Ahli IPB Jelaskan Bahaya Konsumsi Lele dari Lingkungan Tercemar

Ahli IPB Jelaskan Bahaya Konsumsi Lele dari Lingkungan Tercemar

Ikan lele memiliki reputasi sebagai satwa air yang sangat adaptif dan mampu bertahan hidup dalam kondisi lingkungan dengan kualitas air buruk. Meski demikian, aspek keamanan pangan tetap menjadi prioritas utama bagi konsumen yang ingin mengonsumsi komoditas perikanan air tawar ini.

Budidaya lele modern saat ini umumnya telah dilakukan dalam lingkungan yang terkontrol dengan standar pakan yang terjaga kualitasnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan ikan yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi dan bebas dari kontaminan berbahaya yang mungkin muncul dari lingkungan yang tidak higienis.

Dilansir dari Detik Health, pakar budidaya perikanan dari IPB University, Dr Ir Cecilia Eny Indriastuti, M.Si, menjelaskan bahwa pemberian pakan yang tidak terkontrol justru akan merugikan petani. Menurutnya, hal tersebut berkaitan erat dengan kegagalan pencapaian target panen akibat pertumbuhan yang lambat.

"Jika pakan lele tidak terkontrol maka target panen tidak tercapai dari pertumbuhan yang lambat, rentan terhadap penyakit, daging yang tidak hygienis, kemungkinan terpapar bakteri e-coli dan yang lain besar, sehingga merugikan petani," jelas Cecilia.

Kualitas air dan sanitasi kolam memegang peranan krusial dalam menentukan potensi kontaminasi pada ikan konsumsi. Lingkungan yang tercemar oleh limbah organik maupun bahan kimia dapat menjadi sarana perkembangbiakan mikroorganisme patogen yang membahayakan kesehatan manusia.

Cecilia menegaskan bahwa praktik budidaya di lingkungan kotor tidak dapat dibenarkan dari perspektif keamanan pangan. Kontaminasi dapat terjadi secara fisik, biologi, maupun kimiawi jika standar kebersihan lingkungan tidak dipenuhi oleh para pembudidaya.

"Dari sisi keamanan pangan tidak dibenarkan. Pakan yang diberikan dan lingkungan yang kotor dapat menyebabkan kontaminasi baik secara kimia, biologi maupun fisika," ujar Cecilia.

Sejumlah studi mikrobiologi pangan menunjukkan bahwa ikan lele yang dipelihara di perairan tercemar berisiko membawa bakteri patogen. Jenis bakteri yang sering ditemukan antara lain Escherichia coli, Salmonella spp., hingga Aeromonas spp. yang berasal dari limbah organik.

Jika dikonsumsi tanpa penanganan yang tepat, bakteri-bakteri tersebut dapat memicu gangguan pencernaan seperti diare dan mual. Risiko infeksi ini akan menjadi jauh lebih serius bagi individu yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah atau sedang menurun.

"Sebenarnya bisa saja dikonsumsi, karena sudah menjadi daging, namun dikhawatirkan daging tersebut terkontaminasi bakteri dan secara keamanan pangan tidak higienis," tutur Cecilia.

Meskipun proses memasak dengan suhu tinggi dapat meminimalisir jumlah bakteri, hal tersebut tidak menjamin hilangnya seluruh risiko kesehatan. Pencegahan kontaminasi harus dimulai sejak proses budidaya, penanganan pasca-panen, hingga pengolahan di dapur konsumen.

Untuk meningkatkan faktor keamanan, konsumen disarankan memastikan ikan dimasak hingga matang sempurna dan menghindari kontaminasi silang dari peralatan masak. Menjaga kebersihan selama penyimpanan juga menjadi langkah penting dalam rantai keamanan pangan.

Ikan lele sebenarnya merupakan sumber nutrisi yang sangat baik dan sering kali disetarakan dengan salmon dalam hal nilai gizi. Namun, manfaat nutrisi tersebut hanya bisa diperoleh secara optimal jika ikan berasal dari lingkungan budidaya yang bersih dan sehat.

Artikel terkait

Rekomendasi