Algoritma E-commerce Ubah Persaingan Seller Bukan Lagi Soal Kualitas

Algoritma E-commerce Ubah Persaingan Seller Bukan Lagi Soal Kualitas

Bisnis.com, JAKARTA — Algoritma dari platform e-commerce, seperti TikTok Shop, Shopee, Blibli, dan Lazada dinilai membuat persaingan seller di platform bergeser bukan lagi sekadar kualitas produk atau pelayanan, melainkan kemampuan seller mengeluarkan biaya lebih besar demi bertahan di sistem.

Menurut Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto, salah satu hal yang jarang dibicarakan secara terbuka adalah peran algoritma platform. Kini, algoritma dinilai menjadi penentu utama apakah sebuah produk bisa terlihat oleh calon pembeli atau justru tenggelam di antara jutaan produk lainnya.

Darmadi menjelaskan dalam ekosistem e-commerce saat ini, seller tidak cukup hanya memiliki produk bagus. Tanpa iklan dan promosi berbayar, produk akan sulit muncul di pencarian maupun rekomendasi platform.

Kondisi tersebut membuat seller harus mengeluarkan berbagai biaya tambahan agar tetap kompetitif. Mulai dari potongan komisi, biaya layanan, subsidi promo, hingga biaya iklan agar produk mendapatkan visibilitas.

“Ini bukan opsional, ini dipaksa sistem,” ujar Darmadi yang dikutip dari akun Instagram nya, Sabtu (9/5/2026).

Seller saat ini menanggung potongan biaya yang dinilai semakin besar. Jika digabungkan, potongan yang dikenakan platform disebut bisa mencapai 15% hingga 25% dari penjualan.

Di sisi lain, dana penjualan juga kerap mengalami penahanan saldo, sementara risiko pengembalian barang atau retur sebagian besar dibebankan kepada seller.

Belum lagi sistem algoritma yang mendorong seller untuk terus memasang iklan agar produk tetap muncul di halaman utama atau rekomendasi pembeli.

“Ini pay to survive system, bukan yang paling bagus yang menang, tapi yang paling kuat bakar margin,” jelasnya.

Dalam situasi tersebut, seller dengan modal besar dianggap memiliki peluang lebih tinggi untuk bertahan karena mampu terus membakar margin demi menjaga performa toko dan visibilitas produk.

Sebaliknya, Darmadi mengatakan pelaku UMKM kecil dinilai semakin tertekan. Jika kondisi ini terus berlangsung, UMKM tidak lagi tumbuh secara sehat, melainkan perlahan tersingkir oleh sistem persaingan yang semakin mahal.

Dia juga berharap kritik ini bisa didengar agar e-commerce tetap dianggap memiliki peran penting dalam memperluas pasar dan membantu penjualan pelaku usaha. Platform perlu tetap berkembang, pembeli tetap nyaman, tetapi seller juga harus diberi ruang untuk memperoleh keuntungan yang wajar.

“Kalau satu sisi ditekan, ini bukan pertumbuhan. Itu eksploitasi yang dibungkus dengan teknologi,” tutup Darmadi.

Pangsa Pasar E-Commerce RI

Shopee menguasai 54% pasar e-commerce Indonesia pada 2025 dengan estimasi gross merchandise value (GMV) atau nilai transaksi kotor mencapai US$31,2 miliar atau setara Rp539,7 triliun dengan asumsi kurs Rp17.320 per dolar AS.

Berdasarkan laporan Momentum Works dalam Ecommerce in Southeast Asia 2026, dominasi Shopee meningkat dibandingkan 2024 ketika platform tersebut menguasai 46% pasar e-commerce nasional. Pada saat itu, estimasi GMV Shopee berada di kisaran US$26 miliar atau sekitar Rp450,2 triliun.

Secara keseluruhan, nilai GMV e-commerce Indonesia mencapai US$57,7 miliar atau sekitar Rp999,4 triliun pada 2025. Angka tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar US$56,5 miliar atau sekitar Rp978,6 triliun.

Dengan capaian tersebut, Indonesia masih menjadi pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara sepanjang 2025. Di posisi kedua pasar e-commerce Indonesia terdapat gabungan TikTok Shop dan Tokopedia dengan pangsa pasar mencapai 38%. Dengan total GMV nasional sebesar US$57,7 miliar, maka estimasi GMV gabungan kedua platform mencapai sekitar US$21,9 miliar atau setara Rp380 triliun.

Pada 2024, Tokopedia dan TikTok Shop masih tercatat terpisah. Tokopedia memiliki pangsa pasar sebesar 23% dari GMV e-commerce Indonesia, sedangkan TikTok Shop sebesar 11%.

Sementara itu, Lazada menguasai 6% pasar e-commerce Indonesia pada 2025 dengan estimasi GMV sekitar US$3,5 miliar atau setara Rp60 triliun. Pangsa pasar tersebut sedikit menurun dibandingkan 2024 yang mencapai 7%.

Blibli memiliki pangsa pasar 3% pada 2025 dengan estimasi GMV sekitar US$1,7 miliar atau sekitar Rp30 triliun. Adapun, pada 2024, kontribusi Blibli tercatat sebesar 4% terhadap total GMV e-commerce nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi