Emiten perjalanan PT Bayu Buana Tbk. (BAYU) melakukan transformasi bisnis menyeluruh dan memperluas ekosistem pariwisata melalui investasi hospitality guna menghadapi tantangan industri pada Kamis (7/5/2026). Langkah ini diambil perusahaan untuk menjaga keberlanjutan usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global yang menekan daya beli wisatawan.
Dilansir dari Market, manajemen memproyeksikan sektor perjalanan tahun ini masih menghadapi gejolak akibat volatilitas nilai tukar dan persaingan platform digital. Sebagai respons, perusahaan mengalihkan fokus pada layanan premium, perjalanan berbasis pengalaman, serta penguatan manajemen destinasi di Bali.
Direktur Utama Bayu Buana Agustinus Pake Seko menjelaskan bahwa strategi perseroan saat ini melampaui sekadar pemulihan dari dampak kondisi geopolitik global yang tidak menentu.
"Industri perjalanan tengah berevolusi secara signifikan. Oleh karena itu, strategi kami di Bayu Buana tidak hanya berfokus pada pemulihan dari dampak kondisi geopolitik dan ekonomi global yang masih bergejolak, tetapi juga pada transformasi menyeluruh guna memastikan relevansi dan pertumbuhan jangka panjang," katanya, Kamis (7/5/2026).
Penyesuaian strategi ini tetap mengandalkan segmen manajemen perjalanan korporasi sebagai penopang utama pendapatan. BAYU mengoptimalkan layanan berbasis teknologi untuk mempertahankan kemitraan global di tengah tren perjalanan bisnis yang kini menjadi lebih terukur dan selektif.
Berdasarkan data keuangan tahun 2025, BAYU mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 3,48 persen secara tahunan menjadi Rp2,49 triliun. Meski pendapatan terkontraksi, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru tumbuh menjadi Rp105,45 miliar dari angka sebelumnya sebesar Rp102,17 miliar.
Efisiensi operasional dan fokus pada nilai pengalaman menjadi kunci perusahaan dalam menghadapi perilaku konsumen yang kini lebih mengutamakan fleksibilitas anggaran. Agustinus menegaskan bahwa target pertumbuhan pada tahun 2026 akan dilakukan secara moderat dengan mengedepankan aspek keberlanjutan.
"Di sini, kami melihat bahwa di 2026 pertumbuhannya mungkin lebih moderat dan lebih hati-hati. Kami fokusnya selalu ke fundamental untuk tetap sehat dan sustainable," katanya.
Selain memperkuat bisnis inti, BAYU mulai merambah sektor investasi perhotelan sebagai bagian dari integrasi ekosistem. Perseroan mengalokasikan dana belanja modal atau capex sebesar Rp100 miliar untuk mengakuisisi satu hotel di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan.
Pemilihan lokasi di Makassar didasari oleh potensi pasar korporasi yang besar di wilayah tersebut, terutama yang berkaitan dengan sektor pertambangan.
"Jadi kenapa di Makassar? Karena kami banyak klien korporat juga yang berlokasi di sana. Ada proyek tambang dan sebagainya. Jadi kami in-line," katanya.
Proses akuisisi hotel tersebut ditargetkan selesai sepenuhnya pada tahun ini. Fasilitas akomodasi baru tersebut direncanakan mulai beroperasi secara penuh di bawah manajemen perseroan pada tahun depan.