Analis Soroti Penurunan Kinerja Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul

Analis Soroti Penurunan Kinerja Keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul

Kinerja keuangan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dilaporkan mengalami penurunan signifikan pada kuartal pertama tahun 2026 akibat adanya penyesuaian persediaan di tingkat distributor dan pelemahan daya beli masyarakat.

Kondisi keuangan emiten produsen herbal tersebut dinilai sebagai gangguan sementara, bukan penurunan struktural, seperti dilansir dari Investasi pada Senin (18/5/2026).

Analis melihat bahwa penahanan distribusi sengaja dilakukan untuk menormalisasi penumpukan stok yang sempat mencapai dua hingga tiga bulan di tingkat distributor.

Financial Analyst Wafi menjelaskan situasi makro dan internal yang sedang dihadapi oleh emiten produk kesehatan konsumen tersebut.

"Penurunan memang signifikan, tapi saya melihatnya lebih sebagai temporary disruption daripada structural deterioration. Realisasi pendapatan juga jauh di bawah pola musiman kuartal I biasanya," ujar Wafi, Financial Analyst.

Penurunan pendapatan secara kuartalan ini memicu tekanan pada margin keuntungan akibat adanya operating deleverage ketika perolehan pendapatan perusahaan sedang tertahan.

"Selain itu, pelemahan daya beli, tidak adanya kenaikan harga jual rata-rata, serta kenaikan biaya transportasi dan kemasan plastik akibat depresiasi rupiah juga menekan kinerja," jelas Wafi, Financial Analyst.

Kendati demikian, potensi pemulihan performa keuangan diproyeksikan mulai terlihat pada kuartal kedua seiring selesainya proses pembersihan sisa stok di saluran distribusi.

"Kuartal II berpotensi recovery signifikan setelah proses destocking selesai dan inventory kembali normal. Namun, normalisasi penuh ke level 2025 kemungkinan belum terjadi di kuartal ini," ungkap Wafi, Financial Analyst.

Sepanjang tahun 2026, total pendapatan SIDO diperkirakan mampu menyentuh angka Rp4 triliun dengan sokongan dari faktor musiman seperti peningkatan penjualan saat musim hujan di paruh kedua tahun.

"Efisiensi memang penting, tapi margin hanya bisa stabil jika diikuti penyesuaian harga atau pemulihan volume. Optimalisasi biaya hanya menahan penurunan, bukan mengembalikan margin ke level sebelumnya," kata Wafi, Financial Analyst.

Langkah efisiensi operasional diproyeksikan menjaga margin bersih SIDO berada pada kisaran 27% hingga 28% dengan target harga saham direkomendasikan beli pada level Rp600 per saham.

Sementara itu, pandangan mengenai normalisasi permintaan masyarakat pasca-pandemi turut disampaikan oleh perwakilan dari sekuritas lain.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai penurunan kinerja SIDO masih tergolong wajar di tengah normalisasi permintaan pasca pandemi.

Penurunan pada pos pendapatan ini secara otomatis menyeret perolehan laba bersih perusahaan ke level yang lebih rendah.

"Penurunan pendapatan turut berdampak pada laba bersih, meskipun secara fundamental perseroan masih memiliki neraca yang solid dan margin yang relatif baik dibandingkan peers di sektor consumer healthcare," ujar Abdul Azis Setyo Wibowo, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia.

Lemahnya daya beli dinilai menjadi tantangan terbesar karena momentum hari besar keagamaan di kuartal pertama belum mampu mendongkrak penjualan secara masif, sehingga investor disarankan untuk wait and see.

Artikel terkait

Rekomendasi