Yahya Cholil Staquf Tegaskan Hidupkan Semangat Gus Dur Lewat Transformasi Sosial

Yahya Cholil Staquf Tegaskan Hidupkan Semangat Gus Dur Lewat Transformasi Sosial

Menghadirkan kembali semangat Abdurrahman Wahid pada masa kini tidak cukup hanya dengan mengenang sosok dan pemikirannya secara simbolik, seperti dikutip dari Cahaya.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf menjelaskan bahwa warisan terbesar Gus Dur justru terletak pada keberanian menghadirkan transformasi sosial yang sesuai dengan kebutuhan bangsa di zamannya.

Banyak orang selama ini memahami Gus Dur secara parsial, hanya pada sisi tertentu seperti pluralisme atau kritik terhadap kekuasaan, padahal figur tersebut jauh lebih besar dan kompleks.

“Saya kira sangat relevan, luar biasa Gus Dur ini. Tapi kita tidak boleh melihat Gus Dur itu secara parsial. Gus Dur melakukan banyak hal dan beliau terkenal mengenai banyak hal, tapi kita harus memahami Gus Dur secara lebih komprehensif,” ujar Gus Yahya di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Cara paling tepat memahami Gus Dur adalah melihat makna kehadirannya bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Seluruh langkah dan aktivisme Gus Dur selalu lahir dari konteks sosial dan politik yang sedang dihadapi Indonesia saat itu.

“Kalau saya ditanya tentang bagaimana sebetulnya cara kita memahami Gus Dur yang benar, menurut saya kita harus memahami bagaimana makna kehadiran Gus Dur bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” katanya.

Pada masa lalu, lembaga-lembaga politik mengalami kebuntuan sehingga masyarakat kehilangan ruang untuk menyampaikan aspirasi, dan dalam situasi tersebut Gus Dur hadir menjadi saluran bagi suara rakyat.

“Waktu itu lembaga-lembaga politik macet semua. Partai politik macet, parlemen macet sehingga rakyat tidak punya saluran untuk menyampaikan, mengartikulasikan aspirasinya. Gus Dur menyediakan diri sebagai saluran itu,” tuturnya.

Peran Gus Dur tidak berhenti sebagai tokoh kritik kekuasaan karena pendiri berbagai gerakan sosial dan pemberdayaan masyarakat itu juga aktif mendorong lahirnya kesadaran baru di lingkungan pesantren dan warga NU untuk terlibat dalam pelayanan masyarakat.

“Gus Dur juga secara sangat aktif dan cukup masif mengundang berbagai macam aktivisme NGO di lingkungan NU dan pesantren-pesantren. Pada waktu itu kita tahu bagaimana Gus Dur menginisiasi Lakpesdam, menginisiasi P3M, kemudian aktif di berbagai kegiatan NGO di tingkat komunitas,” ungkap Gus Yahya.

Dari gerakan tersebut tumbuh kesadaran kuat di kalangan warga NU untuk membangun community service dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat sekitar.

“Kita lihat hasilnya kemudian bahwa dengan apa yang dilakukan Gus Dur itu bangkit secara menyolok sekali kesadaran di lingkungan NU dan pesantren-pesantren untuk mengembangkan community services, mengembangkan layanan-layanan kepada komunitas,” ucapnya.

Menghadirkan Gus Dur pada masa kini bukan berarti sekadar mengulang gaya atau retorika masa lalu, melainkan menghadirkan kembali semangat transformasi sosial yang sesuai dengan tantangan zaman sekarang.

“Maka kalau kita ingin menghidupkan Gus Dur hari ini, menghadirkan Gus Dur hari ini, kita perlu berpikir negara ini hari ini butuh apa? Butuh kehadiran yang seperti apa supaya NU ini bisa hadir untuk mendorong transformasi yang positif bagi kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara,” jelasnya.

NU sebagai organisasi harus mampu menjalankan fungsi sosial sebagaimana dahulu dilakukan Gus Dur secara personal.

“Kita harus berpikir tentang bagaimana NU sebagai organisasi, sebagai satu entitas organisasional menjalankan fungsi laksana Gus Dur dalam hal makna kehadirannya bagi kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Gus Yahya.

Kritik-kritik Gus Dur masih relevan dan harus terus menjadi refleksi internal bagi kader-kader NU saat ini.

Jika Gus Dur masih hidup, kritik paling tajam kemungkinan besar justru akan diarahkan kepada pribadi-pribadi di dalam organisasi.

“Saya kira banyak hal yang akan beliau sampaikan ya dan mungkin kritik yang paling tajam akan ditujukan kepada pribadi-pribadi. Karena beliau itu adalah guru dan semua orang ini adalah murid,” katanya.

Ada beberapa hal mendasar yang kemungkinan besar akan terus dikritik Gus Dur, mulai dari soal keikhlasan, keluasan wawasan, hingga kedisiplinan dalam berorganisasi.

“Kritik tentang keikhlasan, kritik tentang keterbatasan wawasan, kritik tentang kedisiplinan di dalam berorganisasi itu akan beliau sampaikan dengan tajam,” tuturnya.

Bayangan atas kritik-kritik Gus Dur tersebut seharusnya menjadi cermin moral sekaligus pengingat bagi seluruh kader NU dalam berpikir dan bersikap.

“Ini sebetulnya yang harus membayang-bayangi cara berpikir dan bersikap dari kader-kader NU sekarang ini,” katanya.

Semangat kritik Gus Dur bukan bertujuan menjatuhkan organisasi, melainkan menjaga agar NU tetap memiliki orientasi moral, keberanian intelektual, dan tanggung jawab sosial di tengah perubahan zaman.

Tantangan NU hari ini jauh berbeda dibanding masa lalu, sehingga organisasi harus terus melakukan transformasi tanpa kehilangan nilai dasar yang diwariskan para pendiri dan tokoh-tokohnya.

Relevansi Gus Dur terletak pada keberanian membaca realitas zaman dan menghadirkan solusi yang kontekstual bagi masyarakat.

“Gus Dur hadir di tengah-tengah masyarakat, bangsa, dan negara ini untuk mendorong satu transformasi sistemik terhadap kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Gus Yahya.

Generasi muda NU diharapkan tidak hanya mengenang Gus Dur sebagai tokoh besar sejarah, tetapi juga memahami nilai dan semangat perjuangannya secara lebih mendalam.

Warisan paling penting dari Gus Dur bukan sekadar nama besar atau popularitas, melainkan keberanian untuk terus menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat melalui transformasi sosial, pemikiran terbuka, dan keberpihakan terhadap kemanusiaan.

Artikel terkait

Rekomendasi