PT Archi Indonesia Tbk Targetkan Produksi Emas Meningkat 15 Persen

PT Archi Indonesia Tbk Targetkan Produksi Emas Meningkat 15 Persen

PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) membidik kenaikan volume produksi emas hingga 15 persen pada tahun ini setelah mencatatkan realisasi kinerja kuartal pertama yang melampaui target, seperti dilansir dari Investasi pada Senin (25/5/2026).

Lonjakan performa emiten pertambangan ini ditopang oleh realisasi produksi kuartal I-2026 yang mencapai 29 koz, mencatatkan pertumbuhan sebesar 36 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 21 koz.

Pertumbuhan volume produksi tersebut berdampak positif pada kondisi keuangan perusahaan, di mana pendapatan kuartal pertama melonjak 51 persen secara year on year menjadi US$ 137 juta dan laba bersih terkerek 188 persen hingga mencapai US$ 30 juta.

“Kami menargetkan peningkatan produksi sebesar 15% di tahun ini dibanding tahun 2025,” ujar Direktur Utama ARCI Rudy Suhendra dalam keterbukaan informasi.

Proyeksi profitabilitas emiten berkode saham ARCI ini juga berpotensi meningkat tajam apabila kondisi pergerakan harga komoditas emas di pasar global mampu bertahan pada level tinggi sepanjang tahun ini.

“Kami menargetkan peningkatan produksi sebesar 15% di tahun ini dibanding tahun 2025,” ujar Direktur Utama ARCI Rudy Suhendra dalam keterbukaan informasi.

Peningkatan kapasitas pabrik pengolahan dari semula 4 juta ton menjadi 6 juta ton per tahun serta pembukaan tambang bawah tanah baru di Marawuwung menjadi dua strategi utama perseroan saat ini.

"Harapan kami dua proyek strategis ini akan meningkatkan produksi ARCI secara signifikan mulai dari tahun 2028 dan ke depannya,” tutur Rudy.

Guna mempercepat proses produksi serta memaksimalkan nilai net present value (NPV), perusahaan bakal menggenjot recovery emas dengan agenda konstruksi yang dijadwalkan mulai berjalan pada semester I tahun 2026.

Pada penutupan perdagangan hari Senin (25/5/2026), pergerakan harga saham ARCI mengalami penguatan sebesar 1,65 persen ke level Rp 1.230 per saham, meskipun secara akumulatif dalam lima hari terakhir mencatat penurunan sebesar 6,46 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi