Trump Tolak Proposal Damai Iran Sebut Gencatan Senjata Kritis

Trump Tolak Proposal Damai Iran Sebut Gencatan Senjata Kritis

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal perdamaian yang diajukan Teheran pada Selasa (12/5/2026) karena dianggap sama sekali tidak dapat diterima. Keputusan tersebut membuat status gencatan senjata yang telah berlangsung sejak 7 April kini berada dalam posisi yang sangat rentan.

Donald Trump memberikan penilaian keras terhadap dokumen balasan dari pihak Iran dengan menyebutnya sebagai materi yang tidak berkualitas. Ia mengisyaratkan bahwa harapan untuk mempertahankan perdamaian saat ini sangat kecil berdasarkan perkembangan terbaru dalam negosiasi tersebut.

"I would call it the weakest, right now, after reading that piece of garbage they sent us – I didn’t even finish reading it." kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Pemimpin Amerika Serikat tersebut menggunakan perumpamaan medis untuk menggambarkan kegagalan diplomasi yang sedang terjadi. Ia menegaskan bahwa peluang keberhasilan kesepakatan tersebut hampir tertutup total setelah melihat sikap Teheran.

"I would say the ceasefire is on massive life support, where the doctor walks in and says: ‘Sir, your loved one has approximately a 1% chance of living.’" ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Menanggapi pernyataan tersebut, pihak Iran menyatakan kesiapan militer mereka dalam menghadapi potensi eskalasi. Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Ghalibaf, memberikan peringatan keras melalui platform media sosial X.

"ready to deliver a well-deserved response to any aggression" tulis Mohammad Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.

Laporan dari CNN menyebutkan bahwa Trump kini mulai mempertimbangkan kembali opsi serangan militer skala besar akibat mandeknya perundingan. Rasa tidak sabar Gedung Putih dipicu oleh penutupan Selat Hormuz bagi negara yang dianggap musuh oleh Iran, yang telah menyebabkan lonjakan harga energi global termasuk biaya gas dan pupuk di Amerika Serikat.

Sejumlah sumber internal menyatakan bahwa perpecahan di tingkat kepemimpinan Iran menjadi kendala utama bagi Washington untuk mendapatkan konsesi terkait program nuklir. Donald Trump diperkirakan tidak akan mengambil keputusan militer final sebelum jadwal kunjungan diplomatiknya ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping akhir pekan ini.

Artikel terkait

Rekomendasi