalan hingga 15 juta dolar AS untuk informasi yang dapat mengganggu mekanisme keuangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Kritik tajam datang dari pihak Iran mengenai posisi tawar Washington dalam negosiasi yang sedang berlangsung. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa proposal mereka ditujukan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz secara adil.
"reasonable" ujar Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.
Baghaei menambahkan bahwa dokumen tersebut disusun secara matang namun pihak Amerika Serikat tetap mempertahankan tuntutan yang sepihak. Ia menilai klaim kedaulatan Iran atas Selat Hormuz merupakan bagian dari hak yang sah.
"generous" kata Esmaeil Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump menunjukkan rasa frustrasinya terhadap jalannya negosiasi yang dianggap tidak menunjukkan kemajuan berarti. Trump bahkan secara terbuka mengecam kualitas proposal yang diajukan oleh pemerintah Iran dalam beberapa hari terakhir.
"massive life support" ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Trump juga menyoroti adanya perpecahan dalam kepemimpinan Iran yang menghalangi konsesi substansial pada pembicaraan nuklir. Ia merasa Teheran tidak memiliki posisi negosiasi yang serius untuk menyelesaikan kebuntuan ini.
"totally unacceptable" kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Menurut laporan CNN, beberapa pembantu senior di Gedung Putih mulai mempertimbangkan kembali opsi operasi tempur besar-besaran jika diplomasi gagal. Trump sendiri menyebut tawaran Iran tersebut dengan istilah yang sangat merendahkan.
"stupid" ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pernyataan serupa dipertegas dalam pembaruan terkini yang disiarkan France 24, di mana Trump menekankan rapuhnya kondisi kesepakatan saat ini. Ia kembali mengecam keras substansi dari dokumen tawaran balasan yang dikirimkan oleh pihak Teheran.
"unbelievably weak" kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Dalam kesempatan yang sama, Trump menolak mentah-mentah isi dari dokumen tersebut yang dianggapnya tidak memiliki nilai diplomatis. Hal ini memperkecil peluang kesepakatan sebelum keberangkatannya ke Beijing pada Selasa sore.
"garbage" ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Penasihat pemimpin tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, memberikan peringatan keras kepada Trump agar tidak salah mengartikan ketenangan saat ini sebagai sebuah kemenangan. Melalui kantor berita Tasnim, Velayati mengklaim bahwa Iran telah memenangkan konfrontasi fisik sebelumnya.
"Mr. Trump, never imagine that by taking advantage of Iran’s current calm, you will be able to enter Beijing triumphantly" kata Ali Akbar Velayati, Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran.
Velayati menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan AS merasa menang dalam jalur diplomasi setelah apa yang terjadi di lapangan. Penegasan ini muncul di tengah laporan bahwa AS dan Iran sempat saling melepaskan tembakan di Selat Hormuz sejak gencatan senjata berlaku.
"We defeated you on the “battlefield”; so never think that you will emerge victorious in diplomacy as well" ujar Ali Akbar Velayati, Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran.
Alan Eyre, mantan negosiator Departemen Luar Negeri AS era Obama, memberikan perspektif bahwa mendapatkan kesepakatan saat ini jauh lebih sulit dibandingkan tahun 2015. Ia mencatat adanya perbedaan antara narasi publik dengan kenyataan mendasar dari kedua belah pihak.
"either miscommunication or fabrication" kata Alan Eyre, Mantan Negosiator Departemen Luar Negeri AS.
Eyre juga meragukan klaim bahwa Iran bersedia mengekspor seluruh uranium yang diperkaya tinggi ke Amerika Serikat. Menurutnya, kepemimpinan Iran saat ini jauh lebih radikal dibandingkan masa lalu.
"unbelievable" ujar Alan Eyre, Mantan Negosiator Departemen Luar Negeri AS.
Selain itu, isu Selat Hormuz kini menjadi variabel baru yang membuat negosiasi menjadi sangat kompleks. Eyre menekankan bahwa hambatan dalam administrasi Iran saat ini membuat jalan menuju kesepakatan menjadi sangat terjal.
"much much tougher to get a deal now with this Iranian administration" kata Alan Eyre, Mantan Negosiator Departemen Luar Negeri AS.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan kesiapan negaranya menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Di sisi internasional, Inggris dan Prancis dijadwalkan akan menjamu pertemuan menteri pertahanan pada Selasa untuk membahas rencana militer guna memulihkan aliran perdagangan melalui Selat Hormuz.
"for any eventuality" ujar Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga memberikan tekanan tambahan dengan menyatakan bahwa perang tidak akan berakhir sampai stok uranium Iran disingkirkan sepenuhnya. Hingga saat ini, Amerika Serikat terus mencari informasi terkait sumber pendapatan IRGC dan cabang-cabangnya, termasuk Pasukan Qods, untuk menekan ekonomi Teheran.
"taken out" kata Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
"for information leading to the disruption of the financial mechanisms" ujar Juru Bicara, Departemen Luar Negeri AS.
"on the sources of revenue for the IRGC, IRGC-(Qods Force), its branches or its key financial facilitation mechanisms" kata Juru Bicara, Departemen Luar Negeri AS.
"how the IRGC is transferring funds and materials to its terrorist and militia proxies and partners" ujar Juru Bicara, Departemen Luar Negeri AS.