Diet Protein Maxxing Tren Kebalikan Malah Berisiko Merusak Ginjal

Diet Protein Maxxing Tren Kebalikan Malah Berisiko Merusak Ginjal

Tren kesehatan baru bernama protein maxxing kini tengah populer di kalangan influencer kebugaran media sosial. Pola ini mendorong konsumsi protein dalam jumlah yang sangat tinggi.

Program ini dipercaya mampu menurunkan berat badan, membentuk otot, sekaligus meningkatkan performa fisik. Pengikut tren mengklaim asupan protein tinggi mempercepat rasa kenyang dan membakar lemak, seperti dikutip dari Wolipop.

Meski demikian, pakar kesehatan mengingatkan bahwa asupan protein berlebih tidak selalu memberikan manfaat bagi tubuh. Kepala Divisi Preventive & Lifestyle Medicine di Northwell Health, Dr. Penny Stern, menyatakan peningkatan konsumsi protein ke tingkat ekstrem tidak ideal bagi mayoritas orang.

Dampak buruk yang paling dikhawatirkan dari diet ekstrem ini berkaitan langsung dengan kesehatan organ ginjal. Ginjal memiliki fungsi penting untuk menyaring zat sisa hasil metabolisme protein, termasuk unsur nitrogen.

Beban kerja ginjal dipastikan bakal melonjak drastis saat asupan protein yang masuk terlalu tinggi dalam jangka panjang.

"Ginjal dipaksa bekerja lebih keras dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan tekanan yang tidak perlu," jelasnya, seperti dikutip dari People.

Dr. Penny memaparkan bahwa rata-rata orang dewasa sebenarnya hanya memerlukan sekitar 0,8 hingga 1,2 gram protein per kilogram berat badan setiap hari. Porsi yang lebih tinggi hanya ditujukan bagi atlet, kelompok lansia, atau individu dengan kondisi medis tertentu.

Mayoritas masyarakat dinilai sudah memenuhi kebutuhan protein harian lewat makanan biasa tanpa perlu mengikuti diet ekstrem.

"Protein memang nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh. Namun segala sesuatu yang berlebihan berpotensi menimbulkan dampak negatif," katanya.

Efek Domino pada Organ Lain

Tekanan berlebih pada ginjal akibat diet ini bisa memicu komplikasi kesehatan pada organ tubuh lainnya. Dr. Penny menyebutkan bahwa tubuh manusia bekerja sebagai satu kesatuan sistem yang saling terhubung.

"Ginjal yang terus-menerus mengalami tekanan dapat berkontribusi pada peningkatan tekanan darah dan peradangan. Tubuh tidak bekerja secara terpisah. Semuanya saling berkaitan," terangnya.

Oleh karena itu, pola makan yang mengutamakan keseimbangan nutrisi jauh lebih krusial daripada sekadar memburu satu jenis zat gizi secara berlebihan.

Risiko Kehilangan Nutrisi Penting

Penerapan protein maxxing juga memicu masalah lain berupa berkurangnya konsumsi kelompok makanan sehat seperti sayur, buah, dan biji-bijian. Dr. Penny mengungkapkan fenomena kekurangan serat justru menjadi masalah yang lebih sering ditemui.

"Sebagian besar orang tidak mendapatkan cukup serat. Itu masalah besar. Ketika terlalu fokus pada protein, sering kali makanan penting lain seperti sayuran, buah, dan gandum utuh menjadi terabaikan," jelasnya.

Zat serat sendiri memegang peran vital untuk memelihara saluran pencernaan, mengendalikan kadar gula darah, serta menjaga kesehatan jantung.

Prinsip Moderasi Pola Makan

Sebelum mengikuti tren protein maxxing atau diet viral lainnya, Dr. Penny menyarankan masyarakat untuk berkonsultasi dengan tenaga medis atau ahli gizi.

"Pola yang ekstrem bukanlah pilihan terbaik. Yang dibutuhkan tubuh adalah keseimbangan dan moderasi. Pilih kebiasaan yang bisa dijalankan seumur hidup, bukan hanya untuk sementara waktu," pungkasnya.

Para ahli menegaskan pola makan seimbang yang memadukan protein, serat, lemak sehat, buah, dan sayur tetap menjadi metode paling aman untuk menjaga kebugaran dalam jangka panjang.

Artikel terkait

Rekomendasi