Gangguan disorientasi akut mengancam jemaah haji lanjut usia di Tanah Suci akibat faktor kelelahan fisik, cuaca panas, serta perubahan lingkungan yang ekstrem pada Kamis (15/5/2026).
Kondisi ini mendapat perhatian serius dari tim medis di Arab Saudi, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Kelompok lansia dinilai menjadi pihak yang paling rentan mengalami penurunan kondisi mental tersebut selama pelaksanaan ibadah.
Dokter spesialis jiwa di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daerah Kerja (Daker) Makkah, dr. Rismayanti, memberikan penjelasan mengenai kerentanan yang dihadapi oleh para jemaah lansia tersebut.
"Karena lansia itu sangat rentan untuk terjadi disorientasi, khususnya mereka yang kelelahan fisik serta adanya lingkungan baru yang memicu hal tersebut," kata Rismayanti.
Gejala awal dari gangguan ini biasanya ditandai dengan munculnya kebingungan terhadap lokasi, waktu, dan orang-orang di sekitar jemaah. Jemaah yang mengalami kondisi ini umumnya mulai linglung, lupa arah tujuan, serta tidak memahami aktivitas ibadah yang sedang mereka jalani.
Langkah penanganan yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan untuk menjamin keselamatan jemaah di tengah padatnya fase ibadah haji.
"Lakukan reorientasi dan rehidrasi. Ingatkan lokasi mereka saat ini dengan tenang, dan berikan cairan oralit untuk menjaga keseimbangan tubuh," ujarnya.
Pihak medis meminta keluarga, pendamping, maupun sesama jemaah untuk segera melapor kepada petugas kesehatan sektor jika melihat gejala tersebut. Pemulihan kondisi jemaah akan berlangsung lebih cepat melalui sinergi antara ketua kloter, pendamping, dan tenaga kesehatan.
Selain upaya penanganan, pencegahan dehidrasi juga menjadi poin krusial karena cuaca ekstrem sering kali membuat jemaah tidak merasa haus meskipun tubuh kekurangan cairan.
"Jangan menunggu haus baru minum. Jemaah dianjurkan mengonsumsi cairan setidaknya 200 cc per jam secara rutin. Dehidrasi adalah pintu masuk utama menuju disorientasi," tegas Rismayanti.
Jemaah lansia juga diimbau untuk membatasi aktivitas fisik yang berlebihan serta tidak memaksakan diri menjalani ibadah sunnah secara terus-menerus. Strategi ini diterapkan agar kondisi fisik jemaah tetap prima saat memasuki puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
"Jadi bisa lakukan screening kira-kira aktivitas apa yang penting yang mereka lakukan di waktu yang tepat," ujar Rismayanti.