Donald Trump Perketat Syarat Perjanjian Damai Perang Iran

Donald Trump Perketat Syarat Perjanjian Damai Perang Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperketat persyaratan draf kesepakatan damai untuk mengakhiri perang Iran pada Minggu, 31 Mei 2026, guna menekan Teheran agar mempercepat proses negosiasi.

Tiga pejabat pemerintah menyatakan bahwa Trump mengembalikan usulan perubahan teks tersebut ke Iran setelah memimpin rapat selama dua jam di Situation Room Gedung Putih bersama para penasihat utamanya.

Langkah pengetatan syarat ini diambil karena Trump mengkhawatirkan poin kesepakatan yang mencakup pencairan dana bagi Iran, sekaligus merasa frustrasi oleh lambatnya respons Teheran terhadap usulan Washington.

Sebelumnya, Amerika Serikat dan tim negosiasi Iran dikabarkan telah mencapai nota kesepahaman 60 hari untuk memperpanjang gencatan senjata dan memulai pembicaraan nuklir serta pembebasan dana yang dibekukan.

Kesepakatan awal tersebut juga mewajibkan Iran membuka blokade Selat Hormuz dalam waktu 30 hari, sementara militer Amerika Serikat akan mengangkat blokade angkatan lautnya di Teluk Oman.

Namun, ketegangan militer tetap membara setelah Komando Sentral AS (CENTCOM) melumpuhkan kapal kargo Lian Star berbendera Gambia di Teluk Oman menggunakan rudal Hellfire karena dinilai mencoba menerobos blokade menuju pelabuhan Iran.

Di samping itu, dampak perpanjangan perang ini mulai mengancam sektor pariwisata di negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam akibat lonjakan harga bahan bakar pesawat dan tarif tiket.

Konflik di Timur Tengah juga meluas setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa pasukan negaranya telah bergerak melintasi Sungai Litani di Lebanon untuk memperluas operasi militer.

Pengetatan syarat dari pihak Gedung Putih memicu reaksi keras dari jajaran penasihat dan pejabat tinggi di Teheran yang menolak tuntutan sepihak Amerika Serikat.

"By continuing the naval blockade and making excessive demands in negotiations, he has once again proven that he is not inclined toward negotiation and is pursuing other objectives," ujar Mohsen Rezaee, penasihat pemimpin tertinggi Iran melalui media sosial X.

Rezaee menilai tindakan Trump tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap jalur diplomasi yang sedang dibangun oleh kedua negara.

"No money will be exchanged, until further notice," kata Donald Trump melalui unggahan di Truth Social sebelum mengadakan pertemuan di Situation Room.

Trump juga menegaskan bahwa isu-isu lain yang kurang penting telah disepakati oleh kedua pihak.

"I will be meeting now, in the Situation Room, to make a final determination," kata Donald Trump.

Meskipun Trump menyatakan siap mengambil keputusan akhir, media pemerintah Iran Fars melaporkan bahwa poin-poin yang dilemparkan Trump justru bertolak belakang dengan draf teks perjanjian asli.

"We seize concessions not through dialogue, but with missiles; in negotiations, we merely make them understand," tulis akun media sosial Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.

Ghalibaf menambahkan bahwa Teheran hanya akan mengukur komitmen Amerika Serikat melalui tindakan nyata di lapangan, bukan sekadar janji.

"We have no trust in guarantees or words—only actions are the measure. No action will be taken before the other side acts," ujar Mohammad Bagher Ghalibaf.

Pernyataan bernada konfrontatif tersebut menegaskan kesiapan pihak Iran dalam menghadapi segala kemungkinan skenario ke depan.

"The winner of any agreement is the one who is better prepared for war from the day after," kata Mohammad Bagher Ghalibaf.

Sementara itu, eskalasi militer di Lebanon selatan memicu protes dari pemerintah setempat yang menuduh Israel sengaja menghancurkan wilayah pemukiman warga sipil.

"pursuing a scorched-earth policy and collective punishment," ujar Nawaf Salam, Perdana Menteri Lebanon dalam pidato televisi.

Salam menyatakan bahwa tindakan penghancuran desa-desa dan pengusiran penduduk oleh Israel tidak akan menghasilkan keamanan maupun stabilitas.

Artikel terkait

Rekomendasi