Kemampuan menjaga fokus dan kestabilan suasana hati menjadi faktor krusial dalam mendukung produktivitas harian. Sebuah penelitian menemukan bahwa nikotin memiliki potensi penting dalam membantu mempertahankan konsentrasi, meningkatkan perhatian, serta mendukung mood yang lebih baik bagi penggunanya.
Riset tersebut dipublikasikan oleh Harm Reduction Journal dengan judul "An exploratory, randomised, crossover study to investigate the effect of nicotine on cognitive function in healthy adult smokers who use an electronic cigarette after a period of smoking abstinence". Sesuai yang dilansir dari Lifestyle, studi ini melibatkan 40 perokok dewasa sehat sebagai partisipan.
Para peserta diminta untuk tidak mengonsumsi nikotin selama 12 jam sebelum menjalani lima sesi pengujian. Dalam setiap sesi, mereka secara bergantian menggunakan rokok konvensional, rokok elektrik dengan variasi kadar nikotin, atau tidak menggunakan produk sama sekali.
Tim peneliti kemudian membandingkan perubahan kemampuan fokus, perhatian, suasana hati, serta tingkat keinginan merokok sebelum dan sesudah penggunaan produk. Hasil studi menunjukkan bahwa produk bernikotin berpotensi meningkatkan kemampuan mempertahankan fokus dan memperbaiki mood dibandingkan saat peserta tidak mengonsumsi apa pun.
Selain itu, dalam hal menekan hasrat merokok, penggunaan rokok elektrik dengan kandungan nikotin juga terbukti mampu mengurangi dorongan tersebut secara signifikan.
"Ini menunjukkan bahwa rokok elektrik berpotensi menjadi alternatif yang dapat diterima bagi perokok dewasa, yang apabila tidak memiliki pilihan produk lain, kemungkinan akan tetap melanjutkan kebiasaan merokok," kata Harry J. Green, Penulis Utama studi tersebut, dikutip Senin (8/6/2026).
Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (AKVINDO), Paido Siahaan, menilai masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan informasi secara utuh, seimbang, dan berbasis sains terkait nikotin. Menurutnya, zat tersebut selama ini sering keliru dianggap sebagai pemicu utama bahaya rokok.
Paido menjelaskan bahwa berbagai kajian ilmiah membuktikan risiko kesehatan dari rokok sebenarnya berasal dari proses pembakaran tembakau. Proses ini menghasilkan tar, karbon monoksida, serta ribuan zat beracun lain yang kemudian terhirup melalui asap.
Sementara itu, nikotin merupakan zat yang secara alami ada di dalam tembakau, namun bukan penyebab utama penyakit akibat merokok. Oleh karena itu, solusi utamanya terletak pada metode konsumsi nikotin yang berbeda, yakni tanpa melalui proses pembakaran.
"Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) juga menjelaskan bahwa nikotin adalah zat adiktif yang membuat orang terus menggunakan produk tembakau, tetapi asap rokok, bukan nikotin itu sendiri, yang menjadi penyebab utama penyakit serius dan kematian pada perokok. Karena itu, informasi publik harus mampu membedakan antara nikotin dan risiko pembakaran," ungkap Paido.
Kontekstualisasi Informasi untuk Konsumen Dewasa
Mengenai temuan ilmiah tentang dampak kognitif nikotin, Paido mengingatkan bahwa informasi ini harus diposisikan dalam konteks yang tepat. Data ini tidak bertujuan untuk merangsang non-perokok, remaja, atau kelompok rentan untuk mengonsumsi nikotin.
Langkah ini murni ditujukan sebagai bentuk edukasi yang menyeluruh mengenai karakteristik asli dari zat tersebut agar masyarakat memahaminya secara objektif.
"Bagi kami, edukasi yang benar adalah edukasi yang tidak menakut-nakuti secara berlebihan, tetapi juga tidak mempromosikan nikotin yang tetap zat adiktif, sehingga penggunaannya tetap harus dibatasi hanya untuk konsumen dewasa, khususnya perokok dewasa yang mencari alternatif dari rokok," katanya.