Ardi Bakrie Resmi Menjabat Direktur Utama VKTR Teknologi Mobilitas

Ardi Bakrie Resmi Menjabat Direktur Utama VKTR Teknologi Mobilitas

PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) secara resmi menunjuk Ardi Bakrie sebagai Direktur Utama yang baru. Keputusan strategis ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung di Jakarta pada Selasa (19/5/2026).

Ardi Bakrie mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Gilarsi Wahju Setijono. Seperti dikutip dari Money, Gilarsi telah mengajukan surat pengunduran diri dari jabatannya pada 13 Mei 2026 yang lalu.

Sebelumnya, Gilarsi didapuk menjadi Presiden Direktur PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas sejak 17 Februari 2026. Perminas merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru yang didirikan oleh Danantara pada 25 November 2025 untuk mengelola sektor pertambangan.

Wakil Komisaris Utama VKTR, Anindya Novyan Bakrie, mengumumkan langsung pengangkatan Ardi Bakrie ini. Ia menjelaskan bahwa dalam mengelola transformasi kendaraan listrik dan penguatan otomotif, Ardi akan didampingi oleh dua Wakil Presiden yang memiliki latar belakang saling melengkapi.

“Direktur Utama-nya adalah Pak Ardi Bakrie. Dan beliau mempunyai dua Wakil Presiden yang pertama Pak Adit yang sebelumnya di TransJakarta, dan kedua Bu Erika yang sebelumnya banyak di latar belakang mining, risk management, maupun juga human resource capital,” ujar Anindya saat ditemui di gedung VKTR usai RUPS.

Ardi Bakrie yang lahir di Jakarta pada 1979 merupakan lulusan Bentley University, Massachusetts, Amerika Serikat, dengan gelar MBA pada 2005. Sebelum memimpin emiten transportasi listrik ini, ia aktif di sektor media dan investasi milik Grup Bakrie.

Rekam jejak kepemimpinannya meliputi posisi Wakil Direktur PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) sejak 2017 setelah sebelumnya menjadi Direktur pada 2011-2017. Ardi juga menjabat Komisaris PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), Komisaris Utama PT Lativi Media Karya (tvOne), Komisaris PT Cakrawala Andalas Televisi (ANTV), Presiden Komisaris PT Viva Media Baru, serta Direktur PT Bakrie Global Ventura.

VKTR sendiri merupakan emiten yang fokus pada kendaraan listrik, komponen otomotif, hingga industri pengecoran besi dan baja. Perusahaan ini awalnya berdiri dengan nama PT Bakrie Steel Industries pada 23 November 2007 sebelum bertransformasi menjadi PT VKTR Teknologi Mobilitas pada 29 Maret 2022.

Saat ini, ruang lingkup usaha perseroan meliputi perdagangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB), suku cadang, aksesori otomotif, hingga industri karoseri. Operasional perusahaan didukung oleh anak usaha seperti PT Bakrie Autoparts (BA), PT Braja Mukti Cakra (BMC), dan PT Bina Usaha Mandiri Mizusawa (BUMM).

Bakrie Autoparts bergerak memproduksi komponen otomotif kendaraan komersial dan penumpang untuk pasar domestik maupun ekspor. Sementara BUMM memfokuskan diri pada pengecoran besi dan baja untuk sektor otomotif, general casting, serta alat berat.

Adapun BMC memproduksi berbagai komponen penting kendaraan. Produk yang dihasilkan meliputi drum brake, hub wheel, fly wheel, holder injection, disc brake, hingga rotor brake.

Struktur Kepemilikan Saham VKTR

Grup Bakrie hingga saat ini masih memegang posisi sebagai pengendali utama di dalam kepemilikan saham VKTR. Berdasarkan data pemegang saham per 8 Mei 2026, PT Bakrie & Brothers Tbk menguasai 24,40 persen saham atau setara dengan 10,68 miliar lembar saham.

Pemegang saham pengendali lainnya adalah PT Bakrie Metal Industries yang menggenggam 14,23 persen saham atau sekitar 6,23 miliar lembar saham. Selebihnya, saham perusahaan diisi oleh sejumlah investor institusi strategis.

Daftar investor institusi tersebut meliputi Indies Special Opportunities IV sebesar 4,71 persen dan Zeus Petro Energi sebesar 3,96 persen. Kemudian terdapat Tridaya Aset Globalindo sebesar 3,83 persen serta Maju Perkasa Optima Karsa dengan kepemilikan 3,64 persen.

Selanjutnya, Marga Raya Yasa tercatat memegang 3,50 persen saham dan Kuantum Akselerasi Indonesia memiliki 3,30 persen saham. Dua investor institusi lainnya adalah Glencore International Investments dengan 3,29 persen serta Kalila Mutiara Nusantara sebesar 3,17 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi