PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memperkuat komitmennya kepada para investor pada tahun 2026. Langkah ini diwujudkan melalui peningkatan dividend payout ratio (DPR) serta rencana pembagian dividen interim secara berkala setiap kuartal, seperti dikutip dari Stocksetup.
Kebijakan tersebut diambil sebagai terobosan baru dari pihak manajemen. Tujuannya adalah memberikan nilai tambah yang lebih tinggi bagi pemegang saham sekaligus menjaga daya tarik investasi pada sektor perbankan.
Keputusan ini menyusul persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) terkait penggunaan laba bersih tahun buku 2025. Dari total keuntungan bersih senilai Rp 57,5 triliun, perseroan menetapkan dividen tunai sebesar Rp 336 per saham dengan total nilai mencapai Rp 41,3 triliun.
Pencapaian tersebut membuat rasio pembagian dividen perusahaan untuk tahun buku 2025 melonjak hingga 72 persen. Angka ini mencatatkan kenaikan jika dibandingkan dengan periode tahun buku 2024 yang tertahan di posisi 67,4 persen.
Direktur BCA Vera Eve Lim menjelaskan bahwa peningkatan rasio tersebut menjadi bukti nyata kepedulian manajemen terhadap para pemegang saham.
"Baru saja kami membayar dividen, dengan payout ratio tahun ini 72%, meningkat dari tahun lalu 68%," ujarnya dalam paparan kinerja perusahaan.
Selain mendongkrak rasio pembayaran, emiten perbankan ini juga merombak skema penyaluran dividen. Jika sebelumnya dividen interim hanya diberikan sekali dalam setahun pada bulan Desember, maka mulai tahun 2026 sistemnya akan diubah menjadi per kuartal.
Pihak manajemen memproyeksikan pembagian dividen interim akan berlangsung pada kuartal II, kuartal III, dan kuartal IV tahun 2026. Sementara itu, untuk pembayaran pada kuartal I tetap dikategorikan sebagai dividen final yang penyelesaiannya telah dilakukan sebelumnya.
"Mulai tahun ini kami rencanakan pembagian dividen interim dilakukan setiap kuartal," jelas Vera.
Kendati demikian, manajemen menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai jadwal serta nominal dividen interim akan tetap disesuaikan. Faktor kinerja keuangan dan situasi bisnis mendatang menjadi pertimbangan utama.
Langkah taktis ini dipandang sebagai metode perusahaan untuk mempertahankan stabilitas imbal hasil bagi investor. Selain itu, kebijakan ini diharapkan mampu mempertebal keyakinan pasar terhadap prospek bisnis jangka panjang perseroan.
Di sisi lain, pergerakan saham BBCA sepanjang tahun 2026 masih berada dalam tekanan. Pada sesi perdagangan Kamis, 23 April 2026, harga saham perbankan ini ditutup melemah ke posisi 6.425, setelah mengalami penurunan sebesar 25 poin atau menyusut 0,39 persen dari hari sebelumnya.
Jika dikalkulasikan sejak awal tahun 2026 hingga saat ini secara year to date (ytd), pergerakan saham BBCA tercatat mengalami akumulasi pelemahan yang cukup dalam, yakni merosot hingga 1.600 poin atau jatuh sekitar 19,94 persen.