Sektor pertambangan mineral dan batu bara domestik sedang menghadapi tekanan berat akibat ketidakpastian pasar geopolitik global dan kenaikan biaya operasional.
Situasi ini memaksa para pelaku usaha untuk memutar otak demi menjaga produktivitas sekaligus memperkuat posisi dalam rantai pasok mineral dunia.
Menyikapi tantangan ini, PT Andalan Artha Primanusa memperkokoh posisinya sebagai penyedia jasa pertambangan melalui langkah efisiensi dan keunggulan operasional, seperti dilansir dari Money.
Perusahaan melakukan peremajaan armada baru yang dinilai mampu menekan konsumsi bahan bakar secara signifikan.
Langkah selektif juga diterapkan dalam menyortir kontrak baru demi menjaga kesehatan portofolio bisnis dalam jangka panjang.
Langkah strategis tersebut berdampak positif pada performa finansial perseroan sepanjang tahun 2025.
Perusahaan mencatat margin EBITDA sebesar 39 persen dengan perolehan nilai mencapai Rp 145,4 miilar.
Hasil memuaskan ini didapatkan di tengah kendala keadaan kahar serta cuaca buruk yang mengganggu aktivitas industri pertambangan.
Berbekal kepastian volume dari kontrak yang sedang berjalan, perseroan membidik pertumbuhan tahunan majemuk yang ekspansif hingga kurun waktu 2028.
Pemasukan perusahaan diproyeksikan melonjak dengan CAGR 28 persen, dari target Rp 949,6 miliar pada 2026 menjadi Rp 1,41 triliun pada 2027, hingga menyentuh Rp 1,55 triliun pada 2028.
Sementara itu, EBITDA diestimasi tumbuh dengan CAGR 21 persen hingga menyentuh angka Rp 514,2 miliar pada 2028.
Adapun perolehan laba bersih ditargetkan meroket dengan CAGR 31 persen menjadi Rp 223,9 miliar pada periode yang sama.
"Fokus kami ke depan adalah menjaga komitmen pertumbuhan yang solid dan terukur ini demi memberikan nilai jangka panjang yang optimal bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Direktur Utama PT Andalan Artha Primanusa Gahari Christine dalam siaran pers, Selasa (19/5/2026).
Perusahaan modal domestik ini telah mengantongi pengalaman operasional selama delapan tahun sebagai kontraktor pengolahan batu bara.
Manajemen perseroan juga disokong oleh jajaran direksi yang memiliki rekam jejak lebih dari 20 tahun di dunia pertambangan.
Aspek keunggulan operasional dijadikan sebagai pilar utama untuk menggaransi efisiensi, keandalan, dan konsistensi eksekusi di lapangan.
Perusahaan menerapkan skema layanan pertambangan menyeluruh melalui sistem terpadu mulai dari perencanaan, eksekusi, hingga evaluasi berkala.
Proses operasional terintegrasi ini berjalan dari tahapan awal eksplorasi, penambangan inti, hingga reklamasi lahan pascatambang.
Penerapan prosedur keselamatan kerja yang ketat dan pemantauan alat berat menjadi kunci utama dalam mereduksi kendala teknis.
Ketahanan model bisnis ini diklaim teruji pada berbagai lokasi proyek multi-site yang memiliki karakteristik geografis berbeda.
Ekspansi Strategis ke Sektor Nikel
Selain mengandalkan komoditas batu bara, perusahaan mulai melebarkan sayap bisnisnya ke sektor pertambangan nikel.
Ekspansi ini direalisasikan setelah perseroan mengamankan Letter of Award dari PT Position yang berada di bawah naungan Grup Harum Energy untuk proyek di Halmahera Timur, Maluku Utara.
Menurut Gahari, situasi industri yang dinamis menuntut pemilihan mitra kerja yang kompeten sebagai aspek krusial keberlangsungan usaha.
Ia memproyeksikan kebutuhan kontraktor tambang yang akuntabel secara finansial akan terus melonjak seiring pengetatan standar efisiensi global.
Pihak manajemen optimistis mampu mencapai target pertumbuhan secara konsisten melalui kepastian volume kerja dan investasi armada yang terukur.
"Melalui pilar operational excellence yang kuat, investasi armada yang tepat, serta kedisiplinan dalam pemilihan kontrak, Andalan berkomitmen penuh untuk terus berdiri di garda depan sebagai mitra strategis yang mengawal stabilitas operasional dan mendukung keberlanjutan rantai pasok industri pertambangan di Indonesia," ungkap Gahari.