PT Bayu Buana Tbk memperluas jangkauan bisnis ke sektor hospitality melalui rencana akuisisi sebuah hotel di Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai upaya membangun sumber pertumbuhan baru pada Kamis (7/5/2026). Perusahaan agen perjalanan ini menyiapkan investasi senilai Rp100 miliar untuk mengelola properti dengan konsep boutique hotel di wilayah tersebut.
Dilansir dari Detik Travel, langkah ini diambil guna memperkuat ekosistem bisnis di luar jasa perjalanan inti yang selama ini dijalankan perusahaan. Direktur Utama PT Bayu Buana Tbk, Agustinus Kasjaya Pake Seko, menegaskan pentingnya diversifikasi usaha untuk jangka panjang.
"Ke depan kami tidak hanya fokus pada travel, tapi juga masuk ke hospitality untuk memperkuat ekosistem bisnis," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Manajemen memilih Makassar karena posisinya yang strategis sebagai pusat penghubung menuju wilayah Indonesia Timur serta tingkat keterisian kamar yang dinilai stabil sepanjang pekan. Perusahaan sengaja memilih konsep boutique hotel untuk menghindari persaingan harga yang seragam dengan properti lain.
"Memang hotel ini juga kalau tidak memiliki perbedaan yang signifikan, itu bisa masuk ke commodity trap ya. Nah begitu kami masuk ke bisnis ini, kami sudah punya konsepnya yaitu lebih ke boutique hotel. Jadi tidak bisa dengan gampang dibandingkan dengan properti lain. Nah biasanya properti yang masuk ke commodity trap ini biasanya there is no differentiation ya, antara satu properti dengan properti yang lain. Biasanya mereka akan masuk seperti itu," ujarnya.
Agustinus memperkirakan modal investasi tersebut akan kembali dalam jangka waktu delapan hingga sembilan tahun ke depan. Meski identitas hotel belum diungkapkan karena alasan kerahasiaan bisnis, pihak manajemen mulai menjajaki peluang ekspansi serupa di lokasi lain.
"Itu termasuk NDA," ujarnya sambil tertawa.
Terkait kinerja keuangan, Direktur Independen PT Bayu Buana Tbk, Hardy Karuniawan, melaporkan bahwa laba bersih perusahaan sepanjang tahun 2025 tumbuh menjadi Rp105,45 miliar dari sebelumnya Rp102,17 miliar. Namun, pendapatan pada kuartal I 2026 tercatat sebesar Rp554,72 miliar atau turun 13,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Penurunan ini dipengaruhi oleh perlambatan aktivitas bisnis serta tekanan eksternal seperti fluktuasi nilai tukar dan kenaikan biaya perjalanan," ujar Hardy.
Kondisi ekonomi global yang tidak pasti menyebabkan konsumen cenderung lebih selektif dan mempertimbangkan nilai lebih saat merencanakan perjalanan. Agustinus mencatat adanya perubahan perilaku pasar yang lebih mengedepankan aspek pengalaman di tengah naiknya biaya transportasi.
"Permintaan masih ada, tapi pertumbuhannya lebih moderat. Konsumen kini lebih berhati-hati dan mempertimbangkan value," kata Agustinus.
Guna menghadapi tantangan tahun 2026, perseroan berencana memperkuat transformasi digital dan mengembangkan produk perjalanan kategori premium. Strategi adaptif ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan pertumbuhan perusahaan di masa mendatang.
"Dengan fundamental yang kuat dan strategi yang adaptif, kami optimistis tetap bisa menjaga pertumbuhan berkelanjutan," ujar Agustinus.