Sistem pertahanan udara Uni Emirat Arab (UEA) berhasil mencegat serangkaian serangan rudal dan drone dari wilayah Iran pada Selasa (5/5/2026), yang menjadi insiden udara hari kedua secara berturut-turut. Serangan ini memicu respons militer aktif di tengah meningkatnya tensi keamanan di jalur perairan strategis Selat Hormuz.
Kementerian Pertahanan UEA mengonfirmasi keterlibatan aktif armada pertahanannya dalam mematahkan ancaman udara tersebut. Informasi ini pertama kali disiarkan oleh media AFP dan Al Arabiya pada Rabu (6/5/2026) menyusul rangkaian ledakan di udara.
"secara aktif terlibat dengan ancaman rudal UAV (kendaraan udara tak berawak atau drone)" kata Kementerian Pertahanan UEA.
Presiden UEA, Sheikh Mohamed bin Zayed (MBZ), memberikan apresiasi tinggi terhadap kesiapsiagaan personel militer dalam melindungi kedaulatan negara pada Selasa (5/5/2026). Ia menekankan bahwa kekuatan militer dan persatuan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi tekanan eksternal.
"mampu, melalui efisiensi militernya dan kohesi masyarakatnya, untuk menangkis setiap agresi dan menghadapi setiap ancaman" puji Mohamed bin Zayed, Presiden UEA.
Di sisi lain, otoritas militer Iran mengeluarkan bantahan resmi terhadap tuduhan keterlibatan mereka dalam serangan tersebut. Komando pusat Khatam al-Anbiya menyatakan tidak ada operasi militer yang diarahkan ke wilayah UEA dalam beberapa waktu terakhir.
"Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran tidak melancarkan operasi rudal atau drone apa pun terhadap Uni Emirat Arab dalam beberapa hari terakhir" tegas komando pusat Khatam al-Anbiya pada militer Iran.
Pihak militer Iran juga menilai laporan yang dikeluarkan oleh otoritas pertahanan UEA tidak memiliki landasan bukti yang kuat. Mereka justru memperingatkan akan adanya balasan jika UEA memulai serangan dari wilayahnya.
"Laporan dari Kementerian Pertahanan negara tersebut dengan tegas dibantah dan sama sekali tidak berdasar" sebut pernyataan tersebut.
Peringatan keras juga disampaikan oleh komando pusat Khatam al-Anbiya mengenai potensi eskalasi jika wilayah UEA digunakan sebagai basis peluncuran serangan terhadap Iran. Pihak Iran menjanjikan tindakan balasan yang setimpal.
"respons tegas" peringat komando pusat Khatam al-Anbiya.
Sebelum insiden Selasa tersebut, UEA melaporkan telah mencegat 15 rudal, termasuk 12 rudal balistik dan tiga rudal jelajah, serta empat drone pada Senin (4/5/2026). Serangan pada awal pekan itu dilaporkan melukai tiga orang dengan tingkat luka sedang.
Pemerintah UEA menyatakan posisi mereka untuk mengambil langkah lanjutan demi menjaga keamanan nasional. Negara tersebut mengklaim memiliki legitimasi penuh untuk bereaksi atas ancaman yang masuk ke wilayah kedaulatan mereka.
"hak penuh dan sah" tegas pihak UEA.
Selain serangan daratan, ketegangan meluas ke sektor maritim setelah kapal tanker milik perusahaan minyak negara, ADNOC, menjadi sasaran drone di Selat Hormuz. Insiden terhadap kapal MV Barakah terjadi saat Amerika Serikat sedang mempersiapkan pengawalan kapal di jalur tersebut.