Donald Trump Sebut Kesepakatan Gencatan Senjata Iran Kritis

Donald Trump Sebut Kesepakatan Gencatan Senjata Iran Kritis

Harapan untuk mencapai perdamaian di kawasan Timur Tengah dilaporkan semakin meredup. Dilansir dari Suara, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan pihak Iran saat ini berada dalam posisi yang sangat kritis.

Kondisi yang diibaratkan sedang dalam alat bantu hidup tersebut mencuat setelah adanya respons dari pihak Teheran. Proposal perdamaian yang diajukan oleh Washington justru dijawab dengan tuntutan yang menunjukkan adanya perbedaan pandangan sangat tajam di antara kedua negara.

Konflik yang telah berlangsung sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu ini semakin pelik karena Iran mengajukan sejumlah syarat yang dinilai sangat berat. Mereka menuntut adanya kompensasi atas kerusakan akibat perang serta penghentian blokade laut oleh pihak Amerika Serikat.

Selain itu, Teheran mengharapkan adanya jaminan perlindungan dari serangan susulan di masa mendatang dan pemulihan akses penjualan minyak mereka ke pasar global. Iran juga tetap bersikeras untuk mempertahankan kedaulatan penuh atas wilayah Selat Hormuz.

Presiden Donald Trump secara terbuka menunjukkan rasa kecewanya terhadap dokumen balasan yang dikirimkan oleh Teheran. Ia menilai poin-poin yang diajukan Iran sebagai sebuah penghinaan terhadap proses diplomasi yang sebenarnya telah dimulai sejak gencatan senjata parsial pada 7 April.

"Saya menyebutnya kondisi terlemah saat ini, setelah membaca potongan sampah yang mereka kirimkan. Saya bahkan tidak menyelesaikan membacanya," kata Trump dalam keterangannya pada Senin, 11 Mei 2026.

Buntunya jalur negosiasi ini langsung memberikan guncangan signifikan pada pasar energi internasional. Harga minyak mentah berjangka jenis Brent dilaporkan mengalami kenaikan sebesar 3 persen hingga menyentuh angka 104 dolar AS per barel.

Penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia memaksa banyak produsen minyak untuk membatasi jumlah ekspor mereka. Akibatnya, angka produksi OPEC pada bulan April mencapai titik terendah dalam kurun waktu lebih dari dua dekade terakhir.

Di sisi lain, kebijakan luar negeri yang diambil oleh Trump mulai mendapatkan sorotan tajam dari publik Amerika Serikat. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran masyarakat terhadap kenaikan harga bahan bakar yang terjadi menjelang pelaksanaan pemilu sela.

Berdasarkan hasil jajak pendapat dari Reuters/Ipsos yang dirilis pada hari Senin, mayoritas warga Amerika merasa pemerintah belum memberikan penjelasan yang memadai. Sekitar 66 persen responden mengkritik minimnya transparansi terkait visi militer AS di wilayah Iran.

Tekanan Ekonomi dan Sanksi Baru Amerika Serikat

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memberikan peringatan mengenai dampak ekonomi jangka panjang bagi warga Amerika. Ia menyebutkan bahwa beban finansial akibat peperangan ini akan semakin berat jika konflik terus berlanjut tanpa penyelesaian diplomasi.

Sebagai langkah balasan, Pemerintah Amerika Serikat secara resmi memberlakukan sanksi baru pada Senin waktu setempat. Sanksi ini menyasar individu serta perusahaan yang dinilai memfasilitasi pengiriman minyak Iran menuju negara China guna memutus pendanaan militer Teheran.

Situasi di Selat Hormuz saat ini terpantau sangat mencekam dengan pergerakan kapal yang sangat terbatas. Data dari Kpler menunjukkan bahwa sejumlah kapal tanker terpaksa mematikan sistem pelacakan otomatis mereka guna menghindari potensi serangan dari pihak Iran saat melintas.

Negara-negara anggota NATO beserta sekutu Amerika lainnya dilaporkan masih menahan diri untuk tidak melakukan intervensi militer secara langsung. Mereka lebih memilih menunggu adanya kesepakatan damai yang bersifat komprehensif sebelum mengerahkan armada kapal untuk membuka jalur pelayaran tersebut.

Ketegangan ini juga mulai memperlihatkan adanya perpecahan dalam peta politik negara-negara Timur Tengah. Muncul laporan yang menyebutkan adanya keterlibatan militer langsung dari Uni Emirat Arab melalui serangan udara di Pulau Lavan, meski hal tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.

Di tengah kebuntuan yang sedang terjadi, Presiden Donald Trump dijadwalkan akan segera bertolak menuju Beijing pada hari Rabu. Ia direncanakan akan mengadakan pertemuan strategis dengan Presiden China Xi Jinping untuk membahas perkembangan situasi terkini.

Artikel terkait

Rekomendasi