PT Astra International Tbk melakukan reposisi strategi bisnis pada Senin (25/5/2026) guna menjaga pertumbuhan kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Langkah penataan ulang ini berfokus pada penguatan sektor otomotif, jasa keuangan, serta alat berat dan solusi pertambangan.
Langkah strategis tersebut diambil perseroan karena ketiga sektor utama itu menyumbang sekitar 90 persen terhadap total laba bersih perusahaan. Penataan ini dilakukan untuk memaksimalkan efisiensi modal di tengah perubahan dinamika pasar.
“Strategi ini diharapkan dapat memperkuat kualitas portofolio bisnis dan meningkatkan efisiensi modal yang menghasilkan pertumbuhan laba serta nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Rudy, Presiden Direktur Astra.
Kinerja internal emiten berkode saham ASII ini tercatat mengalami pertumbuhan, namun berada di bawah rata-rata industri nasional, sebagaimana dilansir dari Otomotif. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil nasional periode Januari-April 2026 naik 12 persen menjadi 289.787 unit.
Astra Group sendiri membukukan penjualan sebanyak 143.365 unit atau hanya tumbuh sekitar empat persen secara tahunan pada empat bulan pertama 2026. Kondisi tersebut membuat pangsa pasar perseroan turun ke level 49 persen, dari periode sama tahun lalu yang berada di kisaran 51 hingga 56 persen.
Merek Toyota dan Lexus menjadi penyumbang terbesar penjualan Astra dengan capaian 86.574 unit, disusul Daihatsu sebanyak 48.280 unit, Isuzu 8.250 unit, dan UD Trucks 261 unit. Penurunan pangsa pasar ini terjadi di tengah agresivitas merek non-Astra seperti BYD dan Denza yang mencetak penjualan gabungan 19.247 unit pada periode yang sama.
Guna menghadapi situasi tersebut, emiten ini memperkuat ekosistem otomotif mulai dari penjualan mobil baru dan bekas, suku cadang, hingga layanan purna jual. Portofolio bisnis lain tetap dikembangkan secara selektif dengan disiplin alokasi modal yang ketat, termasuk opsi aksi pembelian kembali saham (share buyback).
Secara historis, kinerja keuangan perseroan menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam satu dekade terakhir. Laba bersih tercatat melonjak 126 persen dari Rp 15 triliun pada 2015 menjadi Rp 33 triliun pada 2025, yang diikuti kenaikan nilai dividen dari Rp 113 menjadi Rp 390 per saham.