Ahli Kesehatan Ungkap Putus Asa Remaja Naik 40 Persen

Ahli Kesehatan Ungkap Putus Asa Remaja Naik 40 Persen

Krisis kesehatan mental pada remaja dilaporkan telah mengalami lonjakan signifikan jauh sebelum merebaknya pandemi COVID-19. Lonjakan ini menjadi alarm penting bagi para orang tua dan pendidik untuk lebih peka.

Seperti dilansir dari Medcom, para praktisi kesehatan mendeteksi adanya kenaikan hingga 40 persen pada munculnya rasa putus asa serta keinginan mengakhiri hidup di kalangan muda dalam kurun satu dekade sebelum pandemi. Fase pandemi setelahnya dinilai memperparah tekanan psikologis yang sudah tertimbun lama.

Berdasarkan data American Psychological Association (APA), faktor pemicu stres anak muda sangat beragam. Selain isolasi sosial dan mandeknya aktivitas sekolah, terdapat pengaruh media sosial, paparan kekerasan massal, bencana alam, krisis iklim, hingga perpecahan politik.

Faktor lain yang memperkeruh kondisi ini adalah beban akademis dan aksi perundungan. Bentuk perundungan siber atau cyberbullying menjadi jenis yang paling diwaspadai karena dapat mengintai korban kapan saja tanpa batasan waktu persekolahan.

"Kami semakin sering melihat masalah kesehatan mental. Orang-orang semakin sadar akan tanda-tanda peringatan dan mencari bantuan. Semakin dini depresi dikenali, semakin baik hasilnya di masa depan," kata Rothman.

Depresi pada usia remaja sering kali tersamarkan karena kerap dianggap sebagai perubahan suasana hati atau sifat sensitif yang lumrah terjadi pada masa pubertas. American Academy of Child and Adolescent Psychiatry merinci sejumlah indikator depresi yang patut diwaspadai.

Gejala tersebut meliputi perasaan sedih yang mendalam, sering menangis tanpa alasan jelas, serta kecenderungan lebih mudah tersulut emosi atau marah. Remaja juga kerap kehilangan ketertarikan pada hobi atau aktivitas yang semula mereka gemari.

Secara sosial, mereka mulai menarik diri dari lingkaran pertemanan. Indikator fisik pun terlihat dari fluktuasi nafsu makan, penurunan berat badan secara drastis, hingga gangguan pola tidur seperti insomnia atau justru tidur secara berlebihan.

Dampak lain yang muncul adalah tubuh yang gampang letih, hilangnya pasokan energi, serta timbulnya perasaan tidak berharga atau gagal. Kondisi ini berujung pada penurunan konsentrasi yang memicu merosotnya pencapaian akademis di sekolah.

Pada tingkat yang lebih mengkhawatirkan, remaja bisa menunjukkan tanda berupa munculnya dorongan untuk mengakhiri hidup. Keluhan fisik sekunder seperti sakit perut dan sakit kepala yang muncul tanpa penyebab medis juga kerap menjadi pelarian psikologis.

Beberapa di antaranya bahkan nekat mengonsumsi zat-zat terlarang demi mendapat ketenangan sesaat, yang justru berdampak buruk bagi psikologis. Kepekaan lingkungan terdekat sangat dibutuhkan untuk memberikan ruang aman dan bantuan profesional bagi mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi