Anglo American Jual Tambang Batu Bara Bowen Basin Senilai Rp 68 Triliun

Anglo American Jual Tambang Batu Bara Bowen Basin Senilai Rp 68 Triliun

Perusahaan tambang asal Inggris, Anglo American, bersiap melepas aset tambang batu bara metalurgi mereka yang berlokasi di Bowen Basin, Queensland, Australia. Seperti dikutip dari Money, ladang tambang tersebut bakal diakuisisi oleh Dhilmar, sebuah perusahaan tambang swasta yang juga berbasis di Inggris.

Nilai investasi untuk meminang aset di kawasan penghasil batu bara metalurgi terbesar dunia ini mencapai 3,88 miliar dollar AS atau setara Rp 68 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.700 per dollar AS. Kesepakatan ini mencakup pembayaran tunai di muka sebesar 2,3 miliar dollar AS, serta dana tambahan hingga 1,58 miliar dollar AS yang nilainya bergantung pada fluktuasi harga batu bara ke depan.

Dhilmar Ltd sendiri dinakhodai oleh Alexander Ramlie yang bertindak sebagai Chief Executive Officer (CEO). Sosok Alexander Ramlie sudah tidak asing di industri pertambangan Indonesia, lantaran ia tercatat pernah menduduki posisi sebagai Direktur Utama PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Adapun portofolio utama milik grup swasta Dhilmar saat ini adalah tambang emas Eleonore di Kanada yang dibeli dari Newmont Corp pada tahun lalu.

Langkah divestasi ini sengaja diambil oleh Anglo American guna merestrukturisasi portofolio bisnis mereka. Perusahaan berniat menyederhanakan lini usaha menjelang realisasi penggabungan usaha atau merger dengan Teck Resources, korporasi tambang asal Kanada yang nantinya akan berfokus penuh pada komoditas tembaga.

"Melalui transaksi ini, kami akan menyelesaikan penghentian bisnis batu bara untuk pembuatan baja," ujar Chief Executive Officer (CEO) Anglo American, Duncan Wanblad dalam keterangannya, dikutip dari Reuters, Jumat (22/5/2026).

Meski pengumuman lepas aset telah mengudara, pergerakan saham Anglo American justru terpantau mengalami koreksi sebesar 1,7 persen. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya sektor pertambangan secara global yang terseret oleh kekhawatiran pasar terhadap isu inflasi dunia.

Aset batu bara kokas milik Anglo American di Australia ini sebelumnya sempat menarik minat raksasa tambang Amerika Serikat, Peabody Energy, pada tahun lalu dengan nilai penawaran 3,78 miliar dollar AS. Namun, rencana akuisisi tersebut kandas setelah kedua belah pihak gagal mencapai titik temu terkait penyesuaian harga pasca-insiden kebakaran tambang. Hingga saat ini, proses arbitrase antara Anglo American dan Peabody Energy terkait pembatalan transaksi tersebut masih terus bergulir.

Artikel terkait

Rekomendasi