Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeklaim adanya kesamaan pandangan dengan Presiden China Xi Jinping mengenai konflik bersenjata antara AS-Israel di Iran. Kesepahaman tersebut mencakup penolakan terhadap kepemilikan senjata nuklir oleh pemerintah Iran.
Pernyataan itu disampaikan Donald Trump setelah menyelesaikan kunjungan kenegaraan di Beijing, China, pada Jumat (15/5/2026). Sebagaimana dilansir dari Kompas, kedua pemimpin negara tersebut sempat berdiskusi mengenai situasi Timur Tengah saat berkeliling di Kompleks Zhongnanhai.
Donald Trump menjelaskan bahwa pemimpin China tersebut juga memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya membuka blokade di Selat Hormuz. Pertemuan intensif terkait isu global ini telah berlangsung selama kunjungan dua hari sejak Kamis (14/5/2026).
"Kami memang membahas Iran. Kami merasa sangat mirip soal Iran dan menginginkan itu (perang) selesai," kata Donald Trump.
Narasi penegasan kemudian disampaikan oleh Donald Trump mengenai pembukaan jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz yang saat ini masih ditutup oleh kedua belah pihak.
"Kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir. Kami ingin selat (Hormuz) dibuka. Kami saat ini menutupnya. Mereka juga menutupnya dan kami menutupnya setelah mereka, tetapi kami ingin selat tersebut dibuka," kata Donald Trump.
Kegiatan minum teh bersama dan berjalan kaki di kediaman petinggi Partai Komunis China tersebut menjadi agenda penutup rombongan AS. Sebelum momen tersebut, Xi Jinping telah menggelar pertemuan bilateral formal dan jamuan makan malam kenegaraan bersama Donald Trump.
Dalam jamuan makan malam pada Kamis (14/5/2026), Presiden China sempat memberikan peringatan khusus kepada utusan dari Washington. Pihak Beijing meminta agar para delegasi AS tidak melakukan tindakan yang dapat merusak stabilitas hubungan bilateral kedua negara.
Selain membahas masalah Timur Tengah, Xi Jinping sebelumnya juga mengingatkan pemerintah AS terkait sensitivitas wilayah Taiwan. Kegagalan atau kesalahan dalam menangani isu kedaulatan Taiwan dinilai dapat menjadi pemicu konflik terbuka antara Amerika Serikat dan China.