Perusahaan aplikator Grab dan Gojek resmi menghentikan program langganan akses layanan hemat bagi mitra pengemudi pada Selasa (19/5/2026). Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah nyata dalam menindaklanjuti arahan pemerintah terkait peningkatan kesejahteraan para pengemudi ojek online.
Langkah penghapusan sistem berbayar yang mewajibkan pengemudi berlangganan demi tarif tertentu ini dilansir dari Megapolitan. Kebijakan baru tersebut disambut positif oleh mayoritas pengemudi ojek online karena dinilai mampu membuat pendapatan harian mereka menjadi lebih layak.
Meskipun program langganan bagi pengemudi dihentikan, konsumen tetap bisa menikmati perjalanan murah lewat GrabBike Hemat dan GoRide Hemat dengan penyesuaian tarif. Selain itu, Gojek berencana memberlakukan pemotongan komisi aplikasi menjadi 8 persen per perjalanan dari yang sebelumnya mencapai 20 persen.
Pihak aplikator saat ini juga sedang menunggu penerbitan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 yang akan mengatur ekosistem transportasi online secara komprehensif. Perubahan skema operasional ini memicu berbagai tanggapan dari sejumlah mitra pengemudi di lapangan terkait dampak pendapatan mereka.
Seorang pengemudi ojol di kawasan Jakarta Pusat, Abdul (31), memprediksi bahwa penghapusan GoRide Hemat tidak akan terlalu memengaruhi jumlah pesanan harian pelanggan. Namun, ia tetap menaruh perhatian pada potensi dampak jika seluruh skema dikembalikan ke reguler.
“Kalau Hemat dihapus sih kayaknya nggak begitu ngaruh ke orderan. Cuma bakal berdampak kalau semuanya jadi reguler lagi,” kata Abdul.
Abdul menjelaskan adanya program "langcor" atau langganan gacor di dalam layanan tersebut yang kerap dipakai pengemudi untuk mendongkrak jumlah pesanan. Dirinya merasa khawatir apabila layanan sejenis seperti mitra jarak dekat yang baru berjalan dua bulan ikut dihentikan.
“Kalau GoRide Hemat dihapus, bisa jadi layanan mitra jarak dekat yang baru jalan sekitar dua bulan juga ikut dihapus. Tapi kalau argo goceng kemungkinan masih ada,” ujarnya.
Kekhawatiran lain yang dirasakan Abdul adalah potensi munculnya sistem baru dari perusahaan aplikator yang menerapkan nilai potongan komisi lebih besar. Ia memberikan gambaran mengenai selisih pendapatan yang diterima dari tarif konsumen selama menggunakan program Hemat.
“Kalau buat saya sih bagus Hemat diberhentiin. Cuma takutnya nanti muncul lagi yang lebih parah dari Hemat,” katanya.
Abdul mengkhawatirkan perubahan sistem ke depan justru berisiko membuat pendapatan bersih yang dibawa pulang oleh para pengemudi menjadi semakin kecil.
“Nanti bisa saja customer bayar Rp 14.000, tapi driver cuma dapat Rp 10.400. Itu malah bisa lebih berat,” ujarnya.
Masalah lain yang disoroti Abdul adalah jarak penjemputan penumpang pada sistem hemat yang sering kali terlalu jauh saat cuaca hujan atau jam sibuk. Menurutnya, keikutsertaan driver dalam program tersebut murni demi menjaga performa akun agar tetap ramai menerima pesanan harian.
“Kadang jarak jemputnya bisa 2 sampai 5 kilometer. Jadi bukan driver nggak mau ambil order, tapi memang kejauhan,” katanya.
Perubahan ini juga dipandang berpotensi memicu efek domino bagi layanan lain, terutama bagi para pengemudi yang akunnya kurang aktif. Abdul menambahkan bahwa ada indikasi penerapan potongan baru sebesar 8 persen meski belum menerima informasi resmi secara mendetail.
“Kalau menurut saya bakal ada efek domino ke beberapa layanan lain. Driver yang akunnya kurang bagus mungkin bakal paling terasa dampaknya,” ucapnya.
Sistem baru ini diharapkan segera disosialisasikan secara transparan agar tidak menimbulkan kebingungan di kalangan mitra pengemudi mengenai skema bagi hasil.
“Tadi saya lihat pendapatan ke mitra sudah 100 persen, biasanya 80 persen. Mungkin 8 persennya mulai diterapkan, tapi belum ada penjelasan jelas dari aplikator,” kata Abdul.
Sikap berbeda ditunjukkan oleh Andi (35), pengemudi ojol lainnya yang memilih fokus bekerja dan tidak terlalu mempermasalahkan dinamika perubahan sistem aturan aplikator. Baginya, stabilitas jumlah pesanan penumpang setiap hari jauh lebih krusial dibandingkan perubahan regulasi.
“Kalau saya sih jalanin aja. Mau sistem apa pun, yang penting orderan stabil. Kalau sepi ya tetap berat, kalau rame ya Alhamdulillah. Jadi buat saya yang penting itu kerjaan tetap jalan dan orderan jangan sampai turun,” ujar Andi.
Andi mengaku tidak terkejut dengan kebijakan baru ini karena para pengemudi sudah berulang kali menghadapi pergantian regulasi dari pihak manajemen perusahaan. Ia memilih beradaptasi dengan kondisi pasar transportasi online yang ada saat ini.
“Sudah sering juga berubah-ubah. Jadi sekarang ya kita ikut saja. Selama masih bisa narik dan masih ada penumpang, ya tetap dijalani,” ujar dia.
Sementara itu di wilayah Tangerang Selatan, seorang pengemudi bernama Cecep (45) menilai pendapatan dari tarif hemat tidak sebanding dengan biaya operasional. Ia menyambut gembira keputusan penghentian program tersebut dengan harapan pendapatan pengemudi bisa kembali sesuai regulasi pemerintah.
"Saya pribadi bergembira dengan keputusan Grab dan Gojek menghentikan program ini. Mudah-mudahan setelah layanan Hemat dihentikan, penghasilan driver bisa naik lagi dan lebih sesuai dengan aturan dalam Perpres," kata Cecep.
Cecep berharap penghapusan tarif murah ini memicu perbaikan struktur pendapatan harian para pengemudi ojek online secara menyeluruh.
"Putusan ini bisa menguntungkan driver, terutama dari sisi pendapatan. Dengan tidak adanya tarif yang terlalu murah, diharapkan order yang masuk memiliki nilai yang lebih layak bagi pengemudi," ujar Cecep.
Meski mendukung penuh, Cecep mengaku kebijakan ini tidak berdampak besar bagi dirinya secara pribadi karena selalu memprioritaskan pesanan reguler.
"Saya lebih nyaman ambil order biasa, ya sesual aja sama kondisi kerja dan penghasilan yang saya harapkan," ujar Cecep.
Penilaian senada diutarakan oleh Anjas (29) yang menyebut program hemat merugikan pengemudi karena adanya beban biaya tambahan untuk berlangganan. Menurutnya, pengemudi harus menyetor nominal tertentu kepada pihak aplikator agar sistem memberikan akses ke orderan hemat.
"Kalau hemat itu berbayar. Kita bayar buat masuk ke Bike Hemat, ke argo-argo hemat," kata Anjas.
Anjas memaparkan rincian potongan dana yang ditarik dari pengemudi Grab, di mana jumlahnya berjenjang mengikuti total pesanan yang diselesaikan harian.
"Kalau di Grab tergantung orderan. Misalnya satu sampai dua order itu Rp 3.000, dua sampai empat order Rp 8.500, terus maksimal sehari bisa sampai Rp 20.000," jelas dia.
Walaupun mengapresiasi penghapusan skema hemat, Anjas berharap hilangnya tarif murah tidak membuat minat masyarakat dalam menggunakan ojek online menurun.
“Harapannya hemat dihapus, tapi orderan tetap ada terus,” ucap Anjas.
Respons positif juga datang dari wilayah Bekasi, di mana para pengemudi menyambut baik rencana pemangkasan potongan komisi aplikasi yang diberlakukan perusahaan. Tugiyat (52), seorang mitra Gojek, berharap penurunan potongan komisi tersebut dapat mendongkrak pendapatan bersih per trip.
"Pastinya merasa senang ya. Jadi pendapatan mungkin agak lebih karena potongan itu kan berkurang. Dan semoga bebannya juga berkurang, tapi pendapatan per trip-nya itu nambah," ujar Tugiyat.
Tugiyat mengeluhkan situasi pendapatan harian ojek online belakangan ini yang tidak menentu dan sering kali berada di bawah standar kelayakan.
“Kadang ya dapat Rp 100.000, kadang ya Rp 50.000. Enggak pasti lah," jelas Tugiyat.
Di lokasi yang sama, pengemudi Grab bernama Supratman (50) menyatakan potongan komisi 20 persen yang berjalan selama ini sangat membebani finansial driver. Penyesuaian komisi dan penghapusan paket hemat dipandang sebagai solusi tepat guna meringankan beban operasional.