Hari Arafah menjadi salah satu waktu yang paling mustajab dalam sepanjang tahun. Dilansir dari Detikcom, umat Islam sangat dianjurkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas amal saleh pada hari yang penuh keistimewaan ini.
Keagungan hari Arafah telah ditegaskan dalam berbagai hadits Nabi SAW. Salah satu penjelasannya termaktub dalam hadits riwayat Muslim yang menegaskan keutamaan luar biasa bagi kaum muslimin.
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
Artinya: "Jumlah manusia, yang dibebaskan Allah dari neraka, yang paling banyak adalah pada hari Arafah."
Momen berharga ini termasuk dalam bagian sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah. Menjalankan amal kebajikan pada kurun waktu tersebut didasikan sebagai amalan yang amat dicintai oleh Allah SWT.
Berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW menyampaikan sabdanya mengenai keutamaan hari-hari awal di bulan suci ini.
مَا مِنْ أَيَّامِ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي: أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي Sَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: «وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Artinya: "Tiada hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini." Maksud beliau adalah sepuluh hari awal bulan Zulhijah. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, walaupun berjihad di jalan Allah?" Beliau bersabda, "Walaupun berjihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tidak pulang dengan membawa apa pun darinya." (HR Bukhari)
Peringatan hari Arafah bertepatan pada tanggal 9 Zulhijah. Pada tahun ini, momentum 9 Zulhijah 1447 H tersebut jatuh pada hari Selasa, 26 Mei 2026, sehingga umat Islam akan memasuki malam Arafah selepas waktu magrib.
1. Memperbanyak Doa dan Zikir
Mengingat waktu tersebut sangat mustajab, aktivitas utama yang perlu ditingkatkan adalah melantunkan doa dan zikir. Imam al-Ghazali turut menekankan pentingnya amalan ini dalam beberapa kitab susunannya.
Imam an-Nawawi melalui kitab Al-Adzkar terjemahan Ulin Nuha memaparkan bacaan doa terbaik yang kerap dipanjatkan para nabi saat hari Arafah.
Laa ilaaha illal laahu wahdahu laa syariika lah.
Artinya: "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya."
Lafadz doa tersebut bersumber dari riwayat al-Muwatha' Imam Malik dengan kategori sanad yang mursal serta memiliki kekurangan dalam bagian lafaznya.
Sementara itu, kitab at-Tirmidzi mencantumkan riwayat dari Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi SAW mengabarkan tentang bacaan terbaik.
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Laa ilaaha illal laahu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa 'alaa kulli sya-in qadiir.
Artinya: "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia memiliki kerjaan dan bagi-Nya segala puji. Dia atas segala sesuatu Mahakuasa."
Status hadits di atas dinilai dhaif, namun Imam an-Nawawi memberikan penjelasan bahwa hadits dengan derajat dhaif tetap dapat diamalkan untuk mengejar keutamaan amal (fadhailul a'mal).
2. Menunaikan Puasa Arafah
Ibadah puasa menjadi pilihan amalan mulia berikutnya yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa ganjaran puasa hari ini dapat menghapus dosa berdurasi dua tahun.
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
Artinya: "Puasa hari Arafah menghapus kesalahan-kesalahan yang dilakukan selama setahun sebelumnya dan setahun setelahnya." (HR Muslim)
3. Menggiatkan Sedekah
Sedekah merupakan manifestasi amal saleh yang mendatangkan pahala agung. Berbagai riwayat shahih memaparkan keutamaannya, termasuk fungsi sedekah sebagai pelindung diri dari siksa api neraka.
سَمِعْتُ النَّبِيِّ ﷺ يَقُولُ: «اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشَقِّ تَمْرَةٍ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya: "Aku mendengar Nabi SAW bersabda, "Takutlah kepada neraka sekalipun dengan memberikan sedekah sepotong kurma." (Muttafaq 'alaih)
Ulasan Syarah Riyadhus Shalihin dari Imam an-Nawawi menjabarkan maksud hadits ini sebagai imbauan membentengi diri dari api neraka walau hanya bermodalkan separuh biji kurma.
Cakupan sedekah tidak melulu terbatas pada pemberian harta benda semata. Hadits shahih dalam Silsilah Ahaadiitsh Shahiihah menerangkan bahwa melemparkan senyuman tulus kepada saudara muslim sudah bernilai sedekah.
Bentuk sedekah sosial lainnya meliputi tindakan menunjukkan arah bagi orang yang tersesat, membersihkan rintangan seperti batu atau duri di jalanan umum, hingga mengantarkan langkah orang yang mengalami gangguan penglihatan.
Riwayat dari Abbas bin Abdul Azhim al-Ambari, dari an-Nadhr bin Muhammad al-Jurasyi al-Yamami, dari Ikrimah bin Ammar, dari Abu Zumail, dari Malik bin Martsad, dari ayahnya, memuat rincian sabda Rasulullah SAW mengenai hal tersebut.
"Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah. Menyuruh melakukan kebaikan dan melarang melakukan kemunkaran adalah sedekah. Menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat adalah sedekah. Menuntun orang yang lemah penglihatannya adalah sedekah. Menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan adalah sedekah, dan menuangkan air dari ember ke ember saudaramu adalah sedekah." (Dinukil dari kitab Sunan at-Tirmidzi)
Ibnu Rajab dalam kitab Jamiul Ulum wal Hikam terjemahan Fadhli Bahri menyertakan riwayat lain yang menegaskan bahwa segala bentuk aktivitas kebajikan pada dasarnya dikategorikan sebagai sedekah menurut HR Bukhari dari Jabir RA.