AADI Bukukan Saldo Laba USD758 Juta di Tengah Penurunan Keuntungan

AADI Bukukan Saldo Laba USD758 Juta di Tengah Penurunan Keuntungan

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan kenaikan saldo laba yang belum dicadangkan menjadi USD758,5 juta hingga akhir tahun 2025 dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Cyber 2 Tower, Jakarta, pada Jumat (22/5/2026).

Lonjakan dari posisi akhir tahun 2024 yang sebesar USD394,8 juta tersebut terjadi saat laba bersih perseroan terkoreksi 36 persen secara tahunan menjadi USD760 juta akibat penurunan pendapatan.

Dilansir dari Market, pelemahan kinerja keuangan emiten afiliasi Garibaldi 'Boy' Thohir ini dipicu oleh pendapatan usaha yang menyusut 7,7 persen menjadi USD4,91 miliiar dari perolehan tahun sebelumnya yang menyentuh USD1,21 miliar.

Meskipun laba bersih menurun, emiten batu bara ini tetap membagikan total dividen tahun buku 2025 sebesar USD450 juta atau sekitar Rp7,9 triliun, yang mencerminkan rasio pembayaran sebesar 59 persen.

Manajemen AADI memerinci alokasi penggunaan keuntungan tersebut ke dalam mekanisme pembayaran dividen interim dan dividen final bagi pemegang saham.

"Sejumlah USD450.000.000,- (empat ratus satu puluh juta dolar Amerika Serikat) dibagikan sebagai dividen tunai, dimana sebesar USD250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta dolar Amerika Serikat) telah dibayarkan pada bulan November 2025 sebagai dividen tunai interim, sedangkan sisanya sebesar USD 200.000.000,- (dua ratus juta dolar Amerika Serikat) akan dibagikan sebagai dividen tunai final." terang Manajemen AADI.

Direksi perseroan kemudian diberikan otoritas penuh untuk mengatur mekanisme pembayaran keuntungan kepada pemegang saham secara reguler.

"Dalam pelaksanaannya, memberikan wewenang mutlak kepada Direksi Perseroan, untuk atas diskresinya mengambil keputusan dan/atau melakukan tindakan apapun yang menurut pertimbangan Direksi Perseroan dianggap baik atau perlu dalam rangka pelaksanaan pembagian/pembayaran dividen tunai final, termasuk menetapkan jadwal dan tata cara pembagian/pembayaran dividen tunai final," lanjut Manajemen AADI.

Perusahaan selanjutnya memisahkan sisa perolehan laba bersih tahunan guna memperkuat struktur permodalan internal korporasi.

"Sejumlah USD 300.179.521,- (tiga ratus juta seratus tujuh lotta sembilan ribu lima ratus dua puluh satu dolar Amerika Serikat) dibukukan sebagai saldo laba Perseroan," terang Manajemen AADI.

Kebijakan pembagian dividen berkala ini disesuaikan dengan kondisi fundamental dan hasil evaluasi performa bisnis entitas usaha.

"Namun manajemen akan menilai kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividen di setiap periode laporan dan RUPST akan memutuskan nilai dividen final," tulis manajemen AADI.

Di sisi lain, MNC Sekuritas memberikan evaluasi atas pencapaian kinerja keuangan perseroan pada tiga bulan pertama tahun berjalan.

"Realisasi laba bersih AADI di bawah estimasi kami maupun konsensus, masing-masing hanya mencapai 15% dan 15,7% dari target setahun penuh 2026," tulis analis MNC Sekuritas, Raka Junico W.

Faktor operasional tambang diperkirakan akan mengalami normalisasi yang dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas global.

"Namun, penurunan itu sebagian akan diimbangi oleh kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) batu bara secara gabungan," jelas Raka.

Artikel terkait

Rekomendasi