USCIRF Soroti Militan Fulani, Miyetti Allah Bantah Keterlibatan

USCIRF Soroti Militan Fulani, Miyetti Allah Bantah Keterlibatan

Komisi Kebebasan Beragama Internasional Amerika Serikat (USCIRF) menerbitkan laporan baru yang memperkirakan sekitar 30,000 militan Fulani bersenjata beroperasi di Nigeria dan memicu pelanggaran kebebasan beragama yang parah.

Laporan tersebut menyatakan bahwa aksi kekerasan oleh kelompok tersebut telah mengakibatkan angka kematian tertinggi di antara komunitas beragama di Nigeria sepanjang tahun lalu. Kelompok bersenjata ini dilaporkan menyasar komunitas petani Kristen di wilayah Middle Belt dan bagian selatan dengan membakar rumah serta tempat ibadah.

Menanggapi laporan tersebut, Asosiasi Peternak Sapi Miyetti Allah Nigeria (MACBAN) langsung merilis pernyataan resmi pada Jumat, 29 Mei 2026. Organisasi tersebut dengan tegas menolak generalisasi yang mengaitkan seluruh etnis Fulani dengan jaringan kriminal bersenjata tersebut.

"violence by Fulani militants caused the highest number of deaths among all religious communities in Nigeria over the last year, as compared to attacks by organized insurgent groups and criminal gangs." tulis laporan USCIRF.

Mantan pakar penanggulangan terorisme di Departemen Luar Negeri AS, Sterling Tilley, menilai intervensi militer langsung dari AS bersama pasukan Nigeria untuk mengatasi konflik horizontal ini tidak disarankan. Tilley menegaskan perlunya kemauan politik dari pemerintah Nigeria sendiri untuk meredam eskalasi kekerasan menjelang pemilu tahun depan.

"militarily dealing with the farmer-herder conflict is not advisable because it is likely to bring more instability in the country." kata Sterling Tilley, Direktur Pickering Graduate Foreign Affairs Fellowship di Howard University.

Menurut Tilley, pemerintah Nigeria tampak enggan mengambil tindakan tegas yang diperlukan karena khawatir kehilangan basis dukungan suara di wilayah Utara dan Middle Belt.

"There are some steps that can be taken to quell the violence, but there must be Nigerian political will to do so." tambah Sterling Tilley.

Di sisi lain, Sekretaris Perang AS Pete Hegseth turut mengomentari serangan yang diperintahkan Presiden Donald Trump di Nigeria utara untuk melindungi komunitas Kristen dari ancaman kelompok ekstremis lain seperti ISIS.

"Maybe a year ago, [the president] heard the call of Nigerian Christians who were being targeted and killed by ISIS. And he said, 'Pete, I want the War Department to focus on ensuring that we do everything we can to protect those Christians.'" ujar Pete Hegseth.

Laporan USCIRF memaparkan bahwa populasi umat Kristen di Nigeria mencapai sekitar 48 persen, sedangkan etnis Fulani mencakup 6 persen atau sekitar 14,5 miliun jiwa. Meskipun serangan sering terjadi pada hari besar Kristen, laporan tersebut mencatat bahwa komunitas Muslim non-Fulani juga kerap menjadi korban penjarahan ternak dan kekerasan.

"Allahu Akbar" menjadi slogan yang terkadang diteriakkan oleh para pelaku penyerangan menurut laporan tersebut.

Pihak USCIRF juga menyoroti bahwa tanggapan dari otoritas federal dan negara bagian di Nigeria sering kali dinilai tidak memuaskan atau bahkan terkesan membiarkan.

"Fulani assailants have not spared Muslims, raiding herders’ cattle and violently attacking non-Fulani Muslim communities," tulis laporan USCIRF.

Lembaga Open Doors UK & Ireland yang berfokus pada persekusi umat Kristen menyatakan bahwa jumlah kekerasan oleh militan dari suku Fulani ini telah melampaui total kekerasan kelompok garis keras lain seperti Boko Haram atau ISWAP.

"Violence at the hands of militants from the Fulani tribe far outnumbers violence from all other militant groups such as Boko Haram or ISWAP (Islamic State West African Province)," kata Henrietta Blyth, CEO Open Doors UK & Ireland.

Blyth menambahkan bahwa situasi di lapangan sangat kompleks dan tidak semua pelaku murni dimotivasi oleh isu keagamaan, namun komunitas Kristen tetap menjadi kelompok yang paling rentan.

"My heart has been broken as I have heard stories from women and men who have seen their beloved family members butchered in front of them or carried off into a life of slavery." tutur Henrietta Blyth.

Ia mendesak adanya perlindungan nyata dan kesempatan pemulihan bagi ratusan ribu warga yang telah terusir dari tempat tinggal mereka.

"The situation is complicated, and as the report concludes, it is too simplistic to say all perpetrators are religiously motivated. What is undisputable is that Christians are highly vulnerable and often the victims, paying the price in blood. They desperately need protection and, for hundreds of thousands driven from their homes, the chance to heal and rebuild their lives." lanjut Henrietta Blyth.

Kondisi ini diperparah oleh munculnya koridor operasional ilegal di kawasan hutan dan perbatasan yang melemahkan kedaulahan hukum pemerintah Nigeria, seperti dilaporkan oleh pengamat keamanan Lanre Ogundipe dari Abuja.

"Criticism of responses to Fulani militant violence from federal and state authorities has often described their responses as unsatisfactory at best and complicit at worst." sebut laporan USCIRF.

Menyikapi meluasnya tudingan tersebut, Presiden Nasional MACBAN Baba Ngelzarma menegaskan bahwa puluhan ribu kriminal yang disebut dalam laporan itu sama sekali tidak merepresentasikan belasan juta warga Fulani yang taat hukum.

"the 30,000 militants and bandits cited in the report “do not, and will never, represent the 14.5 million peaceful Fulani citizens of this country.”" tegas Baba Ngelzarma.

Ngelzarma menyatakan bahwa para peternak Fulani justru sering kali menjadi korban utama dari sindikat kriminal melalui aksi pencurian ternak dan penculikan massal.

"As MACBAN has posited in several reports and statements, law-abiding pastoralists are themselves primary victims of these criminal syndicates, routinely suffering from cattle rustling, mass abductions, and retaliatory violence," urai Baba Ngelzarma.

Guna mengatasi krisis, MACBAN menyatakan tidak akan melindungi siapa pun yang terlibat dalam tindakan kriminal dan berkomitmen membantu aparat penegak hukum.

"MACBAN will not shield, make excuses for, or tolerate any individual or group engaging in violent criminality," cetus Baba Ngelzarma.

Organisasi tersebut kini telah menginstruksikan jajaran pengurus di tingkat daerah untuk memperketat pembagian informasi intelijen dengan kepolisian federal dan tokoh adat setempat.

"We are actively directing our zonal and state branches to formalize and deepen closed-door intelligence-sharing channels with federal security forces and local traditional rulers." jelas Baba Ngelzarma.

Langkah ini diharapkan dapat membantu melacak serta membersihkan elemen kriminal yang memanfaatkan wilayah hutan dan perbatasan sebagai tempat persembunyian.

"We pledge our full cooperation to help law enforcement detect, isolate, and flush out criminal elements using our forests and borderlands as cover," pungkas Baba Ngelzarma.

Artikel terkait

Rekomendasi