PT Arsy Buana Travelindo Tbk (HAJJ) memberikan jaminan bahwa operasional ibadah haji dan umrah tetap berjalan lancar pada Selasa (5/5/2026) meski tensi geopolitik di Timur Tengah sedang meningkat. Kepastian ini merujuk pada pernyataan otoritas Arab Saudi yang menegaskan penyelenggaraan ibadah tetap sesuai rencana semula.
Dilansir dari Market, Direktur Keuangan HAJJ Agung Prabowo menyatakan bahwa layanan kepada jamaah tidak mengalami dampak signifikan dari eskalasi regional tersebut. Perseroan saat ini terus memantau situasi secara aktif dengan memprioritaskan keselamatan dan prinsip kehati-hatian bagi seluruh jamaah.
"Dampak operasional secara keseluruhan relatif terbatas dan terkendali. Kami terus berkoordinasi erat dengan mitra dan otoritas terkait untuk memastikan seluruh layanan haji dan umrah berjalan aman dan lancar," jelas Agung Prabowo dalam keterangan resmi.
Meskipun kondisi geopolitik dinamis, perusahaan mencatatkan perbaikan profitabilitas pada awal tahun 2026. Agung menilai situasi saat ini masih berada dalam level yang dapat dikelola oleh manajemen perseroan.
"Kinerja kuartal I/2026 memperlihatkan efektivitas strategi kami dalam meningkatkan profitabilitas, dengan ekspansi margin yang konsisten di seluruh lini. Dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah yang kami pantau masih manageable dan terkendali," ujarnya.
Struktur biaya yang efisien serta alokasi sumber daya yang tepat diklaim menjadi fondasi bagi keberlanjutan kinerja perusahaan di masa depan. Manajemen optimistis tren positif akan terjaga sepanjang tahun ini seiring stabilnya permintaan perjalanan religi.
Pada periode kuartal I/2026, HAJJ membukukan laba neto sebesar Rp27,70 miliar, mengalami kenaikan dari posisi Rp18,71 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, pendapatan perseroan tercatat menurun menjadi Rp287,64 miliar dari sebelumnya Rp325,13 miliar.
Direktur Utama HAJJ Saipul Bahri mengungkapkan bahwa segmen hotel menjadi pilar utama dengan kontribusi 88,37 persen terhadap total pendapatan. Fokus pada allotment hotel di Makkah dan Madinah ini memperkuat basis pendapatan berulang perusahaan.
"Fokus pada segmen hotel dan disiplin biaya telah memperkuat posisi kami di pasar. Meski pendapatan mengikuti ritme kontrak di awal tahun, profitabilitas justru meningkat secara substansial," ujarnya.
Peningkatan signifikan terlihat pada laba kotor yang tumbuh 55 persen menjadi Rp63,80 miliar dengan lonjakan margin laba kotor menjadi 22,18 persen. Selain itu, margin laba sebelum pajak (EBT) naik menjadi 10,37 persen dan margin EBITDA meningkat ke level 12,11 persen.