Kebiasaan mendiagnosis penyakit secara mandiri atau self-diagnose melalui internet dan kecerdasan buatan kini menjadi tren baru masyarakat perkotaan. Banyak individu lebih memilih layar ponsel sebagai rujukan pertama dibandingkan mengunjungi fasilitas kesehatan saat merasakan keluhan medis.
Pergeseran perilaku ini menyimpan risiko serius yang perlu diwaspadai karena berkaitan dengan standar kesehatan masyarakat secara luas. Temuan terbaru Health Collaborative Center (HCC), sebagaimana dikutip dari Lifestyle, menunjukkan fenomena ini sudah mencapai tahap mengkhawatirkan.
"Enam dari 10 anak muda urban lebih memilih untuk swadiagnostik ketika ada keluhan kesehatan pertama kali, dan enggak akan langsung buru-buru ke dokter," kata Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH selaku Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, dalam diskusi di Jakarta, Rabu (13/5/2026).Ketergantungan Tinggi pada Algoritma Digital
Penelitian terhadap 448 responden usia produktif di bawah 39 tahun mengungkap ketergantungan yang sangat besar pada instrumen digital. Sebanyak 99,5 persen responden mengakses internet harian melalui ponsel pintar, dengan 23 persen di antaranya menghabiskan waktu lebih dari enam jam setiap hari.
"Kebayang algoritma itu udah jadi referensi kesehatan utama anak muda sekarang di bawah 39 tahun," kata Ray.Profil responden menunjukkan latar belakang pendidikan dan ekonomi yang mapan, di mana mayoritas adalah lulusan sarjana hingga S2. Sebanyak 61 persen memiliki gaji setara atau di atas UMR, sementara 17 persen berpenghasilan melebihi Rp 10 juta per bulan.
"Malah mereka lebih tinggi risikonya untuk menggunakan self-diagnostic dibanding ke dokter," tutur Ray.Status Darurat Kesehatan Masyarakat
Sebanyak 75 persen responden berasal dari lima kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta. Dari kelompok tersebut, tercatat 59,8 persen anak muda memilih swadiagnostik sebagai langkah penanganan pertama.
"Suatu perilaku kesehatan kalau sudah di atas 40 persen itu dianggap sebagai public health concern," kata Ray.Angka yang hampir menyentuh 60 persen ini telah melewati batas indikator aman epidemiologi dari World Health Organization (WHO). Kondisi tersebut membuat kebiasaan mendiagnosis lewat internet masuk dalam kategori masalah kesehatan masyarakat berskala luas.
"Jadi, studi HCC ini mengatakan bahwa self-diagnostic pada anak muda urban di Indonesia sudah punya risiko public health concern," kata Ray.Kesenjangan Literasi Digital
Tingginya penggunaan mesin pencari untuk urusan medis ternyata tidak dibarengi dengan pemahaman literasi digital yang memadai. Berdasarkan instrumen eHEALS, sebanyak 45 persen anak muda memiliki tingkat literasi kesehatan digital yang rendah.
Kesenjangan ini memperbesar risiko masyarakat dalam menerima informasi medis secara mentah tanpa penyaringan fakta yang akurat. Akibatnya, ancaman diagnosis keliru menjadi nyata karena teknologi tidak mampu memeriksa kondisi fisik pasien secara riil.
"Yang pertama adalah pasti akan ada risiko over diagnosis yang sangat tinggi," kata Ray.Dampak Psikologis dan Prosedur Medis yang Hilang
Rekomendasi dari mesin pencari seringkali memicu kecemasan kesehatan berlebih atau dikenal sebagai cyberchondria. Kondisi ini membuat seseorang terus mencari pembenaran atas penyakit yang diyakini tanpa adanya pembuktian medis profesional.
"Orang merasa bahwa apa pun rekomendasi kata per kata yang keluar dari mesin algorithm itu memberikan kecemasan kesehatan," kata Ray.Pemeriksaan klinis yang akurat membutuhkan evaluasi mendalam yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Tenaga medis mengikuti prosedur mulai dari anamnesis keluhan, inspeksi fisik, palpasi, hingga perkusi dan auskultasi.
"Di algoritma, lima langkah itu dilewati. Bayangin teman-teman. Hanya dengan mengambil kata, mengambil data dari mana aja," kata Ray.Ketiadaan pemeriksaan fisik menyeluruh membuat hasil prediksi mesin tidak bisa menjadi patokan sah dalam dunia medis. Teknologi kecerdasan buatan dan mesin pencari idealnya tidak mengambil alih keahlian dokter yang sesungguhnya.
"Tapi tetap, ujung-ujungnya diagnostik hanya boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan," kata Ray.