Waskita Karya dan Jakpro Uji Coba Sistem Rel LRT Jakarta Fase 1B

Waskita Karya dan Jakpro Uji Coba Sistem Rel LRT Jakarta Fase 1B

Proyek LRT Jakarta Fase 1B rute Velodrome - Manggarai kini memasuki babak baru lewat dimulainya rangkaian Testing and Commissioning (T&C) untuk sistem perkeretaapian. Tahapan pengujian ini menjadi bagian krusial dalam memastikan kesiapan operasional sekaligus memperkuat integrasi transportasi publik di Ibu Kota, seperti dilansir dari Suara.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk bersama PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro menuntaskan tes jalur lintasan sepanjang 3,6 kilometer. Jalur layang yang diuji tersebut menghubungkan Stasiun Velodrome hingga Stasiun Pramuka guna memastikan seluruh sistem berfungsi optimal menjelang operasional komersial.

Direktur Utama Jakarta Propertindo (Jakpro), Iwan Takwin, menjelaskan bahwa tahapan Testing and Commissioning ini dilakukan secara mendetail dan sistematis demi menjamin kesiapan seluruh komponen.

"Setiap meter pada jalur layang LRT Jakarta Fase 1B adalah tanggung jawab kami kepada masyarakat DKI Jakarta yang akan mengandalkan LRT setiap harinya. Karena itu, tahapan T&C ini harus dipersiapkan dengan sangat matang," ujar Iwan.

Pemeriksaan menyeluruh tersebut meliputi komponen jalur rel, sistem persinyalan, kelistrikan, komunikasi, hingga integrasi operasional secara terstruktur. Langkah ini diambil demi menggaransi faktor keamanan dan keandalan layanan saat kereta mulai mengangkut penumpang publik.

Direktur Operasi II Waskita Karya, Paulus Budi Kartiko, menyatakan bahwa keterlibatan perseroan menjadi ajang pembuktian kapasitas dalam menggarap infrastruktur transportasi publik berskala besar. Proyek dengan visibilitas tinggi ini berdampak langsung pada reputasi jangka panjang perusahaan karena kualitasnya dipantau langsung oleh masyarakat.

Nilai investasi proyek infrastruktur ini mencapai Rp4,1 triliun dengan realisasi pembangunan fisik yang menyentuh angka 93,07 persen. Cakupan kerja Waskita meliputi integrasi konstruksi sipil, bantalan rel, sistem perkeretaapian, hingga penyediaan dukungan operasional.

"Dalam proses pengerjaan, tantangan utama yang kami hadapi adalah lalu lintas Jakarta yang padat dan keterbatasan ruang kerja. Karena itu, kami mengoptimalkan pekerjaan pada malam hari dengan tetap mengedepankan sistem keselamatan dan metode kerja yang inovatif," kata Paulus.

Tim konstruksi berhasil mengatasi kendala arsitektural saat membangun jalur layang yang melintasi Jalan Tol Wiyoto Wiyono pada kilometer 1+700 hingga 2+100. Waskita menerapkan metode balance cantilever dengan bentang sepanjang 120 meter agar arus lalu lintas di bawahnya tetap bergerak lancar.

Catatan Keselamatan Kerja dan Target Emisi

Aspek keselamatan kerja menjadi prioritas utama selama masa pembangunan lewat monitoring survei dan pemeriksaan chamber harian. Pengelola proyek juga memasang jaring pengaman (safety net) di sepanjang area segmen girder balance cantilever untuk mencegah insiden fatal.

Penerapan standar keselamatan kerja yang ketat tersebut membuat proyek ini berhasil mencatatkan zero accident selama struktur balance cantilever diselesaikan. Konstruksi ini dinilai berhasil mengintegrasikan moda transportasi modern di tengah pusat aktivitas perkotaan yang padat.

"Perlintasan Wiyoto Wiyono menjadi salah satu ikon terpenting dalam tes jalur yang telah dilakukan. Keberhasilan ini menunjukkan kemajuan konstruksi Indonesia yang mampu mengintegrasikan moda transportasi publik dengan jalur aktif di tengah padatnya aktivitas perkotaan," ujar Paulus.

Koordinasi intensif antara Waskita Karya dan Jakpro terus berjalan demi memastikan agenda Testing and Commissioning sesuai jadwal. Hingga kini, uji jalan kereta (train run) telah dilangsungkan dua kali dengan memanfaatkan daya listrik penuh secara lancar tanpa hambatan teknis dari Velodrome ke Pasar Pramuka.

"Kami optimistis kehadiran LRT Jakarta Fase 1B akan menambah pilihan transportasi publik modern, memudahkan mobilitas masyarakat, sekaligus mendoronng peralihan penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi umum," kata Paulus.

Kehadiran sarana transportasi berbasis listrik ini diproyeksikan mampu menekan angka kemacetan perkotaan sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah. Moda ramah lingkungan ini ditargetkan menyokong pencapaian Net Zero Emission (NZE) lewat pengurangan emisi gas buang kendaraan bermotor di Jakarta.

Artikel terkait

Rekomendasi