Kebijakan WFH ASN Kurangi Penumpang LRT Jabodebek Hingga 17 Persen

Kebijakan WFH ASN Kurangi Penumpang LRT Jabodebek Hingga 17 Persen

Kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) setiap Jumat yang berlaku sejak 10 April 2026 menyebabkan penurunan mobilitas warga di Jabodetabek pengguna transportasi umum. Penurunan volume pengguna moda transportasi berbasis rel seperti LRT Jabodebek tercatat mencapai 17 persen, dilansir dari Megapolitan.

Manager of Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, menjelaskan bahwa pengaruh kebijakan tersebut terlihat nyata pada data volume penumpang. Data internal menunjukkan penurunan jumlah pengguna dari 253.373 orang pada Jumat Maret 2026 menjadi 211.293 orang pada Jumat April 2026.

“Secara volume, kebijakan WFH kepada ASN berpengaruh terhadap jumlah pengguna LRT Jabodebek,” ujar Radhitya.

Perbandingan tersebut diambil melalui pengambilan sampel pada tanggal 6 dan 13 Maret serta 10 dan 17 April 2026. Radhitya menyebut langkah ini dilakukan guna menghindari bias akibat adanya hari libur nasional pada bulan-bulan tersebut.

“Sehingga terdapat perbedaan 42.080 pengguna LRT Jabodebek atau 17 persen,” kata Radhitya.

Meskipun jumlah penumpang secara total mengalami penyusutan, Radhitya mengonfirmasi bahwa sebaran kepadatan di lima stasiun utama tetap stabil. Lokasi dengan aktivitas tertinggi masih berada di Stasiun Dukuh Atas, Harjamukti, Kuningan, Cikoko, dan Pancoran.

“Adapun lima stasiun paling banyak pengguna yakni Dukuh Atas, Harjamukti, Kuningan, Cikoko, dan Pancoran,” kata Radhitya.

Terkait pola perjalanan, manajemen belum mendeteksi adanya perubahan jam sibuk atau rute yang mencolok meski kebijakan WFH telah diterapkan. Pergerakan masyarakat dinilai masih mengikuti ritme yang sama seperti sebelumnya.

“Berdasarkan data pada saat penerapan WFH ASN di setiap Jumat, tidak terdapat perbedaan signifikan antara diberlakukannya WFH maupun sebelum diberlakukan penerapan WFH,” ujar Radhitya.

Penurunan volume ini secara otomatis menekan pendapatan operasional karena berkurangnya komuter pada jam sibuk yang memiliki tarif maksimal Rp 20.000. Kendati demikian, PT KAI memastikan frekuensi perjalanan pada hari Jumat tetap beroperasi penuh sesuai jadwal hari kerja sebanyak 430 perjalanan.

“KAI mengoperasikan 430 perjalanan pada hari kerja (weekday) and 270 perjalanan pada hari libur nasional dan akhir pekan (weekend),” ujar Radhitya.

Guna merespons dinamika ini, pihak operator terus melakukan pemantauan intensif terhadap efektivitas kebijakan pemerintah tersebut. Evaluasi berkala akan menjadi dasar bagi penyesuaian layanan di masa mendatang.

“KAI akan melakukan evaluasi secara berkala, termasuk dengan adanya berbagai penyesuaian aturan dan/atau kebijakan yang berlaku,” ujar Radhitya.

Kondisi serupa terjadi pada Commuter Line Jabodetabek yang mencatat penurunan volume sebesar 9 persen pada Jumat, 8 Mei 2026. VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menyatakan total pengguna hingga siang hari hanya mencapai 499.101 orang.

"Jumlah tersebut turun 9 persen dibandingkan hari kerja biasa," ungkap Karina.

Karina melaporkan bahwa kepadatan di stasiun keberangkatan utama seperti Bogor, Bekasi, dan Tangerang tampak lebih lengang. Penurunan di Stasiun Bogor bahkan menyentuh angka 23 persen dibandingkan hari kerja biasa.

“Stasiun-stasiun besar seperti Bogor, Bekasi, dan Tangerang kepadatan pengguna pada jam sibuk pagi hari (peak hour) tidak seramai hari kerja lainnya,” jelas Karina.

Data spesifik menunjukkan penurunan di Stasiun Bekasi sebesar 9 persen dan Stasiun Tangerang sebesar 19 persen. Di wilayah perkantoran, Stasiun Gondangdia mengalami penurunan volume penumpang hingga 21 persen.

“Stasiun bogor mencatat sebanyak 23 ribu orang yang naik atau lebih rendah 23 persen jika dibanding pada hari kerja lainnya,” tambah Karina.

Meskipun volume melandai, KAI Commuter tetap mengoperasikan 1.063 perjalanan sesuai grafik perjalanan kereta api. Hal ini bertujuan untuk tetap memberikan ruang dan kenyamanan bagi masyarakat yang masih harus beraktivitas secara fisik.

“Sebanyak 1.063 perjalanan Commuter Line Jabodetabek tetap dioperasikan hari ini,” jelas Karina.

Karina pun mengingatkan seluruh pengguna untuk selalu mematuhi instruksi petugas demi keselamatan selama perjalanan. Informasi terkini terkait jadwal dapat diakses melalui kanal resmi perusahaan.

“KAI Commuter mengimbau para pengguna yang tetap mengutamakan keselamatan dengan mengikuti arahan petugas di stasiun demi kenyamanan bersama. Untuk informasi terkini melalui aplikasi resmi dan media sosial resmi perusahaan di @commuterline,” tandas Karina.

Di sisi lain, pengemudi ojek online di Jakarta Pusat merasakan lalu lintas yang lebih lancar namun terjadi pergeseran titik penjemputan. Dedi, pengemudi ojol di Menteng, menyebut waktu tempuh ke arah Sudirman kini jauh lebih singkat pada Jumat pagi.

“Kalau dulu dari Menteng ke arah Sudirman bisa 35 sampai 45 menit. Kadang cuma geser beberapa ratus meter aja bisa lama banget,” kata Dedi.

Dedi mengamati bahwa pesanan dari gedung perkantoran pemerintah di sekitar Monas dan Thamrin berkurang sejak kebijakan WFH ASN bergulir. Saat ini, pesanan lebih banyak datang dari area permukiman dan tempat kerja alternatif.

“Order dari gedung-gedung kantor pemerintah di Thamrin atau sekitar Monas itu agak berkurang. Jadi yang dulu rame jam berangkat kantor, sekarang jadi lebih sepi,” kata Dedi.

Meskipun sumber pesanan berpindah, ia merasa denyut aktivitas Jakarta tetap terasa karena sektor layanan publik masih beroperasi secara tatap muka. Ia tidak selalu mengetahui status pekerjaan penumpangnya secara pasti.

“Sekarang lebih banyak dari rumah-rumah atau kafe kecil. Jadi bukan hilang, cuma pindah sumbernya,” ujar Dedi.

Dedi menambahkan bahwa pekerjaannya tetap berjalan meskipun ritme keramaian di pusat kota telah mengalami perubahan. Aktivitas warga di jalanan tetap terpantau hidup meskipun ada kebijakan bekerja dari rumah.

“Kita kan cuma dapat order, jemput, antar,” ujarnya.

Ia pun menilai keberadaan layanan publik yang tetap masuk menjadi alasan mengapa jalanan tidak benar-benar sepi. Hal ini menjaga pergerakan kendaraan di lapangan tetap masif.

“Kan pelayanan publik tetap masuk ya, jadi orang masih banyak yang aktivitas. Makanya jalan juga tetap hidup,” ujar Dedi.

Siti, pengemudi ojol lainnya, berpendapat bahwa kebijakan WFH membuat jam sibuk pagi tidak sepadat periode sebelum April. Konsentrasi mobilitas kini lebih menyebar ke lokasi-lokasi seperti mal dan coworking space.

“Kalau sekarang itu lebih santai. Eggak terlalu ngebut jam sibuknya,” kata Siti.

Menurut catatannya, kepadatan luar biasa yang biasa terjadi pukul 07.00 hingga 09.00 kini mulai meluruh. Pola pergerakan masyarakat telah mengalami modifikasi tujuan perjalanan.

“Dulu itu jam 7 sampai 9 pagi benar-benar padat. Sekarang masih ada, tapi enggak segila dulu,” ujarnya.

Ia mencermati bahwa meskipun banyak orang tidak ke kantor, mereka tetap keluar rumah menuju lokasi pusat kota lainnya. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa ruas jalan tetap terlihat padat.

“Sekarang orang lebih banyak ke mal, ke coworking space, atau sekadar keluar rumah. Jadi jalan tetap hidup, cuma bukan ke kantor lagi,” kata Siti.

Berdasarkan pantauan lapangan pada Jumat sore, ruas Jalan Gatot Subroto dan Jalan Jenderal Sudirman tetap padat merayap dengan kecepatan kendaraan sekitar 15–30 kilometer per jam. Southeast Asia Director ITDP Indonesia, Gonggomtua Sitanggang, berpendapat bahwa proporsi ASN di Jabodetabek hanya 17 persen dari total 9 juta pekerja, sehingga kebijakan WFH ini belum menjadi solusi tunggal untuk kemacetan permanen.

Artikel terkait

Rekomendasi