Spesialis paru dari Hospital HM Santísima Trinidad, Francisco J. Roig, meminta penerapan ketegasan epidemiologis dalam menanggapi wabah hantavirus yang melanda kapal pesiar MV Hondius di Tanjung Verde. Penilaian ini muncul setelah kapal tersebut tertahan akibat laporan kasus infeksi yang menimpa sejumlah penumpang, termasuk warga negara Spanyol.
Roig berpendapat bahwa data saat ini tidak menunjukkan adanya penularan yang luas dan seragam di antara seluruh individu di dalam kapal tersebut. Menurutnya, situasi ini lebih condong pada peristiwa lokal yang belum terselesaikan sepenuhnya dengan tingkat paparan yang berbeda-beda bagi setiap penumpang.
"Lo más plausible es un evento focal aún no completamente resuelto, con exposición desigual y riesgo heterogéneo" jelas Francisco J. Roig, Spesialis Paru Hospital HM Santísima Trinidad.
Pakar tersebut mengingatkan bahwa mayoritas hantavirus merupakan zoonosis yang disebarkan oleh hewan pengerat, sedangkan penularan antarmanusia hanya terdokumentasi pada virus Andes dalam kondisi kontak dekat yang lama. Roig menegaskan bahwa berada di kapal yang sama tidak secara otomatis menyamakan tingkat risiko bagi semua orang.
"Compartir barco no equivale a compartir el mismo riesgo" ujar Francisco J. Roig, Spesialis Paru Hospital HM Santísima Trinidad.
Ia mengusulkan stratifikasi risiko bagi 14 warga Spanyol di kapal, membaginya menjadi kelompok tanpa paparan, kelompok dengan paparan menengah, dan kelompok kontak erat. Roig menyatakan tidak masuk akal secara epidemiologi untuk menganggap semua penumpang berada pada risiko tinggi yang sama.
"No tiene sentido epidemiológico considerar a todos como expuestos de alto riesgo" kata Francisco J. Roig, Spesialis Paru Hospital HM Santísima Trinidad.
Terkait masa inkubasi satu hingga enam minggu yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Roig memperingatkan agar tidak ada interpretasi yang berlebihan. Hal tersebut dianggapnya sebagai dasar pemantauan klinis aktif, bukan alasan untuk menganggap semua orang sebagai kasus potensial.
"Ese dato justifica seguimiento clínico activo, no considerar a todos como casos probables" tegas Francisco J. Roig, Spesialis Paru Hospital HM Santísima Trinidad.
Roig juga mengkritik penggunaan istilah yang kurang tepat di media mengenai varian virus ini dan meminta ketepatan dalam terminologi virologi. Ia menekankan bahwa kesalahan umum dalam pemberitaan adalah mengubah ketidakpastian menjadi dikotomi yang keliru antara tidak ada risiko atau semua orang berisiko sama.
"El error frecuente en episodios mediáticos es convertir la incertidumbre en una falsa dicotomía: o no hay ningún riesgo, o todos están en riesgo equivalente. Ninguna de esas lecturas es compatible con una epidemiología bien hecha" ungkap Francisco J. Roig, Spesialis Paru Hospital HM Santísima Trinidad.
Mengenai jenis virus, Roig menyarankan untuk merujuknya sebagai garis keturunan atau subtipe dalam spektrum virus Andes yang sudah dikenal, alih-alih menyebutnya sebagai varian baru. Ia menyebut penelitian tahun 2025 telah mengarakterisasi strain baru, namun itu tidak berarti kasus Hondius adalah agen yang sepenuhnya baru.
"Hablar de ‘variante’ es demasiado laxo. Con la información disponible no puede afirmarse que sea nueva” tutur Francisco J. Roig, Spesialis Paru Hospital HM Santísima Trinidad.
Berdasarkan analisis tersebut, penanganan yang paling masuk akal bagi para penumpang adalah proses pendaratan terkontrol dan evaluasi klinis individu. Roig menyimpulkan bahwa sebagian besar penumpang kemungkinan besar tidak akan mengalami penyakit klinis di masa depan.
"En síntesis, el escenario central es "el de un evento limitado, con riesgo individual variable, en el que la mayoría probablemente no desarrollará la enfermedad" pungkas Francisco J. Roig, Spesialis Paru Hospital HM Santísima Trinidad.