Alumnus LPDP Raras Cynanthia Bangun Ekosistem Industri Kopi dan Serap 260 Karyawan

Alumnus LPDP Raras Cynanthia Bangun Ekosistem Industri Kopi dan Serap 260 Karyawan

Pendidikan tingkat doktoral sering kali dipandang sebagai jalur khusus untuk berkarier menjadi dosen atau peneliti di lingkungan akademis. Namun, anggapan tersebut berhasil dipatahkan oleh seorang alumnus beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bernama Raras Cynanthia.

Perempuan bergelar S3 ini membuktikan bahwa kedalaman ilmu pengetahuan yang diperoleh dari bangku kuliah dapat diimplementasikan secara nyata di sektor industri riil. Seperti dikutip dari Medcom, Raras kini berhasil membangun ekosistem rantai pasok industri kopi yang terintegrasi di Indonesia.

Langkah akademis Raras dimulai sebagai generasi penerima manfaat beasiswa LPDP angkatan paling pertama. Pada usia yang tergolong masih sangat muda, ia memantapkan diri untuk terbang ke Inggris guna menempuh pendidikan tingkat doktoral.

"Berangkat ke Inggris untuk S3 itu di usia 23 tahun, di tahun 2013. Saya pada saat itu mendapatkan beasiswa LPDP PK1, yaitu batch yang paling pertama," kata Raras dikutip dari unggahan instagram @lpdp_ri, Rabu 3 Juni 2026.

Ketika menempuh studi PhD di Inggris, Raras mendalami ilmu manajemen dengan fokus riset pada perilaku konsumen. Bidang keilmuan ini mempelajari secara mendalam tentang proses manusia berpikir, mengambil keputusan dalam memilih produk, hingga membangun keterikatan emosional.

"S1 saya di Psikologi UGM, S2 saya di University of Sheffield (Management Practice), kemudian lanjut PhD di University of Manchester. Kuliahnya manajemen, fokus di risetnya Consumer Behavior," jelasnya.

Setelah menyelesaikan studi dan kembali ke Tanah Air, Raras tidak membiarkan bekal riset akademisnya mengendap di perpustakaan. Ia melihat peluang besar dari tren kedai kopi yang menjamur di Indonesia, lalu merumuskan strategi bisnis yang berbeda dari kompetitor.

"Ilmu yang dulu dipelajari di ruang riset itu hari ini justru hidup di tempat yang kini begitu digandrungi anak muda, industri kopi. Jadi kita berpikir pada saat itu, 'Oke, sekarang coffee shop lagi cukup booming di Indonesia," lanjutnya.

Bersama suaminya, Raras memilih masuk ke industri ini sebagai penyuplai bahan baku, bukan langsung mendirikan kedai kopi mewah. Langkah taktis menjadi penyedia kopi ini diambil karena membutuhkan modal awal yang lebih terjangkau namun memiliki dampak jangkauan yang luas.

"Tapi kalau kita mau main, competing with all those coffee shops yang fancy, kita nggak bisa. Gimana kalau kita jadi supplier-nya aja? Nah, pada saat itu akhirnya karena jadi supplier modalnya lebih kecil," ungkap dia.

Bisnis tersebut dirintis dari sektor hulu dengan mengoperasikan fasilitas pemanggangan biji kopi mentah secara mandiri. Produk berkualitas tersebut kemudian ditawarkan ke berbagai korporasi berskala besar untuk membangun fondasi bisnis B to B yang kokoh.

"Dari menjadi roastery dan supplier, hingga berkembang menjadi brand," kata dia.

Saat ini, usaha rintisan tersebut telah bertransformasi menjadi sebuah ekosistem rantai pasok kopi yang modern. Raras juga memanfaatkan pengolahan data analitik mutakhir untuk memetakan perilaku serta preferensi pasar di berbagai wilayah Indonesia.

"Kita punya the whole ecosystem. Kita punya pabrik, kita jadi data center juga. Means kayak kita tahu titik-titik mana coffee consumption paling tinggi, jenis kopi apa yang paling banyak diminati di area tertentu. Itu baru dari sisi marketplace," sebut dia.

Melalui jenama Kopikina dan Kina Specialty, ruang yang dihadirkan kini berkembang melampaui fungsi kedai kopi konvensional. Tempat ini diintegrasikan sebagai pusat berkumpulnya berbagai komunitas, mulai dari pecinta olahraga hingga pegiat literasi dan seni.

"Kina Specialty goes beyond only the coffee. Kita tap in di music, kita tap in di art, kita tap in juga di communities. Jam 7 kita akan sering full sama runners, jam 10 kita akan bedah buku, malam kita akan ada music concert," terang dia.

Skala bisnis yang masif ini ditopang oleh kepemilikan pabrik pengolahan besar yang beroperasi di kawasan industri Cikarang. Keberadaan ekosistem usaha ini secara langsung telah menjadi tumpuan hidup bagi ratusan karyawan lokal yang mereka pekerjakan.

"Saat ini kami memiliki 260 karyawan. Kita punya pabrik di Cikarang. Hari ini, karya dan kontribusi Raras bukan hanya membawa Kopikina bertumbuh sebagai bisnis, tetapi juga menjadi sumber nafkah bagi ratusan pekerja," imbuhnya.

Dampak ekonomi dari bisnis rintisan ini juga dirasakan langsung oleh sektor pertanian di berbagai pelosok nusantara. Setiap bulan, perusahaan tersebut menyerap puluhan ton biji kopi langsung dari para petani lokal untuk disalurkan ke pasar korporasi maupun kedai mandiri.

"Untuk per bulannya kita sudah membeli lebih dari 50 ton kopi dari petani dari seluruh Indonesia yang kita proses dan kita jual secara B to B ke beberapa company lain ataupun juga kita jual di Kopikina kita sendiri. Membuka pasar bagi ratusan petani kopi dari berbagai daerah di Indonesia," tutur Raras.

Di samping kontribusi ekonomi, perusahaan yang dipimpin Raras juga berkomitmen mematuhi regulasi keuangan negara. Kepatuhan dalam menyetorkan pajak ini bahkan membuahkan apresiasi resmi dari otoritas perpajakan.

"Pernah juga dapat penghargaan penyumbang pajak terbesar dari KPP Matraman. Serta ikut berkontribusi kembali kepada negara melalui penerimaan pajak," pungkasnya.

"Di balik setiap cangkir kopi yang tersaji, ada rantai nilai yang menghidupi banyak orang," tutup dia.

Artikel terkait

Rekomendasi