Maybank Sekuritas merevisi turun proyeksi laba bersih PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) untuk tahun fiskal 2026 hingga 2028, seperti dikutip dari Investasi.
Langkah ini diambil setelah tingkat utilisasi pada kuartal pertama tahun 2026 berada jauh di bawah perkiraan awal karena model saat ini mengasumsikan peningkatan produksi peleburan yang lebih lambat serta harga jual rata-rata emas yang lebih rendah.
Analis Maybank Sekuritas, Hasan, dalam risetnya pada 3 Juni 2026 menjelaskan bahwa emiten tambang ini menghadapi kendala biaya penambangan yang lebih tinggi akibat jarak pengangkutan yang lebih jauh dan beban bahan bakar, ditambah pemeliharaan pabrik peleburan yang membuat pemanfaatannya kurang optimal.
Hasan memangkas proyeksi pendapatan AMMN sebesar 5,4% dan menurunkan proyeksi laba bersih sebesar 28,4% karena volume penjualan tembaga dan emas yang lebih rendah serta tingkat utilisasi peleburan sebesar 75%.
Proyeksi laba bersih untuk tahun fiskal 2027 dan 2028 juga masing-masing dipotong sebesar 27,5% dan 25,0% akibat margin yang lebih rendah dan asumsi harga jual rata-rata emas sebesar US$ 4.500 per troy ons, meskipun volume tembaga tidak mengalami perubahan.
Hasan memproyeksikan pendapatan dan laba bersih AMMN tahun 2026 masing-masing mencapai US$ 4,07 miar dan US$ 871 juta, sedangkan pada tahun 2025, perusahaan mengantongi pendapatan US$ 1,84 miliar dan laba bersih US$ 249 juta.
“Pada kuartal kedua tahun 2026, produksi diperkirakan akan meningkat seiring berakhirnya pembatasan izin ekspor dan peningkatan kapasitas pabrik peleburan/PMR (pemurnian logam mulia),” ujar Hasan dalam risetnya pada 3 Juni 2026.
Pada kuartal pertama 2026, tercatat AMMN menjual 30.013 dry metric ton (dmt) konsentrat, 28.764 ton katoda, dan 16.043 ons emas murni.
Pandangan berbeda disampaikan oleh Igor Putra, Analis UBS Sekuritas Indonesia, yang memperkirakan ekspor konsentrat bisa mencapai 50.000 dmt pada kuartal keempat tahun 2026 dari posisi 30.000 dmt di kuartal pertama tahun 2026 karena prioritas perusahaan pada peningkatan produksi katoda tembaga.
Produksi konsentrat diproyeksi meningkat kuat menjadi 168.000 dmt atau naik 110% secara year on year (yoy) yang didorong oleh bijih baru dan tingkat limbah tambang yang lebih rendah, sehingga menghasilkan 46.000 kiloton tembaga dan 136.000 ons emas dalam konsentrat.
Meskipun produksi katoda tembaga melonjak 43 kali lipat secara yoy, angka ini turun secara kuartalan akibat adanya pemeliharaan pabrik peleburan pada kuartal pertama tahun 2026.
Igor memperkirakan harga jual rata-rata (ASP) untuk tembaga sebesar US$ 11.627 per metrik ton dan emas sebesar US$ 5.000 per troi ons pada tahun 2026.
Peningkatan penjualan katoda tembaga, asam sulfat, dan emas olahan dinilai akan didorong oleh pertumbuhan produksi konsentrat serta peningkatan kadar tembaga atau emas yang diproses.
Terkait biaya operasional, Igor menilai biaya penambangan mungkin tetap tinggi namun akan kembali normal seiring dengan peningkatan produksi, penurunan limbah tambang, meskipun biaya bahan bakar tetap tinggi.
"Kami memperkirakan harga tembaga, emas, dan asam sulfat yang kuat akan terus berlanjut, mengingat dinamika penawaran dan permintaan tembaga serta ketegangan yang sedang berlangsung di Timur Tengah," ujar Igor dalam risetnya pada 30 April 2026.
Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, ikut memproyeksikan kinerja AMMN tahun ini akan mengungguli pencapaian tahun sebelumnya berkat peningkatan kadar bijih, optimalisasi utilisasi smelter, dan tren harga komoditas yang solid.
"Meski demikian, terdapat beberapa tantangan yang patut diwaspadai. Meliputi risiko eksekusi teknis operasional, volatilitas pasar eksternal, dan dinamika sentimen makroekonomi global," ucap Adrian kepada Kontan, Senin (8/6/2026).
Dari sisi pergerakan saham, Investment Research Stockbit Sekuritas, Theodorus Melvin & Andrian Tanuwijaya mencatat saham AMMN telah terkoreksi 52% secara year to date (YTD) dan turun 79% dari rekor tertinggi Mei 2024 akibat transisi operasi tambang dari fase 7 ke fase 8, shutdown smelter yang memicu penurunan laba bersih 2025 sebesar 61% yoy, serta aksi forced selling pasca-eksklusi MSCI per 29 Mei 2026.
"Kami melihat level menarik untuk akumulasi saham AMMN, seiring pemulihan kinerja yang sudah tervalidasi pada kuartal I – 2026 dengan laba bersih US$ 160 juta dan pertumbuhan produksi konsentrat sebesar 110% yoy," ujar Melvin & Andrian dalam risetnya pada 30 Mei 2026.
Untuk rekomendasi saham, Hasan dan Igor menyarankan aksi beli (buy) dengan target harga masing-masing Rp 5.500 dan Rp 8.800 per saham, sedangkan Melvin merekomendasikan accumulative buy dengan target Rp 4.900 per saham, sementara Adrian memilih bersikap wait and see karena kondisi pasar domestik belum kondusif.