Kapal pesiar MV Hondius yang membawa 150 penumpang dari 23 negara kini tengah berlayar menuju Kepulauan Canary, Spanyol, setelah dihantam wabah Hantavirus yang mengakibatkan tiga orang meninggal dunia. Dilansir dari Tekno, kapal yang dikelola Oceanwide Expeditions ini sebelumnya sempat terisolasi di Cape Verde pada 3 Mei 2026 akibat kekhawatiran penyebaran virus.
Jake Rosmarin, seorang blogger traveler asal Boston yang menjadi salah satu penumpang, mengungkapkan penderitaan para penumpang selama terjebak di tengah ketidakpastian melalui unggahan video pada 5 Mei 2026. Situasi di kapal tersebut menjadi sorotan dunia setelah virus yang ditularkan melalui hewan pengerat itu mulai merenggut nyawa sejak April lalu.
“Kami bukan sekadar cerita. Kami bukan hanya judul berita, kami adalah manusia, orang-orang dengan keluarga, dengan kehidupan, dengan orang-orang yang menunggu kami di rumah” kata Rosmarin.
Rosmarin menjelaskan bahwa kondisi psikologis para penumpang sangat tertekan karena tidak adanya kejelasan mengenai jadwal kepulangan mereka. Keinginan utama seluruh penumpang saat ini adalah mendapatkan rasa aman dan kepastian evakuasi ke rumah masing-masing.
“Ada banyak sekali ketidakpastian dan itu menjadi bagian yang paling berat,” imbuhnya.
Kronologi wabah dimulai saat seorang pria Belanda berusia 70 tahun jatuh sakit pada 6 April dan meninggal dunia pada 11 April setelah mengalami gejala demam serta gangguan pernapasan. Istrinya kemudian ikut jatuh sakit dan meninggal di Johannesburg pada 26 April saat proses pemulangan jasad suaminya.
Korban ketiga adalah seorang wanita asal Jerman yang dilaporkan sakit pada 28 April dan dinyatakan meninggal pada 2 Mei. Selain itu, seorang pria asal Inggris terkonfirmasi positif Hantavirus dan telah dievakuasi ke Afrika Selatan untuk menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Menteri Kesehatan Spanyol, Monica Garcia, dalam konferensi pers di Madrid menyatakan bahwa seluruh penumpang non-warga negara Spanyol akan segera dipulangkan setibanya di Tenerife. Namun, 14 warga Spanyol diwajibkan menjalani karantina ketat di sebuah rumah sakit militer guna mencegah penyebaran lebih luas.
Keputusan pemerintah pusat Spanyol ini mendapat tentangan dari Presiden Wilayah Kepulauan Canary, Fernando Clavijo. Ia menegaskan tidak setuju dengan rencana pemerintah pusat karena keputusan tersebut tidak berdasar pertimbangan teknis yang memadai.
Di sisi lain, penumpang bernama Kasem Hato melaporkan bahwa suasana di dalam kapal tetap terkendali dan para awak kapal rutin memberikan informasi terbaru. Para penumpang disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker dan menjaga jarak fisik di area publik.
“Orang-orang menanggapi situasi ini dengan serius tetapi tanpa kepanikan, mencoba menjaga jarak dan memakai masker demi keselamatan,” ujarnya.
Meskipun dalam kondisi terbatas, moral para penumpang disebut masih cukup stabil dengan melakukan aktivitas ringan seperti membaca dan menonton film. Pihak otoritas kesehatan setempat dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga terus menyelidiki sumber awal infeksi yang diduga berasal dari kontak dengan tikus.
“Sehari-hari kami hampir normal, hanya menunggu pihak berwenang menemukan solusi. Namun moral di kapal tetap tinggi dan kami tetap sibuk membaca, menonton film, minum minuman hangat, dan hal-hal seperti itu,” tambahnya.
Pada pembaruan terkini tanggal 7 Mei 2026, Rosmarin mengabarkan bahwa beberapa penumpang yang diduga terinfeksi sudah dievakuasi oleh tim medis menggunakan alat pelindung diri lengkap. Kapal diperkirakan akan segera bersandar di Tenerife untuk proses penanganan kesehatan lebih lanjut.
“Selain dua penumpang (terdampak) yang telah diumumkan dan sekarang telah dievakuasi Semua orang lain di dalam kapal dalam keadaan baik dan tetap bersemangat,” ungkapnya.