Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia melayangkan teguran keras kepada maskapai Garuda Indonesia. Langkah ini diambil setelah pesawat yang mengangkut jemaah haji asal Indonesia mengalami keterlambatan hingga berjam-jam di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah.
Seperti dikutip dari Detikcom, penundaan melanda maskapai Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 7603 rute Jeddah-Jakarta. Pesawat yang membawa rombongan jemaah dari Embarkasi Banten (JKB 02) tersebut dilaporkan tertahan sejak Selasa (2/6/2026) sore waktu Arab Saudi.
Kondisi ini memicu gelombang keluhan dari para penumpang. Masalahnya, di dalam rombongan tersebut terdapat sejumlah jemaah lanjut usia yang terpaksa harus menunggu jauh lebih lama dari jadwal keberangkatan semula.
Merespons situasi tersebut, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, langsung melakukan koordinasi dengan manajemen maskapai untuk meminta klarifikasi. Berdasarkan laporan yang ia terima, keterlambatan dipicu oleh padatnya lalu lintas penerbangan di terminal haji Bandara King Abdulaziz.
Walaupun hambatan muncul akibat kepadatan operasional di bandara setempat, Dahnil menegaskan bahwa pihak maskapai tetap memikul tanggung jawab penuh. Garuda Indonesia diwajibkan memberikan pelayanan terbaik dan jaminan kenyamanan bagi seluruh jemaah yang terdampak.
"Kami sampaikan kepada maskapai terkait dengan delay, harus ada kompensasi baik berbentuk penyediaan meal atau makanan maupun kompensasi-kompensasi yang lain yang itu membuat jemaah tetap nyaman," ujar Dahnil kepada tim Media Center Haji (MCH) di Kantor Urusan Haji, Jeddah, Arab Saudi, Rabu (3/6/2026).
Dahnil mengonfirmasi bahwa pihak Garuda Indonesia telah menyatakan komitmen mereka untuk memenuhi tuntutan tersebut. Maskapai pelat merah ini bersedia menyalurkan kompensasi dalam bentuk pelayanan tambahan maupun bantuan lain yang diperlukan jemaah.
"Kami berharap dari Garuda melakukan dan menunaikan hal tersebut," ucapnya.
Manajemen Jadwal dan Prioritas Pemulangan
Selain menuntut kompensasi instan, Dahnil juga mengingatkan manajemen Garuda Indonesia agar mengevaluasi dan lebih cermat dalam menyusun jadwal penerbangan. Proses krusial ini memerlukan ketelitian tinggi karena fase pemulangan jemaah haji melibatkan pergerakan ribuan penumpang setiap harinya.
Manajemen pengelolaan yang matang diharapkan dapat meminimalisasi potensi hambatan serupa di masa depan. Jika tanda-tanda keterlambatan kembali terdeteksi, maskapai diminta segera membuka jalur komunikasi cepat dengan Kementerian Haji dan Umrah demi mempercepat langkah antisipasi.
Bagi pemerintah, aspek kenyamanan serta keselamatan seluruh jemaah harus diposisikan sebagai prioritas paling utama selama proses mobilisasi kembali ke Tanah Air.
"Yang jelas terhadap delay tadi malam karena ada traffic yang sangat padat dan Garuda dipastikan akan memberikan kompensasi kepada jemaah," pungkasnya.
Hingga saat ini, pemulangan jemaah haji Indonesia dari Arab Saudi masih terus berjalan secara bertahap melalui dua pintu utama, yakni Bandara Jeddah dan Madinah. Pemerintah memastikan pengawasan ketat terhadap seluruh lini pelayanan kepulangan agar jemaah dapat tiba di Indonesia dengan aman.