Pengadilan Guimarães menunda pembacaan putusan terhadap 12 terdakwa kasus penyerangan tenaga medis di Unit Gawat Darurat Hospital de Famalicão hingga 28 Mei 2026. Penundaan ini diumumkan pada Senin, 11 Mei 2026, setelah hakim ketua menyampaikan adanya perubahan fakta hukum yang tidak substansial kepada para pengacara.
Sebanyak sembilan pria dan tiga wanita yang masih memiliki hubungan keluarga didakwa melakukan serangkaian tindak pidana dalam insiden yang terjadi pada Februari 2022. Dakwaan tersebut meliputi pelanggaran integritas fisik yang diperberat, pengancaman, paksaan berat, perusakan dengan kekerasan, hingga masuk ke area terlarang tanpa izin.
Kementerian Publik mengungkapkan bahwa salah satu terdakwa juga menghadapi tuntutan tambahan berupa kasus pencurian. Insiden ini bermula saat kelompok tersebut memaksa masuk ke ruang terbatas UGD untuk menuntut perawatan instan bagi anggota keluarga mereka yang mengalami kecelakaan tanpa melalui prosedur registrasi dan triase.
Para pelaku dilaporkan memecahkan kaca pintu akses sebelum menyeret paksa sebuah tandu untuk membawa kerabat mereka ke dalam area medis. Dalam kekacauan tersebut, dua orang perawat dan seorang petugas keamanan menjadi sasaran kekerasan fisik menggunakan tangan kosong serta batang besi yang diambil dari peralatan medis.
Dokumen persidangan mencatat bahwa salah satu perawat terus dipukuli meski sudah jatuh tersungkur di lantai dengan serangan yang terkonsentrasi pada bagian kepala. Rekan perawat lainnya yang mencoba memberikan pertolongan juga mendapatkan serangan berupa jambakan rambut dan tamparan dari para pelaku.
Petugas keamanan rumah sakit turut menderita luka-luka setelah dipukul, ditendang, dan dihantam benda logam di bagian kepala saat mencoba meredam keributan. Setelah aksi kekerasan tersebut, para terdakwa meninggalkan rumah sakit bersama anggota keluarga mereka yang cedera sebelum sempat mendapatkan penanganan medis secara resmi.
Sesuai laporan dari sapo.pt dan famaradio.tv, salah satu terdakwa juga diduga mengambil ponsel milik perawat yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Sidang putusan akhir dijadwalkan kembali digelar di Guimarães untuk menentukan nasib ke-12 anggota keluarga tersebut.