Dinamika politik di kawasan Asia Timur bersiap menyambut agenda diplomatik penting dari Beijing. Presiden Tiongkok Xi Jinping dijadwalkan melakukan pertemuan dengan pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, dalam sebuah kunjungan kenegaraan.
Kunjungan bilateral tersebut akan berlangsung di Pyongyang dalam waktu dekat. Lawatan ini dipastikan menjadi perjalanan luar negeri perdana bagi Xi pada tahun ini.
Seperti dikutip dari Medcom, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, mengonfirmasi bahwa perjalanan diplomatik ini akan berlangsung selama dua hari dan dimulai pada hari Senin. Momentum ini sekaligus menjadi kedatangan pertama Xi ke Korea Utara dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir setelah menerima undangan resmi dari pihak Pyongyang.
Pemerintah Beijing menyatakan bahwa misi utama dari lawatan ini adalah mempererat hubungan bilateral kedua negara. Selain itu, kunjungan bertujuan mendorong kerja sama pembangunan sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi stabilitas dan perdamaian di kawasan regional.
Catatan sejarah menunjukkan Xi terakhir kali mengunjungi Korea Utara pada tahun 2019. Peristiwa tersebut menjadi momen historis karena tercatat sebagai kunjungan pertama pemimpin tertinggi Tiongkok ke negara tetangganya itu dalam lebih dari satu dekade.
Jauh sebelum itu, Xi juga pernah menginjakkan kaki di Korea Utara pada tahun 2008. Saat itu ia masih mengemban amanat sebagai wakil presiden dan melangsungkan pertemuan dengan pemimpin Korea Utara terdahulu, Kim Jong Il.
Pertemuan tatap muka paling baru antara Xi dan Kim sendiri terjadi pada September lalu. Ketika itu, Kim Jong Un hadir langsung di Beijing untuk menyaksikan parade militer dalam rangka peringatan Hari Kemenangan Tiongkok.
Pergeseran Geopolitik dan Pemulihan Ekonomi
Agenda diplomatik ini bergulir di tengah pergeseran peta geopolitik regional yang dinamis. Salah satunya ditandai oleh hubungan Pyongyang dan Moskow yang kian erat melalui perjanjian kemitraan strategis yang mencakup kolaborasi di sektor pertahanan.
Di sisi lain, Kim Jong Un dalam beberapa pekan terakhir kembali menegaskan prinsip teguh terkait program nuklir negaranya. Kim menyatakan status Korea Utara sebagai kekuatan nuklir bersifat permanen, tidak dapat diubah, serta menutup pintu negosiasi terkait hal tersebut untuk menghadapi tekanan internasional.
Meski menghadapi pembatasan global, hubungan ekonomi antara Tiongkok dan Korea Utara justru memperlihatkan sinyal pemulihan yang kuat. Volume perdagangan kedua negara mengalami lonjakan signifikan hingga hampir menyamai level sebelum periode pandemi, menegaskan posisi Tiongkok sebagai mitra dagang paling utama bagi Pyongyang.
Normalisasi juga terlihat pada sektor konektivitas transportasi antarnegara. Layanan kereta penumpang serta penerbangan langsung yang sempat dibekukan selama beberapa tahun akibat pandemi kini telah diaktifkan kembali.
Kunjungan resmi Xi ini juga bertepatan dengan momentum peringatan 65 tahun pakta perjanjian kerja sama strategis antara Tiongkok dan Korea Utara. Secara domestik, perekonomian Korea Utara dilaporkan menunjukkan performa pertumbuhan yang lebih baik berkat sokongan aktivitas sektor konstruksi, manufaktur, serta peningkatan volume ekspor.