Musim pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham masih terus bergulir di pasar modal dalam negeri. Di tengah fluktuasi pasar yang dinamis, sejumlah emiten bersiap melaksanakan tenggat akhir kepemilikan saham yang berhak menerima dividen atau cum dividen tunai.
Ketika perdagangan dibuka kembali pada Jumat (29/5), terdapat 9 emiten yang menjadwalkan cum dividen tunai, seperti dilansir dari Investasi. Emiten tersebut meliputi SOHO sebesar Rp 39,5 per saham, PTPS Rp 4,5, TPMA Rp 42, TCID Rp 38, ASLC Rp 1, PPGL Rp 39,5, GEMS Rp 237,95, INET Rp 0,04, dan SRSN Rp 1,1.
Gelombang pembagian keuntungan berlanjut pada Selasa (2/6/2026) pekan depan dengan 12 emiten yang memasuki masa cum dividen. Daftar ini mencakup INDY sebesar Rp 10,25, RGAS Rp 1,1, STAA Rp 75, CPIN Rp 180, JATI Rp 1,91, ASRM Rp 3, JSMR Rp 156,23, BFIN Rp 35, NELY Rp 10, GEMA Rp 2, TOWR Rp 6,89, dan LFLO Rp 4,59.
Jumlah emiten yang menjadwalkan cum dividen pada Rabu (3/6) meningkat menjadi 13 perusahaan. Mereka adalah INTP senilai Rp 468, SMKL Rp 3, KLBF Rp 20, KMDS Rp 26, BOBA Rp 6, MYOH Rp 64,31, CRSN Rp 0,33, UVCR Rp 0,5, RMKE Rp 30, KINO Rp 45, PGUN Rp 6,97, EMTK Rp 5, dan SCMA Rp 12.
Sementara itu, pada Kamis (4/6), ada 12 emiten yang dijadwalkan cum dividen. Perusahaan tersebut adalah SMAR sebesar Rp 270, AADI yang belum mengumumkan nominal, GJTL Rp 80, MAHA Rp 12, EKAD Rp 9, INCI Rp 20, NRCA Rp 40, PSGO Rp 6, TAPG Rp 91, PGAS Rp 125,61, SMCB Rp 36,52, dan BISI Rp 26.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menjelaskan bahwa indikator utama yang biasa digunakan investor untuk mengukur daya tarik dividen adalah dividend yield. Dari daftar tersebut, beberapa emiten menawarkan potensi yield yang berada di atas rata-rata pasar sekitar 3%-5%.
Harry memberikan contoh GEMS yang memiliki daya tarik tinggi karena sektor batu bara secara historis mempunyai rasio pembayaran dividen yang besar. Emiten ini juga konsisten membagikan keuntungan interim beberapa kali setahun sehingga akumulasi imbal hasilnya sering mencapai dua digit.
Emiten lain yang disorot adalah PGAS yang mengalokasikan sekitar 80% laba bersih tahun buku 2025 sebagai dividen. Berdasarkan harga saham PGAS pada perdagangan Selasa (26/5/2026) sebesar Rp 1.895 per saham, estimasi yield yang dihasilkan berkisar 6,63% yang menjadikannya salah satu BUMN paling royal.
Harry juga menyebut saham SMAR menarik karena nominalnya yang besar mampu memberikan persentase imbal hasil tebal, ditopang oleh kinerja operasional sawit yang stabil selama 2025. Selain itu, INTP dinilai memikat karena memiliki nominal pembagian per saham terbesar untuk pekan depan, meskipun sektor semen sedang menghadapi tantangan perlambatan bisnis.
"Pembagian dividen jumbo ini merupakan bentuk komitmen manajemen untuk mengembalikan nilai tunai kepada pemegang saham, meskipun investor perlu mencermati valuasi harga sahamnya agar yield tetap optimal," ungkap Harry, Rabu (27/5/2026).
Dalam kesempatan terpisah, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy memaparkan beberapa emiten yang menawarkan potensi imbal hasil tinggi. Berdasarkan kalkulasinya, INTP menawarkan yield sekitar 9,7%, diikuti TPMA 8,3%, STAA 7,3%, GJTL 6,7%, dan PGAS 6,6%.
Sementara itu, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto berpandangan bahwa emiten seperti GEMS, INTP, PGAS, CPIN, JSMR, KLBF, TOWR, dan peluang pada AADI sangat menarik dicermati. Perusahaan-perusahaan ini dinilai memiliki fundamental yang lebih mapan di samping nilai dividen yang relatif besar.
Rully melihat musim pembagian keuntungan ini dapat menjadi sentimen positif bagi bursa, namun efeknya tidak cukup kuat untuk menjadi faktor tunggal pengubah arah pasar. Terlebih lagi, awal Juni bertepatan dengan pelaksanaan perombakan bobot indeks MSCI dan FTSE yang cukup sensitif bagi pelaku pasar.
"Faktor arus dana asing dan positioning institusi kemungkinan tetap lebih dominan daripada euforia dividen," kata dia, Rabu (27/5).
Senada dengan pandangan tersebut, Budi memperkirakan dampak dari sentimen ini tidak akan terlalu masif. Pasar saat ini sedang menghadapi tekanan eksternal lain seperti penyesuaian indeks MSCI-FTSE, pelemahan nilai tukar rupiah, kebijakan suku bunga acuan, hingga risiko keluarnya modal asing.
Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan tidak ceroboh membeli saham hanya karena mengejar jadwal pembagian yang sudah dekat.
"Harga saham biasanya berpotensi turun saat ex-date, minimal sebesar nilai dividen teoritis," tutur dia, Rabu (27/5).
Budi menambahkan bahwa langkah yang lebih aman adalah mengoleksi saham incaran jauh sebelum periode cum date, dengan syarat investor telah meyakini aspek fundamental dan likuiditas saham tersebut. Investor juga diminta menjauhi saham yang melonjak tajam hanya karena euforia sesaat.
"Jangan mengejar yield tinggi jika prospek bisnisnya sedang turun, karena itu bisa menjadi dividend trap," jelas Budi.
Rully turut menegaskan bahwa strategi terbaik bukanlah memburu momentum tanggal cum date semata, melainkan mengoleksi saham pilihan pada tingkat harga dan valuasi yang wajar guna menghindari perangkap penurunan harga setelahnya. Investor disarankan memegang saham dengan rekam jejak pembagian yang konsisten.
Untuk keperluan transaksi jangka pendek, Harry menyarankan pembelian saham incaran dilakukan dalam rentang waktu dua minggu hingga tujuh hari sebelum masa cum date tiba. Pada periode tersebut, harga biasanya belum mengalami lonjakan akibat euforia pengumuman resmi jadwal pelaksanaan.
Selanjutnya, pelaku pasar dapat merealisasikan keuntungan dengan menjual saham pada hari cum date menjelang penutupan pasar atau langsung melepasnya pada pembukaan sesi pertama di hari ex-date. Harry merekomendasikan opsi beli saat melemah untuk saham PGAS sebelum tanggal 4 Juni 2026.
Budi menambahkan, akumulasi saat harga terkoreksi juga dapat diterapkan pada saham INTP, JSMR, PGAS, dan CPIN. Bagi pelaku pasar yang ingin bergerak lebih spekulatif, saham TPMA, STAA, GJTL, dan SMAR dapat menjadi alternatif, namun kewaspadaan tinggi tetap diperlukan pada saham dengan yield kecil dan likuiditas tipis.