Warganet Kritik Citra Elite Politik Lewat Lagu Parodi AI

Warganet Kritik Citra Elite Politik Lewat Lagu Parodi AI

Masyarakat memanfaatkan lagu parodi berbasis kecerdasan buatan atau AI berjudul "Mas Bahlil Ganteng" di berbagai platform media sosial pada Jumat (29/5/2026) sebagai sarana kritik terhadap realitas politik. Fenomena ini menjadi bentuk katarsis kolektif di tengah kejenuhan publik terhadap gaya komunikasi kekuasaan yang dinilai kaku.

Gubahan nada tersebut diproduksi dengan mencuplik komentar warganet bermada pemujaan hiperbolis. Melalui pemanfaatan teknologi, masyarakat membalikkan logika penghormatan tradisional menjadi sebuah komedi satir untuk menyuarakan keberatan atas manuver politik para elite.

Kritik lewat media digital ini menciptakan zona aman bagi warga agar tetap kritis tanpa terancam pasal pidana karena liriknya berisi pujian fiktif. Penggunaan jingle satir tersebut sekaligus menggeser plesetan pameo klasik menjadi slogan baru.

"Harta, Tahta, Wanita" tulis Kompasiana mengenai pergeseran istilah tersebut.

Pergeseran frasa baru yang kini menjadi slogan populer di ruang publik virtual tersebut adalah "Harta, Tahta, Kakanda". Melalui slogan ini, masyarakat memberikan pujian berlebihan yang sengaja dirancang agar tampak konyol di mata dunia.

Lagu parodi berbasis teknologi kecerdasan buatan ini juga secara total mendekonstruksi wibawa politik tradisional. Pada era algoritma digital saat ini, tokoh publik justru didekati secara humoris karena dapat menjadi bahan konten audio yang adiktif di media sosial.

"MBG, Mas Bahlil Ganteng... Buah apa yang paling manis? Buahlil." bunyi lirik lagu parodi tersebut.

Penyebaran lirik lagu parodi ini dinilai mencerminkan cara warganet mengambil jarak sinis dalam melihat konstelasi kekuasaan di balik layar. Publik memilih menggunakan kedaulatan digital mereka untuk mendandani elite politik menjadi idola pop fiktif daripada melakukan aksi protes formal.

"Kami tahu apa yang kalian lakukan, tapi karena kami tidak bisa menghentikan kalian, mari kita sepakati saja bahwa kalian semua sangat tampan." tulis Kompasiana menjabarkan pesan sindiran dari netizen kepada penguasa.

Sikap tersebut menjadi wujud kejengkelan yang mengkristal menjadi banyolan teknologi kecerdasan buatan yang diputar berulang kali oleh pengguna gawai. Hingga saat ini, lagu tersebut terus menghiasi lini masa dan memicu respons dari lingkaran elite politik.

Artikel terkait

Rekomendasi