Umat Buddha di Indonesia bersiap memperingati Hari Raya Waisak yang jatuh pada tanggal 31 Mei 2026 mendatang. Momentum suci ini dirayakan melalui serangkaian kegiatan ibadah serta aksi bakti sosial yang berpusat di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Perayaan ini menjadi sarana introspeksi diri bagi setiap umat untuk meningkatkan kesadaran spiritual, menebar kasih sayang, sekaligus menjaga kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Seperti dilansir dari Suara, Hari Waisak dinilai sebagai salah satu momentum paling sakral.
Hari besar ini juga kerap disebut sebagai Hari Tri Suci Waisak. Penamaan tersebut merujuk pada tiga peristiwa agung dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yang meliputi momen kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, hingga wafatnya Sang Buddha.
Peringatan ini umumnya berlangsung pada bulan Mei ketika bulan purnama muncul di bulan Vesakha berdasarkan kalender lunar. Pemerintah Indonesia sendiri telah meresmikan Hari Waisak sebagai hari libur nasional sejak tahun 1983.
Prosesi paling megah di tanah air rutin diselenggarakan di Candi Borobudur. Ribuan umat Buddha dari berbagai wilayah domestik hingga mancanegara datang berkumpul demi mengikuti rangkaian acara yang sarat akan nilai spiritual dan kebudayaan.
Terdapat sejumlah tradisi utama yang dilakukan oleh umat selama perayaan berlangsung. Salah satu prosesi yang paling ikonik dan menarik perhatian masyarakat adalah upacara pelepasan lampion atau lentera ke udara.
Lampion yang menyala tersebut menjadi simbol dari cahaya kebijaksanaan Buddha yang menerangi kegelapan batin manusia. Sembari melepas lentera ke langit luas, umat memanjatkan doa bersama agar dunia senantiasa diliputi oleh kedamaian.
Selain pelepasan lampion, meditasi massal juga menjadi inti dari seluruh perayaan Waisak. Kegiatan spiritual ini dilaksanakan bersama pada pagi hari atau saat malam bulan purnama demi membersihkan pikiran sekaligus meningkatkan kesadaran diri.
Ketika berada di Candi Borobudur, ribuan orang akan duduk bersila mengitari stupa utama. Seluruh jemaat kemudian mendengarkan lantunan paritta suci dengan khidmat di tengah suasana yang tenang.
Prosesi Kirab, Bakti Sosial, dan Puja Bhakti
Ritual penting lainnya adalah prosesi kirab yang dilakukan dengan mengarak patung Buddha, bunga, serta air suci. Di Indonesia, rute kirab dimulai dari Candi Mendut menuju Candi Pawon, kemudian berakhir di Candi Borobudur.
Para peserta kirab berjalan mengenakan pakaian tradisional khas Buddha. Mereka juga membawa bendera Dharmachakra atau roda Dharma yang melambangkan perputaran ajaran suci Sang Buddha.
Umat Buddha juga mengutamakan amalan dana atau pemberian amal melalui aksi sosial. Mereka membagikan makanan, pakaian, hingga kebutuhan pokok kepada para biksu, pengurus vihara, serta warga di sekitar lokasi perayaan.
Agenda kemanusiaan seperti donor darah, penanaman pohon, dan gerakan peduli lingkungan turut digelar. Aktivitas ini menjadi perwujudan nyata dari ajaran cinta kasih (metta) dan welas asih (karuna) terhadap sesama makhluk hidup.
Ibadah puja bakti juga dilangsungkan di setiap vihara dengan menyanyikan paritta serta membaca sutra. Umat membawa persembahan berupa bunga, dupa, dan lilin, dilanjutkan dengan penyiraman air suci sebagai simbol pembersihan noda kehidupan.
Sebagai penutup rangkaian tradisi, umat melakukan pelepasan burung atau ikan ke alam bebas. Ritual ini melambangkan pembebasan makhluk hidup dari penderitaan, yang sejalan dengan penerapan doktrin ahimsa atau larangan membunuh.