Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, memberikan sinyal kesiapan untuk mencalonkan diri kembali dalam Muktamar ke-35 pada Agustus 2026 mendatang. Pernyataan ini disampaikan usai agenda penandatanganan kerja sama di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, pada Rabu (13/5/2026).
Gus Yahya, sapaan akrabnya, dipandang sebagai salah satu kandidat kuat untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut pada periode selanjutnya. Penguatan posisi ini muncul di tengah persiapan internal organisasi menjelang forum tertinggi Nahdlatul Ulama yang dilaksanakan lima tahun sekali tersebut.
"Saya ini cuma sekarang kan sedang berusaha melunasi utang janji saya maju calon waktu kemarin. Ya kalau sudah lunas semua ya sudah, kalau belum lunas ya saya akan minta tim," ujar Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU periode 2021-2026 sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Selain membahas pencalonan, Yahya menekankan pentingnya menjaga marwah Muktamar agar tidak terseret ke dalam kepentingan politik praktis. Ia berharap Muktamar ke-35 tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu sebagai modal politik menuju pemilihan nasional mendatang.
"NU tidak boleh menjadi kompetitor, tidak boleh menjadi kontestan di dalam kontestasi kekuasaan politik. Maka ya tentu saja kita akan upayakan bahwa Muktamar ini tidak menjadi ajang (atau) semacam batu loncatan untuk pemilu 2029," sambung Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU.
Keputusan mengenai waktu dan lokasi pasti pelaksanaan Muktamar ke-35 hingga saat ini belum ditetapkan secara formal. PBNU menjadwalkan rapat pleno pada 21 Mei 2026 guna menentukan jadwal Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Kombes) NU sebagai tahap awal.
"Rais A'am sudah menyetujui untuk kita selenggarakan pleno tanggal 21 Mei nanti. Itu nanti untuk memutuskan waktu dan tempat Munas Kombes dan kemudian di Munas Kombes itu akan dibicarakan dan diputuskan waktu dan tempat penyelenggaraan Muktamar," ujar Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU.
Terkait lokasi, Yahya mengungkapkan adanya sejumlah wilayah yang telah mengajukan diri sebagai tuan rumah, mulai dari Jakarta hingga daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Namun, penentuan lokasi final akan melalui mekanisme internal yang mengedepankan kearifan para kiai sepuh.
"Banyak usul-usulan, banyak sekali. Jakarta minta, Sumatera Utara, Sumatera Barat, NTB, Jawa Timur, ada beberapa. Jawa Tengah, Jawa Barat, banyak sekali. Jadi nanti kita akan bicarakan, kita putuskan dengan cara NU lah. Cara NU itu artinya dengan kebijakan dengan wisdom dari para sesepuh Kiai," tandas Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU.