Yasinta Moiwen Protes Pencatutan Wajah Tanpa Izin dalam Film Pesta Babi

Yasinta Moiwen Protes Pencatutan Wajah Tanpa Izin dalam Film Pesta Babi

Seorang tokoh perempuan adat Papua, Yasinta Moiwen, menyatakan kekecewaannya setelah wajah dan suaranya digunakan tanpa izin dalam film dokumenter berjudul Pesta Babi yang membahas dampak proyek food estate di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

Kekecewaan warga Distrik Ilwayab, Kampung Wogekel tersebut mulai viral melalui unggahan video pendek di media sosial X pada Sabtu, 23 Mei 2026, dilansir dari Suara. Yasinta mengaku terkejut karena tidak mengetahui rekaman dirinya menjadi bagian dari film tersebut hingga diputar di Jayapura.

"Itu tanpa izin dari saya, tanpa pengetahuan dari saya. Saya kaget waktu di Jayapura mereka putar, nama saya ditampilkan di depan," ujar Yasinta Moiwen.

Perempuan kelahiran 1964 ini merasa hak dan identitas pribadinya telah digunakan secara sepihak oleh para pembuat film untuk proyek investigatif tersebut. Nilai tradisi pesta babi sendiri sebenarnya merupakan simbol kedaulatan serta ketahanan pangan masyarakat lokal yang kini terancam oleh pembukaan lahan skala besar.

"Apa saya ini boneka atau ukiran Asmat yang ditampilkan tanpa pengetahuan saya, tanpa izin dari saya? Jadi saya kecewa di situ sudah, sampai sekarang ini," lanjut Yasinta Moiwen dengan emosional.

Yasinta menambahkan bahwa dirinya tidak pernah mengikuti proses wawancara khusus yang ditujukan untuk produksi film dokumenter tersebut sejak awal pembuatannya.

"Saya tidak diwawancara, mereka yang buat. Saya tidak buat itu wawancara untuk Pesta Babi. Saya tidak tahu, saya sumpah demi Tuhan saya tidak tahu mereka buat itu film Pesta Babi," tegas Yasinta Moiwen.

Selain masalah pencatutan identitas, Yasinta merasa keberadaannya hanya dimanfaatkan oleh pembuat film atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pendamping yang sering mengajaknya bepergian ke luar Papua tanpa memberikan bantuan nyata.

"Saya pulang balik ke Jakarta berapa kali, enam kali tahun lalu. Ke Bogor, ke Makassar tiga kali, Jayapura dua kali. Tapi apa yang saya dapat? Cuma dapatnya capek. Tidak pernah dapat bantuan. Saya sudah sampaikan saya punya rumah tidak layak. Baru saja berapa Minggu yang lalu saya minta beli HP saja sampai hari ini (tidak dikasih)," keluh Yasinta Moiwen.

Pernyataan Yasinta langsung memicu perdebatan publik di media sosial antara warganet yang menuduh adanya eksploitasi isu lokal dan pihak pendukung film yang menilai adanya potensi tekanan politik terkait isu food estate di Papua Selatan.

Artikel terkait

Rekomendasi