Strategi hak penamaan alias naming right di tempat persinggahan transportasi umum kini menjadi pilihan para pelaku industri perbankan. Langkah ini dinilai efektif untuk menarik perhatian calon nasabah baru.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu korporasi yang telah lama menerapkan metode ini, seperti dikutip dari Keuangan. Hingga saat ini, bank tersebut masih memegang hak penamaan untuk Stasiun MRT Blok M.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Heryn mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diambil dengan melihat prospek bisnis yang menjanjikan di masa depan.
"Terkait hak penamaan Stasiun MRT Blok M, BCA mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk prospek dan kebutuhan bisnis perusahaan," kata Hera kepada Kontan.
Peluang untuk menjalin kerja sama serupa di tempat lain masih terbuka bagi pihak bank. Kendati demikian, manajemen tetap akan mengkaji segala keputusan berdasarkan profil risiko serta kebutuhan perseroan.
"BCA senantiasa terbuka terhadap setiap kemungkinan untuk menjalin kerja sama dengan mitra strategis untuk mendukung pertumbuhan bisnis perusahaan," ucapnya.
Melalui kolaborasi ini, pihak manajemen juga berharap dapat memberikan dampak positif lain. Salah satunya adalah memotivasi masyarakat agar lebih aktif memanfaatkan fasilitas transportasi publik.
Pandangan mengenai fenomena ini turut dikemukakan oleh Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan. Menurutnya, langkah ini sudah bergeser dari sekadar tren musiman bagi bank-bank raksasa.
Trioksa menilai penempatan nama pada fasilitas transportasi umum sangat ampuh untuk memperkuat ingatan masyarakat terhadap merek sebuah bank. Efek ini akan semakin optimal apabila lokasi yang dipilih berada di kawasan strategis.
Tujuan dari penamaan ini tidak hanya terbatas pada pencarian konsumen baru. Skema ini juga berfungsi menjaga loyalitas dan rasa aman bagi masyarakat yang sudah menjadi nasabah eksisting.
Namun, Trioksa menambahkan bahwa strategi branding ini tampaknya masih akan didominasi oleh perbankan kelas atas yang didukung oleh ketersediaan modal yang besar.
"Dengan melihat nama bank di transum, dampaknya nasabah tetap familiar, percaya, dan membuat merek bank semakin melekat di masyarakat," kata Trioksa.