Pemakaian pelembap atau moisturizer harus disesuaikan secara tepat dengan kondisi kulit masing-masing individu.
Jika asal dalam menggunakan pelembap, produk tersebut justru bisa memicu peradangan yang menyebabkan timbulnya jerawat.
Oleh karena itu, pemilik kulit berminyak sebaiknya memilih dan memakai pelembap yang memiliki formula berbasis air (water-based) serta bersifat non-comedogenic.
Banyak orang sudah rajin mengoleskan pelembap setiap pagi dan malam hari, namun masalah jerawat mereka tak kunjung reda bahkan menjadi makin meradang.
Persoalan utama sebenarnya bukan lagi terkait rajin atau tidaknya seseorang menggunakan pelembap, melainkan metode pemakaiannya yang dinilai masih keliru.
Seperti dikutip dari Suara, dr. Monica DR menjelaskan bahwa pelembap bukanlah sebuah produk yang harus digunakan secara otomatis setiap hari tanpa memeriksa kondisi kulit terlebih dahulu.
Memaksakan penggunaan pelembap di saat kondisi kulit sedang dalam keadaan baik dan tidak kering justru dapat memberikan dampak yang sebaliknya.
"Pelembap digunakan saat kondisi kulit mengalami dehindrasi atau efek penggunaan bahan aktif yang sifatnya mempercepat regenerasi kulit sehingga membuat wajah kering," kata dr. Monica DR.
Namun, apabila kondisi kulit wajah tergolong terlalu berminyak, dr. Monica DR menyarankan agar tidak mengoleskan pelembap secara berlebihan ke area wajah.
Anjuran ini memiliki alasan kuat, karena kondisi kulit yang sangat berminyak dapat menciptakan lingkungan lembap yang menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan bakteri penyebab jerawat.
Menambahkan lapisan pelembap di atas permukaan kulit yang sedang memproduksi sebum secara berlebih diibaratkan seperti menuangkan bensin ke api kecil, yang akan memperparah kondisi peradangan.
"Pilih moisturizer berbasis water-based, bukan emolien atau oil-based. Itu pun digunakan jika perlu saja," sambung dr. Monica DR.
Formula pelembap dengan jenis berbasis air ini memiliki karakteristik yang ringan, tidak menyumbat pori-pori wajah, dan tetap efektif menjaga hidrasi kulit tanpa merangsang produksi sebum secara berlebih.
Karakteristik formula tersebut dinilai sangat cocok untuk diaplikasikan pada kondisi kulit yang berminyak, berjerawat, maupun kulit yang sedang mengalami beruntusan.
Di samping kondisi kulit, faktor lingkungan seperti perubahan cuaca juga sangat menentukan tingkat kebutuhan kulit seseorang terhadap penggunaan produk pelembap.
"Ketika cuaca super dingin, kulit berpotensi mengalami dehidrasi. Pada kondisi ini butuh pelembap yang dapat mencegah keluarnya kelembapan alami kulit, supaya tidak menguap," ujar dr. Monica DR.
Sementara itu, saat menghadapi kondisi cuaca yang panas dan lembap seperti yang umum terjadi di wilayah Indonesia, masyarakat disarankan menggunakan pelembap bertekstur ringan atau gel.
Penggunaan tekstur gel ini bertujuan agar produk tidak terasa lengket di kulit serta tidak memicu produksi minyak yang berlebihan.
"Beda halnya saat cuaca panas dan berkeringat berlebih, itu gak wajib-wajib banget pakai pelembap. Apalagi yang bersifat emolien (berminyak), karena yang ada malah memicu bakteri masif dan menimbulkan masalah lain," tutur dr. Monica DR.